SEJARAH HUBUNGAN TURKI DAN ISRAEL

Turki tetap melanjutkan hubungan dagangnya dengan entitas yahudi meskipun ada ketidakpuasan rakyatnya.[1] Semua hubungan, terutama hubungan perdagangan masih terus berlanjut dengan cara dan ritme yang sama. 

Seandainya Erdogan memang peduli dengan urusan Palestina tentunya dia akan segera memutus semua hubungan antara Turki dan entitas Yahudi sebagai usaha minimal yang bisa dilakukannya. Namun ternyata bukan itu yang ia pilih. Erdogan justru menjalin hubungan dengan Amerika dan membuat perjanjian untuk menjaga eksistensi entitas Yahudi, serta berada di jalur orbit yang mengikut pada Amerika untuk tetap dapat meraih kekuasaan.

Hal itulah  yang terjadi pada pertemuannya dengan para pejabat Amerika ketika ia masih mengepalai kotamadya Istanbul. Erdogan sama sekali tidak berbuat apapun untuk mengubah sistem Turki menjadi sistem Islam, bahkan dia melakukan hal yang sebaliknya, dia memperkuat kemalisasi, demokrasi, dan sekulerisme

Tahun

Yang Berperan

Tujuan / Hasil

Tindakan

1917

Inggris menyiapkan Mustafa Kemal (seorang Yahudi Dönmeh)

Menghancurkan Khilafah

Kemal menjadi panglima pasukan Utsmani di Palestina. Mustafa Kemal pura-pura jatuh sakit dan tidak siap untuk melawan agresor Inggris, kemudian ia menyerahkan dirinya kepada Inggris pada musim gugur tahun 1917. Dan Inggris mengumumkan deklarasi Balfour kepada orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara bagi mereka di Palestina dan disahkan melalui Perjanjian Lausanne

1949

Turki

Mengakui Israel

Turki menjadi negara mayoritas Muslim pertama (sebelum Iran pada tahun 1950) pada bulan Maret yang mengakui Israel

1958

Pemerintahan Menderes

Pertemuan dengan PM Israel David Ben-Gurion

Menandatangani perjanjian kerja sama untuk melawan kelompok ekstrimis dan dominasi Uni Soviet di Timur Tengah

1996

Pemerintahan Erbakan

Memulai latihan militer gabungan dimulai, dan membeli senjata dari Yahudi

menandatangani sebanyak 11 perjanjian kerja sama keamanan, militer, dan ekonomi

2000

Pemerintahan Ecevit

Perdagangan Bebas

menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Turki-Israel

2005

Pemerintahan Erdogan

Mengunjungi Entitas Yahudi

Mengunjungi entitas Yahudi dengan memainkan peran sebagai perantara rekonsiliasi antara rezim Suriah dan entitas Yahudi

2010/2011

 

Mengurangi perwakilan diplomatik

Perwakilan diplomatik dikurangi setelah insiden kapal Mavi Marmara

2015

 

Membuka kembali hubungan

Kembali melakukan normalisasi hubungan dengan entitas Yahudi

2022

 

Menyambut tamu Yahudi

Hubungan diplomatik kembali merenggang sebagai akibat dari korespondensi antara Netanyahu dan Erdogan, namun hubungan keduanya menguat kembali ketika Menerima kepala entitas Yahudi, Herzog, seperti penyambutan kepada pahlawan dan kaisar.

2023

 

Berencana bertemu Netanyahu

Erdogan bertemu dengan Netanyahu di New York pada Juli 2023 dan bersepakat dengannya untuk mengunjungi entitas Yahudi. Ketika agresi di Gaza mulai meletus pada 8 Oktober 2023, ia membatalkan kunjungan tersebut namun keterwakilan diplomat tidak berkurang


Komentar

Postingan Populer