Diskusi kecil - 1
Beberapa minggu yang lalu saya menghadiri diskusi kebetulan saya diundang sebagai salah satu pemateri. Berbicara mengenai gerakan mahasiswa dari mulai sejarah dan rencana-rencana kedepannya. Tentu saja tema ini merupakan hal yang sangat penting. Paling tidak ada dua hal terkait dengan perubahan, pertama; untuk memiliki perubahan kita harus tahu dulu apa yang mau kita rubah? mengapa kita harus merubah hal tersebut? dan kita mempunyai alat-bahan (baca:konsep dan aplikasi) untuk merubahnya. Bagaimana mau merubah sesuatu sementara kita tidak memiliki penggantinya. kedua; keyakinan terhadap apa yang kita bawa untuk perubahan harus ada, kita mau memperjuangkan apa sementara diri kita tidak meyakini apa yang kita perjuangkan.
Tentu saja Ada beberapa pertanyaan dan masukan dari para peserta diskusi terkait apa yang sudah dipaparkan. Misalnya ada yang berpendapat bahwa setiap orang selalu ingin berkuasa atas yang lain, dan ada keinginan untuk memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Terkait pendapat ini memang tidak dapat dipungkiri kita sebagai manusia memiliki naluri-naluria, salah satunya adalah naluri ingin keberadaan kita diakui. Namun kita sebagai manusia harus juga menyadari bahwa fitrah kita sebagai makhluk ciptaan Allah jangan dihilangkan. Sang pencipta kita sudah memberikan petunjuk dalam rangka pemenuhan kebutuhan naluri kita, sehingga walaupun kita mempengaruhi orang lain, tapi yang kita lakukan harus berupaya menyesuaikan dengan petunjuk-petunjuk yang Allah berikan. Atau keinginan berkuasa itu akan ditutupi dan dibatasi oleh petunjuk dari Allah. InsyaAllah kekuasaan kita bukanlah sembarang kekuasaan. Dalam hal pemaksaan pendapat dapat dikatakan hanyalah sekedar asumsi dan sikap bagi orang yang tidak memiliki argumen, karena biasanya orang yang mengatakan "Anda memaksakan pendapat kepada saya", padahal yang disampaikan kepadanya boleh diterima dan boleh juga tidak dan tidakpula menggunakan ancaman atau kekuatan fisik dalam hal menyampaikan pendapat. Karena apa yang disampaikan adalah sesuatu hal yang tidak bisa ditolak oleh akal dengan adanya argumen dan alasan, ditambah lagi tidak ada bantahan balasan terhadap apa yang disampaikan. Sehingga satu-satunya jawaban adalah Anda terlalu memaksakan pendapat.
Disisi lain juga muncul pertanyaan sudah seharusnya perubahan itu kita kembalikan kepada jati diri bangsa, atau budaya asli Indonesia. Untuk menanggapi pertanyaan ini, saya bertanya balik? budaya asli indonesia itu seperti apa? apa tolak ukurnya? apakah saudara-saudara kita yang ada di Papua dengan menggunakan koteka merupakan budaya yang harus dirawat?. Budaya ada yang baik dan ada yang buruk, dan yang maha mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk tentu saja Allah, Dia-lah yang dapat menentukan sesuatu itu baik dan buruk. Sehingga apabila ada budaya yang itu bertentangan dengan petunjuk Allah tentu saja ini budaya yang buruk, dan harus kita tinggalkan dan bahkan dimusnahkan, sehingga saudara-saudara kita di Papua dapat mengenakan pakaian yang layak dan mendapatkan pelayanan hidup lainnya.
Diakhir diskusi saya menyampaikan, bahwa Islam adalah satu-satunya solusi yang harus diperjuangkan, tidak ada solusi lain, dan islam disini bukan hanya sekedar kegiatan ritual belaka tapi juga islam yang didalamnya tertuang berbagai aturan kehidupan untuk semua manusia baik itu muslim atau non-muslim. Dan seharusnya gerakan mahasiswa tau apa yang rusak dan apa penggantinya.
Wallahualam.


Komentar
Posting Komentar