MENUJU MUSLIM SUKSES (Menjauhi Akhlaq-Akhlaq yang Buruk)

Pengantar

Sukses dapat diartikan sebagai keadaan tercapainya tujuan atau cita-cita. Lawannya adalah gagal, yaitu keadaan tidak tercapainya suatu tujuan atau cita-cita. Sukses di sini masih memiliki arti umum, dalam arti bisa bernilai benar atau salah, tergantung pada pandangan hidup yang mendasari perumusan tujuan dan standar yang digunakan untuk menilai suatu kesuksesan dan kegagalan.


Seorang perampok misalnya, dapat dikatakan sukses bila dia berhasil merampok barang yang telah ditargetkannya. Sementara seorang petani, dikatakan sukses bila berhasil melakukan panen dengan hasil yang sesuai dengan harapannya. 

Jadi, “sukses” tidak selamanya identik dengan “benar”. Bisa saja seseorang merasa sukses, namun sebenarnya dia tidak berada di atas kebenaran. Dengan kata lain, hakikatnya dia telah gagal.Yang harus dicari adalah kesuksesan yang sejati, yaitu kesuksesan yang berada dalam jalur kebenaran. Ini hanya terwujud bila seseorang mencapai suatu tujuan yang didasarkan pada pandangan hidup dan standar yang benar. 

Dan di samping itu, kesuksesan itu harus diraih dengan cara yang benar pula, bukan dengan sembarang cara. Kesuksesan yang diraih lewat jalan yang tidak benar, sebenarnya adalah kesuksesan yang semu dan palsu, bukan kesuksesan yang hakiki.

Demikian pula kiranya dengan umat islam. Tatkala seseorang ingin menjadi muslim yang sukses dalam hidupnya, maka pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah, apa tujuan dari hidupnya? Standar-standar serta indikator-indikator apa yang dipakai untuk mengukur tercapainya tujuan itu? Apakah tujuan itu sudah didasarkan pada pandangan hidup yang benar?

Antara Fakta dan Idealita

Dunia saat ini –termasuk Dunia Islam-- dicengkeram oleh ideologi kapitalisme, yang berasaskan ide sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Dengan demikian, seluruh aspek kehidupan termasuk juga pendidikan, akan terwarnai dan terpola oleh ideologi asing tersebut. Dalam sebuah sistem kehidupan yang menerapkan atau terpengaruh dengan ideologi ini, sistem pendidikan akan senantiasa bersifat sekuleristik. Pendidikan tidak akan memberikan ruang yang cukup bagi agama, sebab agama bukanlah sesuatu yang penting dalam kehidupan. Agama hanya mengatur hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, sementara hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti aspek politik, ekonomi, budaya, tidaklah diatur oleh agama.

Karena itu, dapat dilihat bahwa output sistem pendidikan seperti ini, hanya akan menjadi manusia yang pandai dalam ilmu pengetahuan, namun dangkal dalam pemahaman agama. Para alumnus sistem ini akan menjadi manusia yang sekuleristik, materialistik, oportunistik, dan individualistik. 

Dikatakan sekuleristik, karena dia akan meletakkan agama dalam posisi terbatas yang hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya. Sementara aspek interaksi sosial yang luas, dianggapnya tidak perlu diatur dengan agama. Bersifat materialistik, karena tujuan hidupnya hanya mengejar kesenangan duniawi semata, seperti harta benda, jabatan, dan sebagainya, namun lupa akan tujuan akhiratnya. 

Dikatakan oportunistik, karena cara dia mengukur segala tindakannya adalah berdasarkan manfaat belaka, atau untung rugi, bukan berdasarkan ketentuan halal-haram.Dan bersifat individualistik, karena dia akan menjadi orang yang hanya mementingkan diri sendiri, serta kurang menaruh kepedulian dan perhatian kepada orang lain. Memang manusia seperti ini akan bisa hidup, namun jelas bukan hidup yang benar.

