Serangan Politik Barat dan Jebakan Demokrasi
oleh : Wandra Irvandi
Serangan Politik Barat
Dalam Demokrasi ada sebuah aktivitas yang digunakan sebagai proses
perubahan dan pergantian kepemimpinan agar tidak menjadi sistem yang otoriter
ataupun teokrasi. Karena memang sejak awal munculnya, demokrasi adalah
perlawanan dari sistem teokrasi dengan memecah kekuasaan agar tidak berada di
satu tangan saja, sehingga lahirlah 3 badan yang memegang kekuasaan yaitu legislatif,
eksekutif dan yudikatif. Intrumen atau alat pergantian itu salah satunya
dinamakan pemilu. Beberapa negara penganut demokrasi sudah sangat paham bahwa
pemilu adalah jalan untuk mengganti pemerintahan sebelumnya diantara ketiga
badan tersebut.
Umat islam sejak mengalami masa kemunduran, sedikit demi sedikit hilang
dalam benak mereka pemikiran-pemikiran islam yang bersih dari pemikiran asing. Dan
yang ada saat ini adalah pemikiran asing yang sudah sangat akut merasuki tubuh
umat islam, salah satu diantaranya adalah demokrasi. Dulu barat telah berupaya
untuk mengalahkan umat islam dengan berhadapan langsung (face to face), akan
tetapi selalu menemui kegagalan. Kalaupun berhasil, akan direbut kembali oleh
umat islam. Hal ini menyebabkan mereka berfikir keras, bagaimana caranya
mengalahkan umat islam? Akhirnya dengan mengirimkan agen-agen misionaris untuk
mempelajari bagaimana mengalahkan umat islam. Barat melihat bahwa akidah islam
mampu menumbuhkan kekuatan yang sangat besar
dalam diri kaum muslim. Dan mereka mulai melancarkan serangan pemikiran
guna menjebak umat islam agar jauh dari akidah islam. Serangan pemikiran atas
nama ilmu pengetahuan.
Sedikit demi sedikit, pemikiran
asing ditanamkan dalam benak umat islam, awalnya demokrasi bertentangan
dengan islam, segala hal dari barat semuanya haram, umat islam tidak mampu
membedakan mana yang boleh diambil dan yang mana tidak boleh diambil. Seiring berjalannya
waktu demokrasi tidak bertentangan dengan islam. Umat islam mengambil semuanya
dari barat. Akhirnya umat mulai menerapkan demokrasi, ada yang dengan paksaan secara
langsung tetapi ada juga dengan perlahan-lahan. Akhirnya opini tersebut berubah
lagi bahwa demokrasi berasal dari islam, bahkan semakin menjadi lebih parah
bahwa islam berasal dari demokrasi.
Begitulah upaya barat terus menerus menghembuskan pemikirannya
hingga diadopsi oleh umat islam. Tidak hanya sampai disitu, barat dengan
berbagai sarana yang samar juga mulai memecah belah umat islam, mengalihkan
permasalahan umat kepada permasalahan cabang. Umat disibukkan dengan
urusan-urusan lain, asalkan jauh dari kesibukan politik. Kalaupun umat islam
masuk dalam politik, tetapi politik yang diperjuangkan sejatinya adalah milik
barat dan disetir oleh barat.
Jebakan Demokrasi
Demokrasi adalah salah satu alat politik barat. Barat menggunakan
demokrasi untuk menjebak umat islam dalam bidang politik. Wawasan tentang
demokrasi sudah banyak dibahas oleh para ahli, dari tataran teori dan praktis. Namun
yang penting untuk dibahas, benarkah demokrasi dapat membawa perubahan bagi
umat islam? Terutama terhadap isu pemilu yang sedang akan dilalui oleh umat islam
khususnya di Indonesia.
Umat islam memang diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam
pemilu, dengan slogan – slogan islam ataupun dengan isu membawa ke arah
perubahan yang lebih baik. Opini yang disampaikan ke masyarakat islam antara
lain : “kalau umat islam tidak memilih maka nanti parlemen akan dikuasai orang
kafir, orang-orang sekuler, ataupun orang –orang liberal”, “memilih pemimpin
itu wajib siapapun pemimpinnya yang penting muslim”, “pilihlah yang mudhorotnya
lebih kecil”, “kalau tidak bisa merubah semua, minimal rubahlah yang kita bisa”,
“cukup dengan niat baik walaupun hasilnya tidak baik”, dan berbagai macam
argumentasi yang dikemukakan agar umat islam berpartisipasi aktif dalam pemilu,
bahkan ditambah pula dengan dalil-dalil syar’i ataupun berdasarkan fiqh
realitas.
