OSPEK Dalam Pandangan Islam

Sudah sering diselenggarakan, namun sepertinya melakukan kesalahan yang sama setiap kali diadakan. Kegiatan Pengenalan kehidupan kampus, khususnya bagi mahasiswa baru yang akan memasuki dunia akademisi. Kegiatan ini diberi nama kegiatan SPMB, PMB, OSCAMA, dan sebagainya, namun yang lebih sering terdengar dan familiar di telinga kita adalah Ospek. Seiring berjalannya waktu kegiatan ini menjadi rutinitas yang wajib diadakan, namun sayangnya pengenalan kehidupan kampus tersebut mengalami permasalahan-permasalahan dan ternyata sering terulang kembali seakan-akan kita tidak mau mengambil hikmah yang sudah terjadi. Ibarat seekor keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama. Sementara hasil akhir dari kegiatan tersebut jauh dari yang diharapkan.


Khusus di kota Pontianak, salah satu permasalahan yang baru saja terjadi yaitu bentrokan antar mahasiswa di universitas tanjungpura, walaupun kali ini antara dua fakultas yaitu fakultas hukum dan fakultas fisipol, namun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada fakultas yang lain.[i]
Apa sih Ospek itu?
Ospek atau yang dikenal sebagai Orientasi Pengenalan Kehidupan Kampus adalah sebuah wadah untuk memberikan kepada mahasiswa atau peserta didik baru mengenai kehidupan kampus, mereka dianggap belum tahu apa-apa karena baru saja menjejakkan kaki pertama kali. Selain itu untuk tujuan kegiatan Ospek adalah menjalin keakraban dengan kakak angkatan atau para senioren, mengenal para dosen, menumbuhkan rasa kebersamaan sesama teman satu angkatan baik di tingkat fakultas ataupun jurusannya masing-masing. Membentuk mental dan kedisiplinan mahasiswa juga dianggap sebagai salah satu alasan diadakannya Ospek tersebut.
Kegiatan seperti ini sudah ada sejak lama. Namun kasus-kasus mulai muncul sejak tahun 1995an. Bahkan kegiatan Ospek di lingkungan kampus diikuti juga dengan kegiatan MOSS (Masa Orientasi Siswa Sekolah) dari tingkat SMP dan SMA. Dan masalah yang muncul mulai beraneka macam dan sangat kompleks.
Islam memandang Ospek
Sebenarnya dari sisi tujuan diadakan Ospek tidak ada permasalahan, karena mengenalkan lingkungan baru kepada penghuni baru merupakan perkara yang diperbolehkan dan tidak ada larangan selama apa yang disampaikan tidak melanggar hukum syara’. Tetapi yang jadi permasalahan adalah implementasi dan proses penyampaiannya akan menjadi bermasalah jika banyak sekali melakukan pelanggaran dalam hukum islam. Hal ini disebut sebagai para pelaku kemaksiatan apabila melanggar hukum-hukum syara’.
Kegiatan Ospek lebih banyak menekankan adanya aktivitas antara pria dan wanita. Padahal Islam telah membatasi hubungan antara pria dan wanita, diantaranya adalah

(1) Mendudukkan pandangan. Allah Swt berfirman di dalam Alqur’an Surah An-Nur ayat 30-31 : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…”.

Kita bisa lihat aktivitas Ospek yang terjadi saat ini, ada diantara para panitia laki-laki yang memandang juniornya perempuan, dan juga yang perempuan memandang laki-laki. Dan juga sebaliknya. Tentu saja di balik pandangan tersebut akan memunculkan naluri yang ada pada diri manusia. Jikalau hal ini terjadi, tentu saja kegiatan Ospek akan membawa kearah aktivitas yang haram, minimal sudah masuk dalam bayang-bayang dan niat.

(2) Islam memerintahkan kepada kaum laki-laki dan kaum perempuan untuk menutup aurat secara sempurna. Khusus pakaian wanita yakni pakaian yang menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah di dalam Alqur’an Surah An-Nur ayat 31 dan Surah Al-ahzab ayat 59.

