Citra negatif terhadap Islam

Saudara-saudara Kaum Muslimin yang insyaAllah dimuliakan oleh Allah

Segala puji dan sanjung senantiasa kita haturkan kehadirat-Nya Allah SWT. Yang dengan kekuasaanNya memperlihatkan ayat-ayat kebesaranNya di seluruh jagat raya ini, salah satu kebesaranNya adalah kita masih diberikan kesempatan waktu untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan termasuk pula kita diberikan kenikmatan berupa kesehatan yang ada saat ini. Namun yang lebih penting lagi adalah kenikmatan iman dan islam sehingga mendorong kita untuk melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Sudah selayaknyalah kita memuji dan memohon ampun kepadaNya.


Sudah kita ketahui bahwa umat islam saat ini mengalami cobaan yang berat, baik cobaan secara alami maupun buatan, cobaan-cobaan alami seperti bencana alam di berbagai tempat dan juga cobaan buatan diakibatkan ulah tangan-tangan manusia itu sendiri, yakni umat islam mengalami kemerosotan di segala bidang, baik dibidang ekonomi, bidang sosial, pendidikan, pertahanan dan kemanan, serta bidang politik.
Umat islam saat ini tidak bisa lagi melindungi dirinya sendiri, baik secara individu maupun secara entitas kelompok. Umat islam telah diserang secara fisik dan non-fisik. Dengan program saat ini tidak perlu lagi memurtadkan umat Islam namun lebih baik menjadikan umat islam jauh dari agamanya sendiri, atau menjadikan umat islam tidak lagi memegang teguh ajaran-ajaran Islam padahal sejatinya merupakan agamanya.

Berbagai macam berita juga seringkali menyudutkan umat islam, seringkali umat islam diposisikan sebagai subjek atau pelaku, padahal umat islam saat ini merupakan objek atau korban, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Salah satu contoh misalnya kita bisa lihat fenomena yang terjadi ada ini yaitu dengan mengidentikkan ajaran islam dengan ajaran radikalisme dan terorisme, sejenak kita bisa berfikir sesaat, apabila kita mendengar kata tersebut secara otomatis dalam otak kita terbesit bahwa yang namanya radikalisme dan terorisme pasti pelakunya adalah umat islam, bahkan kita bisa mendefenisikan bahwa pelaku tersebut adalah seseorang yang memakai kopiah, menggunakan sorban atau sarung, ditambah lagi embel-embel janggut di dagunya. Tidak lain tidak bukan umat islam selalu diidentikkan dengan kekerasan. Seseorang yang dikatakan radikal apabila terekam secara jelas melakukan tindak kekerasan, apabila agamanya adalah islam akan langsung dicap bahwa orang tersebut adalah teroris atau radikal, tanpa melihat latarbelakang peristiwa kejadian tersebut. Inilah akibat dari dampak langsung pengopinian negatif terhadap umat Islam.

Peran pemerintah yang sangat penting sebagai pelindung umat dan sebagai penjaga agama ini juga telah hilang, akibatnya di tengah-tengah masyarakat terbentuk pikiran-pikiran negatif, berprasangka buruk terhadap sesama umat islam, saling curiga mencurigai, bahkan kajian-kajian keagamaan dihindari oleh orang tua untuk anak-anaknya, umat tidak bisa membedakan lagi yang mana Islam dan yang mana bukan Islam. Padahal sudah jelas-jelas dan nyata ada sekelompok yang menistakan agama ini namun masih tetap berkuasa untuk menyebarluaskan ajarannya.

Dampak lainnya adalah umat Islam semakin jauh dari nilai-nilai ajaran agamaNya, umat islam semakin terpojok dengan opininya tersebut tanpa ada respon yang positif. Alquran dan Sunnah bukan lagi pedoman hidup, akibatnya syariat islam kita tidak lagi menjadi sandaran dalam perbuatan.

Orang tua lebih senang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri dibandingkan sekolah-sekolah agama atau pondok pesantren, karena dianggap pondok pesantren merupakan para pencetak orang-orang yang radikal tadi. Orang tua juga lebih khawatir kalau anaknya tidak berprestasi di sekolah dibandingkan kemampuan anaknya dalam membaca Alquran atau tahu tidaknya tatacara sholat. Kursus-kursus untuk pelajaran di sekolah lebih penting daripada lembaga-lembaga TPA dan kajian-kajian keagaman di masjid, Orang tua lebih khawatir pekerjaan anaknya dibandingkan pemahaman agamanya dimasa yang akan datang. Padahal Allah telah mengingatkan kepada kita bagaimana kisah seorang hambaNya yang taat kepada Allah dan hal yang pertama kali diajarkan kepada anak-anaknya adalah perkara taat kepada Allah didalam QS Luqman 13 , begitu juga ajaran untuk menyeru kepada manusia agar mengerjakan yang baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar didalam QS Luqman 17.