Sesungguhnya demokrasi adalah pemikiran asing dari barat yang saat
ini di pimpin oleh Amerika, sengaja di hembuskan kepada umat islam, agar mereka
menguasai umat islam. Dan mereka menggunakan alat ini untuk menguasai secara
terus – menerus. Ada beberapa catatan untuk kita telaah, antara lain :
Pertama, barat dan antek – anteknya tidak akan pernah membiarkan
umat islam terjun ke politik, kalaupun masuk dalam ranah politik maka politik
islam akan dibatasi dan disetir oleh barat. Ketika umat islam mengikuti pemilu
dalam sistem demokrasi, maka peluang umat islam kalau tidak menang (sebagai
suara terbanyak) maka kalah (tetap dapat jabatan dengan suara kecil).
Bagi pemenang, maka hal yang pasti dilakukan umat islam adalah
berupaya merubah yang sudah ada. Tetapi, beberapa peristiwa cukup menjadi
pelajaran bagi kita. Di Aljazair umat islam memenangi pemilu dengan meraih
suara sekitar 54% dan mendapatkan 81% kursi di parlemen. Namun kemenangan FIS
di Aljazair tidak dikehendaki oleh militer, dikarenakan FIS membawa nuansa
islam. Akhirnya FIS di gulingkan oleh militer yang dikendalikan oleh barat. Kejadian
sama juga terjadi di Palestina. Hamas keluar sebagai pemenang pemilu, namun
lagi – lagi kemenangan tersebut di jegal oleh dunia internasional (diwakili barat),
yang bersama – sama memboikot kemenangan Hamas.
Kejadian Arab Spring, juga memicu perubahan di dunia arab, salah
satunya di Mesir. Muncul sebagai pemenang pemilu, bahkan menjadi orang nomor
satu di negeri yang memiliki salah satu kampus islam terbesar di dunia. Namun
pada akhirnya, Morsi dan Ikhwanul Muslimin juga digulingkan oleh kudeta dari
militer dengan cara yang amat keji dan berdarah - darah. Sekali lagi militer
tersebut juga dikendalikan barat. Barat dengan tepat menggunakan demokrasi
sebagai jalan menguasai umat islam.
Irak, Afganisthan, Pakistan dan sebagainya sebagai contoh bagaimana
barat memaksakan demokrasi untuk diterapkan di wilayah tersebut dengan berbagai
alasan untuk menyelamatkan dunia dari ancaman, dan menyebarkan isu bahwa
pemerintahan di sana otoriter kalau tidak diterapkan demokrasi. Bertolak belakang
sikap amerika dengan kerajaan Saudi, Kuwait, dan Bahrain yang tidak menggunakan
demokrasi, karena memang mereka semua sudah dikendalikan oleh barat.
Berbeda dengan AKP di Turki, telah berhasil meraih kemenangan mutlak dalam
pemilu, dan militer masih dikendalikan. Sehingga kedudukan penguasanya diberikan kesempatan untuk memimpin. Akan tetapi, sesungguhnya kebijakan - kebijakan di Turki yang
diwakili oleh Erdogan masih mengekor pada kebijakan Amerika dan barat yang
seharusnya mereka campakkan karena berasal dari partai yang bernuansa islam . Hal ini dilakukan karena memang untuk menjaga kekeuasaan
mereka dan berupaya merubah Turki secara perlahan – lahan. Cara perubahan
yang dilakukan adalah dengan proses islamisasi kehidupan di Turki, pelan –
pelan mereka menyusun UU yang islami, karena kalau secara langsung kejadian di
Aljazair atau di Mesir sudah dapat di lihat dampaknya. Termasuk upaya perubahan yang diakukan oleh partai Refah
pada masa lalu di Turki yang sudah dijegal oleh kalangan militer.
Akan tetapi upaya islamisasi tidaklah berjalan mulus, karena hal
itu justru semakin membuat umat islam semakin bingung dan kabur, mana yang
islam mana yang bukan. Selain itu proses islamisasi juga akan berjalan apabila
di restui oleh tuannya yaitu barat dan Amerika. Secara rill di Turki sebenarnya
juga di pengaruhi oleh militer, namun karena Erdogan masih sejalan dengan
kepentingan Amerika, maka pihak militer tetap menjaga kekuasaannya.
Kedua, bisa kita lihat bahwa kemenangan demokrasi tidak akan
membawa dampak apa – apa, artinya sama saja mau menang atau pun kalah, karena
umat islam selalu di jegal dan dihalangi. Namun ada point penting terkait
kekuasaan, yaitu keberadaan kalangan militer. Kekuatan militer di setiap negara
menjadi alat penjaga untuk kekuasaan. Hal ini menunjukkan bahwa yang berkuasa
dan memiliki kekuatan riil di tengah – tengah masyarakat adalah kalangan
militer. Dulu di Indonesia, Soeharto
dilengserkan oleh umat dan juga tidak bisa ditolak oleh militer,namun sayangnya
perubahan tersebut tidak mengarah kepada perubahan islam.
