Catatan Ramadhan tahun 2012 M / 1433 H

Tahun 2012 ini merupakan ramadhan yang sangat mengesankan. Selama 1 bulan penuh saya mendapatkan bulan Ramadhan di kota Jogjakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan di Indonesia diwarnai dengan perdebatan seputar hilal dan hisab, bukan hanya itu saja antara pendukung hilal dan hilal yang lain pun saling berpegang teguh dengan argumennya, baik dengan hilal tanpa matla atau dengan matla (baca:global). Bagi para penduduk jogja mayoritas suasana pendukung hisab dan keputusan pemerintah cukup menggambarkan kota tersebut. Khususnya di daerah tempat tinggal ku.
Akhirnya Ramadhan tahun ini ada dua waktu, yang pertama para pendukung hisab dan hilal matla memulai puasa pada hari jum’at 20 juli 2012, dan yang kedua, dikarenakan pemerintah tidak menemukan hilal di berbagai titik yang sudah ditetapkan, meskipun ada kesaksian melihat hilal di cakung namun kesaksian mereka tertolak secara prosedur maupun perhitungan berpuasa pada keesokan harinya yaitu hari sabtu, 21 Juli 2012.

Suasana ramadhan mulai terasa di berbagai sudut kota, dari ta’jilan (buka puasa bersama) yang ini gratisan dan banyak digemari para penghuni kos untuk pengehematan dana, hingga berbagai macam tausiyah dan ceramah menghiasi di berbagai masjid dan tempat, di mulai dari kuliah subuh, diskusi-diskusi di pagi hari atau siang hari, ceramah menjelang berbuka, kultum taraweh, dan berbagai macam acara lainnya. Kesempatan untuk beramal dan berinfak sebanyak-banyaknya juga tidak dilewatkan oleh kaum muslim di Jogja, dengan memanfaatkan bulan ini diharapkan limpahan pahala dan balasan dari Allah yang sangat besar tercurahkan kepada orang-orang yang berupaya tadi.

Selama bulan Ramadhan ada beberapa hal yang menjadi catatan penting yang perlu kita perhatikan agar semakin meningkatkan kualitas ibadah kita kedepan. Tidak hanya kualitas ibadah saja namun juga peningkatan pemahaman terhadap implementasi alquran dan hadis yang menjadi pedoman dalam kehidupan kita di dunia ini.

Pertama, mengenai perbedaan hari mulainya ramadhan dan pada akhir ramadhan. Perbedaan ini khususnya di Indonesia dimulai ketika kran-kran untuk para ulama bersuara dan berkomentar sudah sangat terbuka, di dukung semakin meningkatnya pemahaman umat semakin hari semakin menginginkan perubahan yang lebih baik lagi. Ketidaktepatan pemerintah dalam mengatur urusan umat menjadi point tambahan akan kepercayaan umat terhadap kinerja pemerintah dalam mengurusi kebutuhan umat, sehingga keputusan apapun yang dilakukan pemerintah semestinya memperhatikan aturan-aturan islam yang lebih kuat, bukan hanya sekedar politisasi kepentingan. Menghadirkan pemerintah yang satu tidak hanya untuk Indonesia namun di berbagai negeri muslim lainnya semakin diperlukan untuk mengatasi dan mengurangi berbagai prolematika yang ada.

Kedua, berbagai macam ceramah dan tausiyah di bulan Ramadhan kali ini mulai kembali menghadirkan kebutuhan syariah islam dan penyatuan negeri-negeri muslim di seluruh dunia, umat mulai memahami walaupun tidak seutuhnya. Opini syariah dan kesatuan negeri-negeri islam tidak hanya sekedar wacana namun sudah memasuki taraf bagaimana cara untuk mengimplementasikannya, dan bagaimana peran yang akan diambil oleh masing-masing keberadaan simpul-simpul umat untuk terlibat. Ke depan pemahanan ini harus terus dijaga dan ditingkatkan agar semakin menambah kualitas perjalanan penerapan hukum-hukum syairah di muka bumi ini.

Ketiga, beberapa nasehat penting pada bulan ramadhan kali ini antara lain adalah menjaga kesabaran, sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar dalam menjauhi segala laranganNya, dan sabar dalam berbagai hal terutama dakwah merupakan kunci meraih kemenangan. Ziarah atau saling bersilaturahmi adalah nasehat selanjutnya, bersilah ukhuwah, saling mengunjungi untuk menjalin kesatuan umat, menjaga persaudaran dan rasa memiliki izzatul islam dan kemuliaan agama, saling nasehat-menasehati bahwa umat islam adalah umat yang satu terutama kesatuan politik. Umat semakin paham bahwa mereka ini adalah satu kesatuan selama dinaungi satu institusi politik dan menjadi terpecah belah ketika dipisahkan oleh sekat-sekat nasionalisme. Infaq dan sedekah jangan sampai dilupakan, berupaya menjadi pedagang yang mengadakan transaksi denagan Allah SWT, tidak hanya sekedar harta saja, namun juga waktu, pikiran dan jiwa kita terutama dalam aktivitas dakwah.

Inilah beberapa catatan yang semoga menjadi bahan renungan di bulan-bulan berikutnya. Di penghujung ramadhan tahun ini khususnya di sekitar tempat tinggal saya, acara takbiran sangatlah unik, mungkin sudah kebiasaan penduduk sekitar, mereka berkumpul di masjid baik orang tua, remaja dan anak-anak untuk melakukan takbiran, yang sebelumya di laksanakan pawai lampu lampion keliling desa. Makanan ringan dan minuman teh hangat tersaji pasca takbiran, ada gorengan, kacang, dan kue-kue tradisional lainnya. Suasana keakraban dan kekeluargaan menyelimuti acara takbiran tersebut. Terpisahnya jamaah laki-laki dan perempuan sudah menandakan tradisi keislaman dari dulu sampai sekarang tidak akan pernah bertentangan dengan perkembangan sains dan teknologi. Para penduduk menyambut idul fitri dengan harapan menjadi pribadi-pribadi yang baru, yang senantiasa menyembah kepada Allah untuk selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, semoga hamba mu ini termasuk orang-orang yang beruntung. Amien ya Rabb…insyaAllah


Komentar

Postingan Populer