Palestina sebagai negara pengamat di PBB, Masalah atau Solusi?

Tanggal 29 November 2012 kemarin negara-negara anggota PBB, menyetujui peningkatan status keanggotaan Palestina sebagai negara pengamat di PBB dengan 138 suara setuju dan sembilan menentang.[1] Dulu masalah palestina adalah pembebasan palestina dikarenakan adanya perampasan tanah umat islam, dan Hasan Albanna pencetus 10.000 org utk berjihad utk mengusir israel namun digagalkan pemerintahan mesir saat itu dan menangkap para aktivis[2] dan termasuk pembunuhan terhadap Hasan Albanna.[3] Termasuk negeri-negeri arab, berusaha untuk mengusir Israel namun akhirnya negeri-negeri arab terpaksa menandatangani gencatan senjata yang diusulkan oleh Amerika dan PBB.[4]


Perjalanan selanjutnya setelah israel merdeka masalah palestina menjadi tuntutan kemerdekaan juga bagi palestina, semua orang menuntut palestina merdeka agar sama seperti Israel. Akhirnya pembentukan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) berupaya untuk mewujudkan hal tersebut. Sehingga masalah palestina menjadi masalah bangsa palestina sendiri bukan masalah umat islam.[5]
Tahun-tahun berikutnya negeri-negeri Arab dan Timur tengah menandatangani berbagai macam perjanjian dengan Israel, dari perjanjian Camp-David, perjanjian Wadi-Araba, hingga Arab Peace Initiative dengan Zionis Israel Pada 2002.[6] Secara langsung perjanjian-perjanjian ini mengindikasikan pengakuan terhadap negara Israel. Sementara Palestina sendiri mencari-cari pengakuan dari negara-negara lain, dan isu masalah palestina malah berkembang menjadi masalah kemanusiaan dan pengusiran pemukiman penduduknya pasca serangan besar Israel tahun 2008.

Tidak cukup diakui dari negara lain, salah satu upaya kedepannya adalah menjadikan palestina bagian dari PBB walaupun bukan anggota, dan hal ini sudah dicapai. Meningkatkan posisi palestina menjadi anggota mengalihkan perampokan sumberdaya alam oleh barat di negeri-negeri kaum muslim, juga penanaman ide asing di benak kaum muslim yang tidak disadari dikarenakan teralihkan pemikiran umat oleh isu Palestina ini.

Menjadi anggota PBB bukan serta merta menyelesaikan masalah, justru akan menghadapi masalah yang sama seperti negeri muslim lainnya, yaitu masalah kemiskinan, hukum yang tidak islami, demokrasi diterapkan, kisruh suku atau kelompok, dan akan menghadapai perjanjian-perjanjian dari barat seperti usulan duta besar AS di PB, Susan Rice.[7] Baru saja diakui di PBB, Israel menambah kembali pemukiman barunya dan lagi-lagi negeri-negeri islam lainnya hanya mengecam.[8] Belum lagi bentuk pemerintahan dan keamanan Palestina masih di tangan Israel.[9] Sementara PBB sendiri mandul dalam menyelesaikan keamanan di Palestina.
Akhirnya masalah utama umat betul-betul teralihkan, sehingga patut kita bertanya apakah perjuangan hasan albanna sudah mulai dilupakan yang awalnya untuk membebaskan palestina dan merampas kembali tanah umat islam? atau malah sengaja ditafsirkan berbeda?

wallahu'alam


[5] Dr.Fahmi Amhar, “Tinjauan Kritis Sejarah Komprehensif Palestina”

Komentar

Postingan Populer