Sehingga semestinya perubahan juga harus melalui kalangan militer
dengan mengalihkan kepercayaan mereka dari barat kepada islam. Di zaman
Rasulullah mereka di sebut sebagai ahlul quwwah (orang – orang yang memiliki
kekuatan), dari tangan merekalah nusroh (pertolongan) itu diminta. Hal ini
sejalan dengan aktivitas Tholabun Nusroh yang seharusnya dilakukan oleh sebuah
kelompok atau partai dakwah. Merekalah yang nantinya bersama – sama dengan umat
untuk menjaga kekuasaan.
Ketiga, untuk mendapatkan nusroh, perlu dukungan dari umat, agar
umat mengetahui dan mau mendukung diperlukan dakwah. Dakwah juga dilakukan untuk
menjelaskan serangan – serangan barat, sekaligus menjelaskan jalan menuju
perubahan yang hakiki. Dengan dakwah pula, umat di ajak untuk berfikir, dan
melihat masalah utama umat, dengan dakwah juga dibangun kembali asas akidah
umat islam..
Maka Rasulullah tidak henti – hentinya melakukan dua aktivitas
tersebut, terus menyeru (berdakwah) dan mencari ahlu nusroh untuk menolong
dakwahnya. Hal ini sejalan dengan dakwah pemikiran di tengah – tengah masyarakat.
Masyarakat di berikan penjelasan agar memahami realitas sesungguhnya. Masyarakat
tidak hanya di berikan pilihan tetapi diberikan penjelasan, sehingga masyarakat
menjadi paham. Bukan meminta sesuatu dari masyarakat tanpa penjelasan lantas ditinggalkan, setelah
itu menyalahkan masyarakat. 5 tahun kemudian meminta lagi dukungan dan di
tinggalkan pula.
Bagi partai yang berslogan kan islam mungkin akan meraih kemenangan
dalam pemilu karena memang masyarakat masih memliki perasaan islam. Ada dua hal
yang bisa dilakukan oleh, merubah secara langsung dan siap di jegal oleh
militer atau merubah secara bertahap dengan proses islamisasi dan disetir oleh
barat. Begitu juga di Indonesia bisa jadi kita akan mengalami kondisi yang ada
di Mesir atau Turki.
Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu berkata, “Kedzholiman akan terus ada, bukan karena banyaknya
orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik”. Apakah perkataan Ali bin Abi Thalib diatas bisa
dijadikan dalil untuk membenarkan Demokrasi yang bathil? Apakah akan kita
gunakan perkataan Ali bin Abi Thalib untuk membenarkan sebuah kebathilan?
Perkataan Ali bin Abi Thalib yang benar digunakan untuk maksud yang tidak
benar. Sehingga tidak bisa di justifikasi untuk perkara mencoclos atau tidak
mencoblos.
Seharusnya pemahaman terhadap perkataan Ali bin
Abi Thalib adalah tidak bolehnya orang-orang berilmu berdiam diri untuk
menutupi kebathilan. Menutupi demokrasi dengan islam atau opini - opini barat berdasarkan islam.Atau tidak menjelaskan kebenaran sehingga orang-orang awam
jadi tertipu dengan nilai-nilai bathil yang coba dikemas, dibungkus, ditutupi
dengan warna-warna Islami. Begitulah seharusnya tanggung jawab orang yang
berilmu, bukan justru menjerumuskan masyarakat pada kebathilan.
Kesalahan terbesar kita hari ini adalah
tidak mempersiapkan diri dan umat Islam membangun kekuatan untuk menggantikan sistem
bathil yang menguasai kehidupan kaum muslimin. Namun berdakwah tanpa
arah dan tanpa orientasi yang jelas, sehingga membiarkan umat mengamalkan
nilai-nilai Islam diatas sebuah sistem bathil.
Wallahu’alam
Bahan Bacaan :
Taqiyuddin An-Nabhani, Daulah Islam, 2002, HTI Press
Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, 1985, LP3ES
Salim Fredericks, Invasi Politik dan Budaya, 2004, Pustaka Thariqul Izzah
Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, 2004, Al-Izzah
Bahan Bacaan :
Taqiyuddin An-Nabhani, Daulah Islam, 2002, HTI Press
Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, 1985, LP3ES
Salim Fredericks, Invasi Politik dan Budaya, 2004, Pustaka Thariqul Izzah
Abdul Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam, 2004, Al-Izzah


bahasanya perlu dikemas lg
BalasHapus