Dalam sistem sekuleristik seperti ini, sukses tidaknya seorang muslim tentunya hanya akan diukur berdasarkan indikator-indikator duniawi semata yang kering dari sentuhan nilai dan norma agama. Muslim tetap dikatakan sukses setelah dia menyelesaikan sekolahnya, dengan nilai yang memuaskan, mendapatkan pekerjaan dalam waktu sekian tahun, meskipun dia dangkal atau bahkan bodoh dalam pemahaman agamanya. Apakah manusia seperti ini yang dikehendaki Islam? Cukupkah kesuksesan muslim hanya diukur dengan indikator-indikator keduniaan semata yang cenderung sekuleristik itu?

Sesungguhnya Islam telah menetapkan tujuan dalam sebuah proses pendidikan, yang hanya bisa dicapai bila sebuah sistem pendidikan didasarkan pada ideologi Islam, bukan ideologi kapitalisme seperti yang ada saat ini. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah terbentuknya kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) yang dibekali dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan (Lihat Muqaddimah Dustur, Taqiyyuddin An Nabhani, hal. 414). 

Memiliki kepribadian Islam, berarti seseorang mempunyai pola pikir (aqliyah) yang Islami, yaitu dia akan menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar untuk menilai segala pemikiran yang ada. Di samping itu, dia mempunyai pola jiwa/sikap (nafsiyah) yang Islami, yaitu mempunyai kecenderungan perasaan yang Islami dan memenuhi segala kebutuhannya dengan standar Syariat Islamiyah, baik kebutuhan jasmaninya (al hajat al ‘udlwiyah), seperti makan dan minum, maupun kebutuhan naluriahnya (al gharizah), yang meliputi naluri beragama (gharizah tadayyun), naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa’), dan naluri melangsungkan keturunan (gharizatun nau’), beserta segala penampakan (mazhahir) yang muncul dari ketiga naluri tersebut.

Adapun ilmu dan pengetahuan yang menjadi bekal hidup, adalah segala jenis ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat, seperti sains dan teknologi beserta segala macam ilmu cabang dan terapannya. Namun demikian, Aqidah Islamiyah harus dijadikan standar dalam hal pengambilan atau pengamalannya. Segala ilmu yang sesuai Aqidah Islamiyah saja yang boleh diambil dan diamalkan. Yang bertentangan dengan Aqidah Islamiyah haram untuk diambil dan diamalkan. Dari segi pengetahuan dan studi, Islam memang membolehkan segala macam ilmu, meskipun bertentangan dengan Islam. Tetapi dari segi pengambilan/pengamalan dan i’tiqad (keyakinan), Islam hanya membolehkan pengetahuan yang tidak bertentangan dengan Islam, bukan yang lain. (Ibid., hal. 413).

Dengan demikian, dapat diringkas bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan : 
1) Pembentukan kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah), dan 
2) Penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan. 

Dari sinilah seharusnya seorang muslim menetapkan indikator-indikator kesuksesannya, sebab dia bukan sekedar beridentitas manusia saja, tetapi juga seorang muslim. Identitas keislaman ini tentu tak boleh dia tanggalkan dalam segala kiprahnya di dunia, termasuk kiprahnya dalam menuntut ilmu.

Kiat Muslim Sukses

Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa seorang muslim muslim yang sukses dapat dicirikan dengan dengan 2 (dua) indikator : Pertama, Dimilikinya kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah), Kedua, Dikuasainya ilmu pengetahuan yang menjadi bidang studinya. Seorang muslim yang sukses, dengan demikian, adalah muslim yang berhasil memiliki kedua indikator tersebut secara bersamaan. Jadi muslim yang hanya menguasai pengetahuan yang menjadi objek studinya, namun dangkal dalam pemahaman Islamnya, hakikatnya adalah muslim yang gagal. (Meskipun menurut ukuran konvensional yang sekuleristik, dia adalah muslim yang “sukses” !)

Untuk memiliki kepribadian Islam, pada prinsipnya seorang muslim harus mempelajari Islam secara mendalam. Dia harus menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai landasan berpikirnya, yang dengannya dia dapat berpikir Islami dengan menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar untuk menilai segala pemikiran yang ada. Dia harus juga menjadikan Syariat Islamiyah –yang lahir dari Aqidah Islamiyah—sebagai standar untuk menetapkan kecenderungannya dan memenuhi segala kebutuhannya. Salah satu karakter muslim yang berkepribadian Islam, untuk konteks sekarang, adalah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat. 

