Untuk Apa kita berubah?

Manusia tentu ingin berubah dengan harapan kualitas hidupnya meningkat dan meraih kesuksesan di dunia dan akhirat, dengan mengalami perubahan-perubahan terhadap dirinya kearah yang lebih baik dan bukan sebaliknya ke arah yang buruk. Namun yang perlu diukur adalah, baik-buruknya perubahan tersebut berdasarkan apa dulu?. Apakah karena banyak orang yang menyatakan sudah berubah dan merasa lebih baik dari sebelumnya padahal sejatinya tidak ada perubahan pada dirinya, palingan hanya tampak di permukaan saja, namun sama sekali tidak berdampak pada perubahan dalam dirinya.


Kembali ke pertanyaan, perubahan yang baik-buruk itu berdasarkan standar apa? Kalau mau jujur dan sadar seharusnya kita sebagai umat islam mau tidak mau harus menetapkan standar baik-buruk berdasarkan hukum syara’ yang muncul dari aqidah islam. Selama standar dan asas perubahan berdasarkan aqidah islam, maka hal itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Aqidah Islamiyah harus dijadikan standar dalam hal pengambilan atau pengamalannya. Segala ilmu yang sesuai Aqidah Islamiyah saja yang boleh diambil dan diamalkan. Yang bertentangan dengan Aqidah Islamiyah haram untuk diambil dan diamalkan. Dari segi pengetahuan dan studi, Islam memang membolehkan segala macam ilmu, meskipun bertentangan dengan Islam. Tetapi dari segi pengambilan/pengamalan dan i’tiqad (keyakinan), Islam hanya membolehkan pengetahuan yang tidak bertentangan dengan Islam, bukan yang lain.

Kita bisa menelaah diri sendiri, sudahkah perubahan ini berdasarkan kepada hukum syariah yang muncul dari aqidah islam atau bukan? Atau kita berubah hanya berdasarkan naluri dan mengikuti perasaan bahwa kita sudah berubah, seperti air yang mengalir.

Ada beberapa tolak ukur kita dalam perubahan, misalnya semakin dekat hubungan kita dengan Allah, ditandai dengan kualitas amal ibadah kita, dari perkara wajib-sunnah, menyedikitkan perbuatan mubah dan menghindari makruh serta tidak melakukan yang haram. Selain itu, kita juga memiliki cara berfikir yang cemerlang dan mendalam terhadap permasalahan, baik menyangkut urusan indvidu maupun urusan umat muslim lainnya, dari pemikiran tersebut juga mempengaruhi sikap dan tingkah laku kita dalam beraktivitas. Sehingga aktivitas sehari-hari kita sesuai dengan syara’, paling tidak kita tahu dulu apa status hukum perbuatan tersebut sebelum melakukannya.

Dan yang paling penting perubahan dilakukan bukanlah karena ingin dianggap berubah oleh orang lain, bukan pula mengharapkan pujian atau karena celaan dari manusia dan bukan pula karena sesuatu apapun melainkan perubahan yang hanya mengharapkan Ridho Allah semata. Sebagai rasa bentuk mengapa kita harus berubah adalah karena kita manusia yang tidak luput dari dosa dan dari maha kesempurnaan dan juga posisi kita sebagai makhluk ciptaan. Kesadaran sebagai makhluk Allah yang lemah ini adalah kunci untuk melakukan perubahan terus-menerus didalam diri ini, baik secara pemikiran, pemahaman dan tingkah laku.

Perubahan dapat dilihat dari pola pikir seseorang yang menjadi pemahaman dan menjadi tingkah laku/perbuatan berdasarkan hukum syara’ yang berasaskan aqidah islam. InsyaAllah perubahan yang dilakukan adalah perubahan yang hakiki. Penulis menyadari belum sepenuhnya memenuhi kriteria diatas dan masih banyak kekurangan, namun semoga tulisan ini memacu diri menjadi lebih baik dari hari kemarin dan semata-mata hanya karena Allah bukan karena pujian atau celaan manusia.

Komentar

Postingan Populer