Pada saat kegiatan Ospek tidak jarang kalau seringnya para peserta di suruh untuk membuka aurat. Kita ambil contoh bagi para peserta laki-laki disuruh membuka baju hingga kelihatan pusarnya. Hal ini tentu saja tidak diperbolehkan. Sementara bagi para wanita, rambut harus dikepang, atau menggunakan pakaian yang harus sama dengan peserta yang lain agar kelihatan kompak. Bagaimana mungkin kegiatan Ospek dapat mendidik mahasiswa baru, sementara yang diajarkan untuk melakukan pelanggaran syari’at.

(3) Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus komunitas wanita terpisah dari komunitas pria; begitu juga di dalam masjid, di sekolah, dan lain sebagainya. Artinya, islam telah menetapkan bahwa wanita hendaknya hidup di tengah-tengah kaum wanita, sementara seorang pria hendaknya hidup di tengah-tengah kaum pria. Artinya antara laki-laki dan wanita dilarang untuk campur baur (ikhtilat) dan tidak boleh ada interaksi antara pria dan wanita kecuali dalam perkara-perkara yang diringankan dan dibolehkan oleh syara’ misalnya dalam ibadah haji dan jual beli.

Didalam kegiatan Ospek, tentu saja sangat sulit menghindari yang namanya ikhtilat dan adanya interaksi antar pria dan wanita. Perkara inilah yang kadangkala menyebabkan terjadinya tindakan pelecehan seksual, atau kasus-kasus lain saat Ospek terjadi.

(4) Islam juga menjaga agar antara kaum muslimin tidak boleh saling mengolok-ngolok atau mengatai-ngatai atau memanggil dengan panggilan buruk. Allah berfirman dalam Alqur’an Surah Al-Hujurat : “Hai orang-orang yang beriman, jangan lah kamu mengolok-ngolok kaum yang lain [karena] boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik dari mereka [yang mengolok-ngolok] dan jangan pula kaum wanita [mengolok-ngolok] wanita lain [karena] boleh jadi wanita yang [diperolok-olok] lebih baik dari wanita [yang memperolok-olok] dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan lah kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk-buruk. Seburuk-buruk panggilan [ialah] panggilan yang buruk seesudah beriman dan barang siapa yang tidak bertoba, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
Pada saat mahasiswa baru mengikuti kegiatan Ospek, biasanya mereka mendapatkan panggilan atau gelar yang diberikan oleh para senior dan panitia. Bahkan kadang ada suatu peristiwa yang itu menjadi bahan tertawaan bersama di muka umum. Hal ini tentu saja islam melarang dan menyuruh agar orang yang melakukannya segera bertobat. Rasul juga bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”. Apalagi jika ada kegiatan Ospek yang sampai menggunakan aktivitas fisik hingga menghilangkan jiwa seseorang.
Bagaimana seharusnya?
Lantas bagaimana kegiatan Ospek seharusnya dilaksanakan? Dengan melihat berbagai macam tujuannya, tentu saja untuk merubah seseorang dalam waktu yang singkat tidaklah memungkinkan. Berarti tujuan yang diucapkan oleh para panitia hanya sekedar tameng untuk dadakannya kegiatan tersebut. Metode perubahan prilaku dalam islam itu memang ada yang mendasar dan ada juga yang sifatnya parsial.
Perubahan yang mendasar tentu saja dengan menggali pemahaman aqliyahnya dalam memandangi kehidupan. Hal ini bisa saja dilakukan dengan singkat, namun perlu metode yang tepat. Selanjutnya pada perubahan yang sifatnya parsial, mahasiswa perlu mengikuti proses pembinaan. Pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang benar bukan hanya sekedar doktrin dan paksaan. Pembinaan yang benar adalah pembinaan pemikiran dengan merubah cara berfikir, karena dari berfikir seseorang akan memahami sesuatu, dari pemahaman akan melahirkan prilaku dan kebiasaan, sehingga akan terciptalah kepribadian islam.
Di sisi lain untuk mengenalkan kehidupan kampus, mengadakan kegiatan yang bersifat penyampaian informasi dan pelayanan kepada mahasiswa seharusnya lebih dikedepankan. Menampilkan prestasi akademik maupun non-akademik bisa juga dijadikan salah satu contoh dan acuan dalam menapaki kehidupan kampus. Berbagai event dan perlombaan dalam rangka membentuk kompetisi yang membangun justru harus diperbanyak untuk menumbuhkan budaya mengimplementasikan ilmu.

Komentar

Postingan Populer