Perbandingan Tsaqofah islam dan Barat

Komparasi antara tsaqofah islam dengan barat (tsaqofah asing) sudah sangat jelas dari asasnya yang masing-masing terpancar dari aqidah tertentu. Islam dari aqidah yang benar dan barat dari aqidah sekular yang salah. Namun makalah ini akan membandingkan dari beberapa segi yakni kedudukan ilmu, falsafah ilmu, dan profil penuntut ilmu.


Kedudukan ilmu

Di saat eropa pada zaman era kegelapan (The dark age) pada abad pertengahan, tingkat buta huruf penduduknya adalah 95%, merupakan fakta yang mengerikan.[1] Tetapi itu lah Eropa pada abad 9 – 12 M. Bahkan sang kaisar Karl dari Aachen masih berusaha mempelajari keterampilan yang sangat langka tersebut.  Biara-biara hanya sedikit pendeta yang dapat membaca. Di saat yang sama jutaan anak di desa dan di kota Daulah Khilafah duduk di atas karpet dan mengeja huruf-huruf Al-qur’an, menulisnya dan menghafalnya. Lalu mempelajari gramatika Bahasa Arab dan menulis sampai dengan mengarang sebuah kitab (baca:buku).[2]

Untuk kitab suci, hanya pendeta yang memiliki akses, membaca dan mengerti bahasa kitab suci. Bahkan para pengkhutbah dengan bahasa latin sudah sangat sulit di mengerti orang kebanyakan, yang menikmati sekolah hanya beberapa para rohaniawan. Hal ini berbeda dengan daulah khilafah. Anak-anak semua kelas sosial mengunjungi pendidikan dasar, dengan biaya yang terjangkau. Di berbagai tempat banyak sekolah gratis, misalnya Cordoba – Spanyol, selain 80 sekolah umum yang di dirikan al-Hakam-II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus untuk anak-anak miskin. Di Kairo-Mesir, alMansur Qalawun mendirikan sekolah untuk anak yatim, dan menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup dan satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas. Bahkan untuk orang-orang Badui yang berpindah-pindah, dikirim guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti muridnya.[3]

Dari paparan di atas bisa dilihat bahwa, sudah menjadi tradisi Barat menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai previlege untuk kalangan tertentu saja. Tidak jauh berbeda dengan saat ini, kalau dulu gereja berperan menghargai ilmu, sementara di luar lingkup gereja merasa kesulitan. Saat ini perdagangan bebas yang menghargai ilmu, untuk kelas bawah merasa kesulitan. Sedangkan Islam memiliki cara yang khas dalam menghargai ilmu, bukan dengan memberikan harga. Tapi islam memuliakan ilmu pengetahuan sebagai saudara kembarnya iman, untuk membentuk kepribadian manusia. Setiap orang wajib menuntut ilmu baik pria maupun wanita.

TQS. Az-Zumar : 9
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“...Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"[4] Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat[5] yang dapat menerima pelajaran.[6]

TQS. Al-Mujadalah : 11
  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“(Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, "Berlapang-lapanglah[7] dalam majelis",[8] maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian.[9] Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kalian"[10], maka berdirilah[11] niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian[12] dan[13] orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.[14] Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Rasulullah juga bersabda :
ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga”[HR Muslim]

“Barangsiapa didatangi kematian dimana dia sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan islam, maka anatara dia dan para Nabi di surga adalah satu tingkat derajat [HR addarimi dan ibn sunni dengan sanad hasan]

Falsafah keilmuan

Falsafah ilmu pengetahuan merupakan cara pandang manusia terhadap ilmu pengetahuan yang dibagi menjadi 3 macam :
  1.          Falsafah epistmologi (bagaimana ilmu itu dibangun)
  2.          Falsafah ontologi (hakekat objek ilmu pengetahuan yaitu : manusia, alam dan kehidupan)
  3.          Falsafah aksiologi (sikap manusia dalam menggunakan ilmu)
    Ilmu yang sama dapat dipandang berbeda oleh orang yang berbeda dengan cara pandang yang berbeda (terutama dalam aspek ontologi dan aksiologi).