Stigma negatif terhadap Islam sangat terasa sekali dalam pemberitaan media massa, termasuk media online. Misalnya : Seseorang diduga teroris hanya dikarenakan ditemukan tulisan arab gundul atau berpenampilan ala pondok pesantren di tempat umum.

Upaya mengaitkan radikal dan terorisme dengan ajaran yang mulia seperti jihad, hijrah dan dakwah memang gencar dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Padahal ajaran jihad dan dakwah adalah kewajiban yang diperintahkan Allah SWT, pemberitaan ini membuat umat islam menjadi kecewa dengan agamanya, dan semakin takut serta khawatir apabila mendengar kata jihad dan dakwah, bahkan sampai terbesit dalam benak kita untuk menjadi islam yang biasa-biasa saja, yang dalam arti tidak ada partisipasi pembelaan dan perjuangan atas kondisi umat islam saat ini, atau bahkan hanya memperlajari islam secukupnya padahal Rasul bersabda :

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ عَلَيْكُمْ شِرَارُكُمْ فَيَدْعُوْا خِيَارُكُمْ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَهُمْ

Hendaklah kalian benar-benar menyuruh perbuatan yang maruf dan benar-benar melarang perbuatan yang mungkar, atau (bila tidak kalian lakukan) Allah akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian berkuasa atas kalian semua (yang akibatnya banyak sekali kejahatan dan kemungkaran diperbuatnya) lalu orang-orang yang baik di antara kalian berdoa (agar kejahatan dan kemungkaran itu hilang) maka doa mereka (orang-orang baik itu) tidak diterima (HR Al Bazzar dan At Thabrani)

Hal ini berbeda sekali dengan para sahabat-sahabat Rasulullah ketika diseru untuk jihad dan dakwah, tidak ada satupun yang menunda apalagi menghindar, mereka segera menyambut seruan Allah dan rasulNya, begitu juga sepeninggal Rasulullah, umat islam tetap berupaya menyambut seruan dakwah dan jihad, seperti seruan Khalifah Abu Bakar untuk memerangi sekelompok umat yang tidak mau membayar zakat, atau seruan Khalifah-khalifah selanjutnya saat Tarikh bin Ziyath menaklukkan Spanyol atau Muhammad al-fatih membebaskan konstantinopel yang terjadi setelah 700 tahun wafatnya Raullullah. Mengapa umat terdahulu tidak khawatir dan takut? Karena mereka memahami dengan tepat kapan harus melakukan dakwah dan jihad, dan ini sejalan dengan seruan Allah
Di antaranya terdapat dalam surat an-Nisâ’:

اَ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ
فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (TQS. an-Nisâ’ [4]: 95)

Sudah seharusnya kita harus menjadi bagian dari umat yang berjuang untuk meluruskan pemahaman-pemahaman tersebut, dan kita harus berpartisipasi dalam dakwah ini. Jangan sampai kita dan keluarga kita juga terjebak dengan menghindarinya sebelum memahami lebih mendalam ajaran islam yang mulia ini.

Dalam rangka membentengi stigma negatif tersebut ada beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain pertama, dengan cara meningkatkan kesadaran kita dan anggota keluarga kita bahwa rasa takut yang terbesar adalah ketika melepaskan Islam sebagai pedoman hidup. Allah mengingatkan kita di dalam QS At-Tahrim 6.

Karena itu keluarga harus selalu membina para anggota keluarganya dengan berpegang teguh pada akidah dan syariat. Kedua, Menjadikan diri kita berpegang teguh pada kebenaran pemikiran Islam dan hukum-hukumnya dengan cara mempelajari Alquran dan as-Sunnah secara sungguh-sungguh serta menjadikannya pedoman dalam berperilaku. 

Ketiga, menjadikan diri kita dan keluarga kita sebagai keluarga yang menyampaikan kebenaran islam, memposisikan diri sebagai pengemban dakwah dengan tetap mengikuti metode Rasulullah yakni dakwah tanpa kekerasan. Dimana sejalan dengan seruan Allah

Dakwah tanpa kekerasan ini harus didukung dengan sikap kita yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Hal ini pula yang perlu dilakukan negara ini untuk bersikap tegas dan benar, yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil, tentu saja tidak lain harus bersandarkan kepada Islam. Dan InsyaAllah orang-orang mukmin pasti menang, dan orang-orang kafir pasti hancur.

Komentar

Postingan Populer