Kesalahan-kesalahan yang berulang di bulan puasa

Hampir setiap tahun pada bulan puasa kesalahan-kesalahan yang sama terus dilakukan berulang-ulang. Bulan puasa adalah bulan ibadah jadi harus banyak ibadah, berarti bulan lain enggak dong? begitu komentar orang-orang. Apalagi katanya ibadah yang paling gampang adalah tidur, jadi tidur aja seharian. Komentar-komentar seperti inilah yang sering terlontarkan, sehingga “alim”nya saat bulan puasa saja bulan lain kembali lagi ke “habitat” asalnya.


Harapan kita puasa tahun ini jangan bikin kesalahan yang sama untuk tahun berikutnya. Karena pada bulan rahmat ini ibadah-ibadah 1 kebaikan akan dibalas dengan 70 kali. Orang yang mengerjakan amalan sunnah akan dibalas seperti amalan wajib. Sedangkan amalan wajib akan dibalas puluhan kali. Dan pada bulan ini juga diberi kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan pahala. Sedikit berbuat sudah berpahala. Cuma banyak orang berfikir ibadah pas bulan ramadhan doang.

Pengalaman yang sudah-sudah suasana sangat ramai sekali pada 10 hari pertama bulan ramadhan bahkan shaf-shaf mesjid tidak cukup lagi menampung jamah yang membludak (bahkan sudah diboking), begitu juga saat subuh (full house). Namun bagaimana pertengahan ramadhan nanti ya? Kemajuan? Iya shaf-shaf semakin maju kedepan artinya semakin sedikit yang taraweh, akan semakin sedikit yang subuh berjamaah, akan semakin sedikit yang tadarus dan bahkan mungkin semakin sedikit yang gak puasa? Hehehe bener gak ya? Yang namanya ibadah itu bukan musiman, kecuali yg sudah ditentukan. Tetapi prestasi ibadah yang seharusnya dipertahankan bukan musiman. Misalnya membaca Al-quran, menghatamkan alquran, tetapi bulan lain juga seharusnya mengejar membaca Al-quran dan menghatamkannya juga.

Masalah lain yang terus muncul tiap tahunnya adalah tentang menutup tempat hiburan, seperti café-café, diskotik, tempat hiburan malam, tempat esek-esek dan sebagainya. Ada yang beralasan tempat hiburan tutup dulu deh, apalagi bulan puasa, ntar buka lagi setelah bulan puasa artinya tetap ada dong Cuma tutup sementara aja. Malahan ada juga yang mengizinkan buka selepas sholat taraweh jadi ngasi kesempatan orang-orang taraweh dulu, wah yang ini mah gawat. Tapi ada juga yang beralasan kalau tutup sebulan puasa yah gak punya peghasilan dong, padahal tempat tersebut dibuka untuk ujian bagi yang berpuasa, masyaAllah ini lebih gawat.

Kalau dalam pandangan islam yah kalau gak melanggar hukum islam tidak apa-apa tempat hiburan tetap ada. Misalnya diskotik hiburannya nasyid, cewek dan cowoknya dipisah, menutup aurat, minumannya tidak ada mengandung alcohol. Atau menonton film, filmnya film kartun kalau film “telanjang” tentang film dokumenter flora dan fauna (nambah wawasan). Malam dibuka juga tidak apa-apa karena makan minum malam hari halal saat ramadhan, dan hiburan itu perkara mubah dalam prespektif islam. Tapi kalau hiburan malamnya yang melanggar syariat, jangankan bulan puasa yah bulan lain juga tidak boleh. Kalau berfikir sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) bulan puasa kita hormati bulan lain enggak, padahal setiap bulan aturan harus tetap berlaku.

Ada juga pahala ibadah puasanya hanya nahan lapar dan haus saja, tarawehnya kadang-kadang, kadang-kadang nongkrong, kadang–kadang ganggu yang taraweh (yah sama aja gak taraweh) atau taraweh bareng pacar, biar barokah. Puasa jalan, maksiat yang lain juga jalan, sambil menyelam lalu tenggelam. Kita jangan lupa dengan perkara yg membatalkan puasa atau yang mengurangi pahala, seperti bohong, berkelahi, memang tidak batal, tetapi pahalanya akan berkurang. Ketika akhir bulan saat gajian, malah gak dapat apa-apa bahkan bisa kena denda atau dosa. Daripada gitu mending gak puasa sekalian aja, yang seperti ini malah “double” dosanya, dosa gak puasa dan dosa maksiat.

Bagi yang masih berpacaran tetap aja tuh gak bosan gitu? Asmara subuh, asmara taraweh setiap tahun “always” selalu, apa kita gak malu dan takut sama Allah? Kayak gak butuh sorga dan gak butuh pahala aja. Hayooo yang masih pacaran? Hehehe…. Pasti bilang kami khan hanya pacaran gak zina? Wah ini yang harus dirubah, karena aktivitas pacaran saat ini isinya kebanyakan maksiat misalnya berdua-duaan tanpa muhrim, pegangan tangan, pelukan bahkan berciuman dan lebih dari itu naudzubillahminzalik semuanya ini bertentangan dengan syariat islam. Padahal kita diperintahkan untuk menjauhi zina, artinya mendekati zina aja dilarang apalagi lebih daripada itu.

Tayangan-tayangan islami juga bermuculan padahal kadang-kadang ada juga merusak ibadah. Kita berbicara prioritas mana yang lebih utama. Bicara masalah rating ini urusan stasiun tv, tingginya rating agar iklan masuk, ujung-ujungnya “fulus”. Bagus memang acara-acara stasiun tv cuma lebih banyak bermotifkan uang atau bisnis saja. Selepas ramadhan ustad-ustad yang dipake ceramah bakalan hilang lagi di bulan lain, acara-acara penambah keimanan juga akan hjilang seiring berakhirnya bulan ramadhan. Artinya negara dan bangsa kita masih dijajah oleh azas manfaat, asal ada duit maka ditayangkan bukan karena islam dan iman. Kalau tidak ada fulus yah say good bye. Maka dari itu peran pemerintah sangat besar untuk menanggulanginya.

Tujuan puasa adalah agar kita menjadi orang bertakwa. Artinya bulan puasa ini adalah masa “trend” untuk membiasakan diri dengan banyak-banyak ibadah agar terbiasa di bulan lain. Supaya tidak mengulangi kesalahan yg sama, mari kita jadikan bulan puasa ini menjadi bulan revolusioner, selain merevolusi diri pribadi, masyarakat dan juga negara. Mengapa negara juga iya? Karena negara memiliki kekuatan untuk mengeleminasikan kesalahan-kesalahan di atas. Negara yang mempunyai aturan untuk tempat-tempat hiburan, acara-acara stasiun TV dan juga negara berperan dalam pembinaan atau pendidikan bagi ummat agar tidak memiliki pemikiran yang menyimpang. Dan sudah seharusnya negara memiliki aturan-aturan dalam prespektif islam. Wallahualam

(Nb : My first time :))

Komentar

Postingan Populer