Tabel komparasi Falsafah Ilmu Pengetahuan[15]
Falsafah ilmu pengetahuan
Islam
Barat – Modern
Akidah
Tauhid
Sekuler
Atheis
epistimologi
Sumber ilmu secara umum
Fakta empirik dan wahyu
Fakta empirik

Sumber ilmu empirik netral (sains dan teknologi)
Fakta empirik
Fakta empirik

Sumber nilai bagi tsaqofah
Wahyu (alqruan – hadis)
Fakta empirik

Pandangan tentang keberadaan
Mengakui sesuatu yang empirik dan non-empirik jika terdapat dalil (baik fakta maupun wahyu)
Mengakui keberadan empirik tetapi meremehkan atau menolak keberadaan non-empirik

Pandangan tentang kemampuan akal
Terbatas pada fakta empirik, tidak bisa menjangkau nilai kehidupan
Dapat menjangkau yang empirik maupun nilai kehidupan manusia

Pembuktian kebenaran ilmu empirik
Pengamatan empirik
Pengamatan empirik

Pembuktian kebenaran nilai
Metode tasyri’ berdasarkan wahyu (Alquran – hadis)
Pengamatan empirik
Ontologi
Islam
Sekuler
Atheis

Dasar pemikiran
Alam merupakan ciptaan
Mereduksi peran Pencipta
Peniadaan peran pencipta

Pandangan tentang manusia, alam dan kehidupan
Ciptaan Allah, allah mengatur dan memelihara selama alam masih ada
Ciptaan Tuhan. Tuhan tidak mengatur dan memelihara setelah penciptaan
Bukan ciptaan Tuhan. Alam ada secara azali

Pandangan tentang hukum alam
Kemunculannya dari kehendak dan ilmu Allah dalam mengatur alam
Kemunculannya dari kehendak dan ilmu Tuhan hanya pada saat penciptaan
Hukum alam terbentuk bersama alam dengan sendirinya

Pandangan tentang kejadian empirik deterministik
Ditentukan Allah sebagai hukum sebab akibat (qadar Allah)
Dirancang tuhan hanya pada masa penciptaan
Akibat hukum alam semesta

Pandangan tentang kejadian empirik probabilistik
Ditetapkan allah, aturannya tidak diketahui manusia (qadha allah)
Semata-mata kejadian bersifat random
Semata-mata kejadian bersifat random

Hubungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kehendak Tuhan
Tidak pernah lepas dari qadha dan qadar allah
Memperluas kekuasaan manusia dan mereduksi kekuasaan Tuhan
Tidak ada hubungan

Pandangan tentang batasan kemampuan akal manusia
Sesuai dengan kehendak dan kemampuan manusia dan tidak bisa keluar dari qadha dan qadar Allah
Sesuai dengan kehendak dan batasan kemampuan manusia dan terikat hukum alam
Sesuai dengan kehendak dan batasan kemampuan manusia dan terikat hukum alam
Aksiologi
Islam
Sekuler
Atheis

Pandangan tentang pemanfaatan alam dan ilmu pengetahuan
Pemanfaatan alam dan ilmu pengetahuan terikat dengan aturan Allah
Antroposentris, manusia menentukan nilai sesuai dengan kepentingannya
Manusia dan alam sebagai sistem, interaksi alam dan manusia melahirkan kepentingan manusia

Keterikatan dengan firman Tuhan dalam aplikasi ilmu pengetahuan
Terikat dengan hukum syariat islam (firman Allah swt)
Tidak terikat firman Tuhan walaupun mengakui eksistensi Tuhan
Tidak terikat firman Tuhan karena tidak mengakui eksistensi Tuhan

Profil Intelektual

Oxford dan Cambridge adalah simbol penting pendidikan di Inggris. Oxbridge – begitu biasa disingkat- menjadi pusat riset dan teknologi yang menyangga peradaban Inggris dari abad ke abad. Banyak peraih Nobel penghargaan dari kedua tempat tersebut. Sementara Madinah merupakan kota pendidikan yang lebih daripada Oxbridge. Bukan karena fasilitas, tetapi karena pendidikan di Madinah menghasilkan peradaban yang menyatukan iman, ilmu, amal dan jihad.[16]

Di Oxbridge seorang profesor bisa sangat pakar dalam ilmu fisika atau filsafat etika, pada saat yang sama dia bisa saja seorang homoseks, pecandu alkohol, dan meremehkan gereja. Dia akan tetap dihormati karena penguasaan pengetahuannya. Di Madinah, jika seorang ilmuwan memisahkan akidah, maka keimanannya batal. Jika memisahkan akhlak dengan ilmu yang dikuasainya, maka akan tidak dianggap, bahkan seorang yang menjadi simpul sanad hadis, apabila ketahuan berdusta sekali saja, maka namanya tercatat sampai akhir zaman dalam kitab mustahalah hadis sebagai pendusta (kadzab) yang riwayatnya tidak valid. Apalagi melanggar hukum syara’ yang lain.[17]

Tradisi keilmuan islam kaya dengan contoh-contoh ulama yang sangat tinggi ilmunya dan sekaligus orang-orang yang memiliki tingkat ketakwaan yang juga tinggi. Imam syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Hanafi, Al-Ghazali, Ibn Taimiyah, untuk masa saat ini semisal Taqiyudin An-Nabhani, Syeikh Abu Rusthoh, Az-Zuhaili, Syeikh Ramadhan Al-Buthy dan sebagainya yang menjadi teladan bagi umat islam. Apabila ada orang yang berilmu tapi tidak menjalankan ilmunya maka ia akan dicap tidak adil, fasik secara otomatis akan tersisih dari tata sosial islam, karena ditolak kesaksian dan pemberitaannya diragukan.

