Merubah Masyarakat



Ada perbedaan yang mendasar antara merubah masyarakat dan merubah individu, karena apabila kita ingin merubah sesuatu tentu saja kita harus mendefenisikannya terlebih dahulu, agar tidak salah dalam menetapkan metode merubahnya, apa-apa saja yang dirubah. Sehingga kita harus mengetahui apa itu masyarakat dan apa juga yang dimaksud dengan individu.
Berikut beberapa defenisi tentang individu dan masyarakat :

1.             Didalam Kamus Bahasa Indonesia dikatakan masyarakat adalah 1) sekumpulan orang yg hidup bersama pd suatu tempat atau wilayah dng ikatan aturan tertentu; 2) segolongan orang-orang yg mempunyai kesamaan tertentu; (Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,2008, Hal: 924)

Dari pengertian tersebut ada yang perlu digaris bawahi yaitu sekumpulan orang, diikat dengan aturan tertentu dan punya kesamaan tertentu.

2.             Menurut Smith, Stanley dan Shores mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentatang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda. (Smith, Stanley, Shores, 1950, p. 5).

Dari pengertian tersebut di atas ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa masyarakat itu kelompok yang terorganisasi dan masyarakat itu suatu kelompok yang berpikir tentang dirinya sendiri yang berbeda dengan kelompok yang lain. Oleh karena itu orang yang berjalan bersama-sama atau duduk bersama-sama yang tidak terorganisasi bukanlah masyarakat. Kelompok yang tidak berpikir tentang kelompoknya sebagai suatu kelompok bukanlah masyarakat.

3.             Znaniecki menyatakan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem yang meliputi unit biofisik para individu yang bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertentu selama periiode waktu tertentu dari suatu generasi. Dalam sosiology suatu masyarakat dibentuk hanya dalam kesejajaran kedudukan yang diterapkan dalam suatu organisasi. (F Znaniecki, 1950, p. 145),

Jika kita bandingkan dua pendapat tersebut di atas tampak bahwa pendapat Znaniecki tersebut memunculkan unsur baru dalam pengertian masyarakat yaitu masyarakat itu suatu kelompok yang telah bertempat tinggal pada suatu daerah tertentu dalam lingkungan geografis tertentu dan kelompok itu merupakan suatu sistem biofisik. Oleh karena itu masyarakat bukanlah kelompok yang berkumpul secara mekanis akan tetapi berkumpul secara sistemik.

4.             Dari berbagai pendapat tersebut di atas maka W F Connell (1972, p. 68-69) menyimpulkan bahwa masyarakat adalah (1) suatu kelompok orang yang berpikir tentang diri mereka sendiri sebagai kelompok yang berbeda, diorganisasi, sebagai kelompok yang diorganisasi secara tetap untuk waktu yang lama dalam rintang kehidupan seseorang secara terbuka dan bekerja pada daerah geografls tertentu, (2) kelompok orang yang mencari penghidupan secara berkelompok, sampai turun temurun dan mensosialkan anggota anggotanya melalui pendidikan, (3) suatu ke orang yang mempunyai sistem kekerabatan yang terorganisasi yang mengikat anggota-anggotanya secara bersama dalam keselurühan yang terorganisasi.

5.             Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

Sedangkan pengertian individu sebagai berikut :

1.             Individu adalah orang seorang; pribadi orang (terpisah dr yg lain). (Kamus Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,2008, Hal: 551)

2.             Ada juga yang menyatakan individu berasal dari kata latin individuum yang artinya tidak terbagi. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.

3.             Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya,melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial yang bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lainnya. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada 3 kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya, kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga memengaruhi masyarakat (Hartomo, 2004: 64)

Dari defenisi masyarakat dan individu diatas dapat kita telaah perbedaan-perbedaannya :
 Ukuran
Masyarakat
Individu
1.    Jumlah
Sekumpulan orang
Hanya satu orang
2.    Kesamaan
Kesamaan antara orang-perorang terkait : perasaan, pemikiran dan sistem
Tidak ada hal yang disamakan karena hanya 1 orang (berdiri sendiri)
3. Hubungan interaksi dalam masyarakat
Terikat dengan sistem aturan, norma-norma dan moralitas
Tidak ada interaksi karena hanya 1 orang (berinteraksi dengan dirinya sendiri)
4.    Perubahan
Merubah dengan menyamakan perasaan, pemikiran dan sistem yang mengikat
Merubah dengan merubah pemikiran dan perasaan saja
5.    Hasil
Interaksi sosial yang baik – peradaban yang maju atau kebalikannya
akhlaq yang baik, pribadi yang positif dan menjadi insan mulia atau kebalikannya

Dari gambaran perbedaan di atas tentu saja aktivitas untuk merubah masyarakat dengan aktivitas merubah individu memiliki perbedaan. Merubah masyarakat berarti mewujudkan peradaban yang majemuk. Jadi, kurang tepat jika kita ingin merubah masyarakat hanya fokus pada perubahan individu saja tanpa merubah pemikiran dan peraturan yang mengikat mereka.

Upaya melakukan perubahan secara pemikiran dan peraturan tentu saja harus memahami, pemikiran dan peraturan yang rusak dan memahami pemikiran dan peraturan yang baik agar dapat menggantikan yang rusak. Selain itu, juga harus memiliki metode dalam melakukan perubahan pemikiran dan peraturan tersebut.

Sering terjadi perdebatan di antara masyarakat, dalam rangka mencari pemikiran-pemikiran yang baik, sampai kepada peraturan-peraturan yang baik. Namun jika urusan tersebut diserahkan kepada manusia tentu saja tidak bisa, karena secara mendasar sifat manusia sangatlah terbatas dan cenderung untuk kepentingan tertentu, jadi tidak mungkin manusia menyusun pemikiran dan peraturan yang baik dikarenakan keterbatasannya, yang ada hanyalah yang rusak. Manusia belum mampu hakikat dari segala sesuatu bernilai baik atau buruk. Sehingga sudah sepatutnya manusia menyadari bahwa aturan dan pemikiran dari yang menciptakan mereka sajalah yang baik. Termasuk metode melakukan perubahan tersebut.

Komentar

Postingan Populer