Kondisi umat Islam di seluruh dunia yang kini dikuasai oleh ideologi kapitalisme yang kafir, harus membuatnya terhentak dan tersadar dengan keadaran yang penuh dan menyeluruh untuk turut serta dalam proses perubahan menuju kondisi yang Islami. Secara konkret, muslim yang peduli dengan keadaan umat itu akan mengindentifikasikan dirinya sebagai seorang pengemban dakwah (hamilud dakwah), sebab metode Islam untuk mengubah kondisi tak Islami menjadi Islami tak lain adalah dengan jalan mengemban dakwah Islamiyah (hamlud dakwah al islamiyah).

Selain itu ada akhlak-akhlak buruk yang harus dijauhi oleh umat islam, didalam kitab minmuqowwimat islamiyah paling tidak tercantum ada 30 macam akhlaq buruk yang harus dijauhi, namun yang berkenaan dengan penyakit hati antara lain:
  1. Al-hasud; mengharapkan hilangnya kenikmatan dari pemiliknya. Adapun mengharapkan seperti kenikmatan orang lain untuk dirinya maka disebut al-Gibthah, dan hal ini diperbolehkan. (TQS. An-Nisa : 54; TQS al-falaq: 5)
  2. Marah bukan karena Allah; Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasululah saw, “Berwasiatlah kepadaku wahai Rasulullah!” Rasulullah saw bersabda, “Jangan marah” Beliau berulang-ulang mengucapkan “Jangan marah”.
  3. Berprasangka buruk kepada kaum muslim (TQS. Al-hujurat 12)
  4. Bermuka dua
  5. Kikir (TQS at-Taghabun : 16; “Kekikiran dan keimanan selamanya tidak akan berkumpul pada hati seorang muslim” HR ahmad, Ibnu Hibban, dalam kitab shahihnya, dan al-hakim)
  6. Ingin dilihat dan ingin didengar (Riya dan Tasmi); Riya adalah menginginkan keridhaan manusia ketika bertaqarrub, didalamnya terjadi pengalihan tujuan dari perkataan atau perbuatan. Riya hanya dibatasi dalam hal taqarrub karena selain taqarrub tidak ada riya. Taqarrub bisa berupa aktivitas ibadah bisa juga yang lain. Sedangkan tasmi adalah menceritakan aktivitas taqarrub kepada manusia untuk memperoleh keridhaan manusia, perbedaan dengan riya, riya sebelum beramal sedangkan tasmi sesudah beramal.
  7. Takabur dan Ujub; “tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya tedapat kesombongan, sekalipun hanya sebesar biji sawi”. Seorang laki-laki berkata; “Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yang menyukai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus (bagaimana orang itu?)”, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan Allah mencitai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.”

Penutup

Kiranya menjadi muslim yang sukses memang merupakan dambaan. Namun sekali lagi perlu diperhatikan benar, apa indikator “kesuksesan” yang digunakan. Jangan sampai Anda merasa menjadi sukses, padahal sebenarnya gagal. Muslim muslim yang sukses adalah muslim berhasil meraih 2 (dua) hal sekaligus : Pertama, Menjadi muslim yang berkepribadian Islam, dan Kedua, Meraih kesuksesan secara pengetahuan umum. Selain itu, seorang muslim yang berkepribadian Islam juga dituntut untuk peduli terhadap keadaan umat, dengan jalan turut serta memikul tanggung jawab dakwah Islamiyah demi terwujudnya tatanan umat dan masyarakat yang Islami. [ ]
Oleh : Wandra Irvandi, S.Pd **

* Diambil dari makalah menuju mahasiswa muslim yang sukes, Ust.Siddiq al-Jawi
* Kitab Min muqowwimat Islamiyah (Nafsiyah Islamiyah)
** Mantan Ketua Umum Gema Pembebasan periode 2007-2008. Kini Mahasiswa S2 Matematika di UGM.

Komentar

Postingan Populer