Dalam sejarah Oxbridge jika terjadi pertentangan antara ilmu dan doktrin gereja, maka ketegangan tersebut akan reda ketika gereja “tahu diri” dan membatasi peran hanya di mimbar saja. Gereja harus sekuler (baca:memisahkan) dari ilmu, agar tidak dijauhkan masyarakat, bahkan inilah awal spesialisasi ilmu yang sempit. Sebaliknya di kota-kota islam, Madinah, Damaskus, Kairo, Baghdad para ilmuwan memetik mutiara ilmu yang banyak, yang terus menerus dijabarkan sampai saat ini. Bahkan ilmuwan-ilmuwan dulu dikenal luas memiliki penguasaan ilmu di berbagai bidang.[18]
Tabel Perbandingan Profil Intelektual[19]
No
Indikator
Islam
Barat Modern
1
Akidah
Tauhid
Sekuler-Atheis
2
Kepribadian
Islam
Sekuler/Komunis
3
Kecenderungan Akal
Tunduk pada wahyu, akal diberdayakan sesuai tuntunan wahyu
Memuja akal/ Rasio
4
Metode
Metode Rasional dan mampu menempatkan metode ilmiah pada tempatnya
Metode Ilmiah/ empirik, berfikir induktif, tidak mudah percaya kesimpulan, terpenjara pada teori-teori
5
Karakter pemikiran
Holistis, komprehensif, tapi mendalam (‘amiq)
Parsial kebidangan, mendalam di satu ranah ilmu
6
Kecenderungan pilihan identitas
Islam ideologis, bangga akan jati dirinya sebagai muslim
Universal yang mengarah ke plural, anti berbau sektarian (termasuk agama)
7
Keahlian / penguasaan ilmu
Multidisiplin, menguasai berbagai disiplin imu
Fokus hanya pada satu bidang saja
8
Kesadaran politik
Tinggi, identik dengan seorang pejuang (muharrik+mujahid)
a-politis, terbelenggu pada bidang keilmuannya
9
Kesalehan sosial
Sangat tinggi, penjaga kemaslahatan umat dan penerapan hukum syara’ di tengah masyarakat
Individualistik, pragmatis, terbelenggu oleh syarat-syarat akademik, orientasi gelar, prestide dan kesejahteraan

Walhasil sebagai intelektual muslim, maka harus memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, kesalehan sosial, dan keberanian dalam menegakkan amar makruf nahi munkar.

Sumber Rujukan :
1.       Adian Husaini. 2010. Pendidikan Islam Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab. Program Studi Pendidikan Islam. Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun. Bogor.
2.       Fika Komara. 2016. Menjadi Muslimah Negarawan. Sukoharjo : Granada Publisher.
4.       Jalaluddin Al-Mahalli, Jalaluddin As-Suyuti. 2007. Tafsir alquran al-azhim. Indonesia : Al-haramain.




[2] idem
[3] idem  
[4] tentu saja tidak, perihalnya sama dengan perbedaan antara orang yang alim dan orang yang jahil.
[5] artinya, man menerima nasihat
[6] yakni orang-orang yang mempunyai pikiran
[7] berluas-luaslah
[8] yaitu majelis tempat Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-majlis dalam bentuk mufrad
[9] di surga nanti
[10] untuk melakukan salat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal kebaikan
[11] menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya
[12] karena ketaatannya dalam hal tersebut
[13] Dia meninggikan pula
[14] di surga nanti
[15] Dr.Andang Widiharto. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dan Posisi Kaum Muslim. (Dalam Fika Komara. 2016. Menjadi Muslimah Negarawan. Sukoharjo : Granada Publisher)
[16] Fika Komara. 2016. Menjadi Muslimah Negarawan. Sukoharjo : Granada Publisher.
[17] idem
[18] Adian Husaini. 2010. Pendidikan Islam Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab. Program Studi Pendidikan Islam. Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun. Bogor.
[19] Fika Komara. 2011. Intelektual Muslim Sejati Di Era World Class University. (dalam Fika Komara. 2016. Menjadi Muslimah Negarawan. Sukoharjo : Granada Publisher)

Komentar

Postingan Populer