Refleksi

Kondisi umat islam saat ini, baik di tanah air maupun di banyak belahan dunia lainnya, yang masih jauh dari harapan. Contohnya, umat islam Indonesia yang seharusnya hidup sejahtera di bumi yang kaya raya, mayoritasnya justru hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Kasus busung lapar dan bencana alam dimana-mana, angka pengangguran yang terus meningkat, beban hutang luar negeri yang kian menjerat, biaya hidup yang terus melompat, adalah gambaran sekilas keadaan umat di berbagai tempat. Hal serupa juga kita dapati di banyak negara muslim lainnya seperti Irak, Palestina, Afganistan dan Pattani.


Semua ini terjadi karena umat islam berada dalam keadaan lemah tak berdaya, baik secara politik, militer, ekonomi, dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sehingga mudah sekali dipermainkan dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain. Kondisi ini, seolah-olah membenarkan prediksi Rasulullah 14 abad yang silam :

Akan datang suatu masa dimana bangsa-bangsa lain berkumpul menghadapi kalian sebagaimana hewan-hewan makan mengerumuti mangsanya. Mereka bertanya, "Apakah saat itu kami minoritas?" Rasulullah menjawab, "Tidak, pada saat itu kalian adalah mayoritas, tetapi kalian bagaikan buih (yang terombang-ambing) di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dari hati mush terhadap kalian dan menimpakan pada hati kalian penyakit wahn". Para sahabat bertanya, "Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?" beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (Hadits shahih riwayat Imam Abu Dawud (4297) dan Imam Ahmad (5/287) dari Tsaubah r.a. dan dishahihkan oleh al-Abani dengan dua jalannya tersebut dalam Ash-Shahihah (958))

Selain dua penyakit itu, umat Islam juga ternyata lemah dalam pemahaman agamanya. Lemanya pemahaman ini tidak terlepas dari lemahnya kita dalam menerapkan islam dalam kehidupan sehari-hari. Kita beribadah haji dengan aturan islam, shalat dengan aturan islam, menikah juga dengan aturan islam, tetapi kita tidak bekerja
dengan aturan islam, tidak mengelola hasil bumi kita dengan aturan islam, tidak mengatur ekonomi kita dengan aturan islam, tidak menerapkan nilai-nilai islam di luar rumah, di jalan, di tempat kerja, di laboratorium, di ruang-ruang publik kita. Ini lah penyebab lemahnya umat Islam. Akibatnya, umat Islam telah menjadi korban dari ketamakan dan kerakusan bangsa-bangsa lain yang lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih kompak.

Kita juga harus merenung sejenak dan memikirkan kembali, "Dari mana kita, hendak kemana kita. Mengapa dan untuk apa kita hidup sebagai individu, anggota keluarga, pegawai dan warga negara."

Pesan Nabi Muhammad yang disampaikan di Jabal Rahmah pada 14 abad yang silam :

"Wahai umat manusia! Ketahuilah bahwa setiap nyawa dan harta seorang muslim adalah suci, sesuci bulan dan tanah ini. Seorang muslim tidak boleh mengambil hak milik saudaranya tanpa izin darinya. Kemablikanlah harta yang diamanahkan pada kalian kepada berhak. Janganlah kamu menzalimi siapa pun, agar orang lain tidak menzalimi kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan bertemu Allah yang akan memperhitungkan segala perbuatanmu. Allah telah mengharamkan riba. Maka batalkanlah semua urusan yang melibatkan riba mulai sekarang.
Berwaspadalah terhadap setan demi keselamatan agamamu. Karena dia telah berputus asa untuk menyesatkanmu dalam perkara-perkara besar, maka berjagalah agar kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.
Wahai umat manusia! sebagaimana kamu mempunyai hak atas istrimu, mereka juga mempunyai hak atas kamu. Jika mereka menunaikan hak-mu, maka mereka berhak mendapatkan nafkah dalam suasana kasih sayang. Layanilah mereka dengan baik, dan berlemah lembutlah terhadap mereka, karena sesungguhnya mereka adalah teman hidup dan penolong setiamu. Adalah hak kamu melarang mereka untuk tidak selingkuh atau berzina.
Wahai umat manusia! Simaklah baik-baik pesanku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah shalat lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan keluarkanlah zakat. Kerjakanlah ibadah haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Kamu adalah sama. Semuanya berasal dari Nabi Adam a.s., dan Adam dari tanah. Tidak ada seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain kecuali dengan takwa dan amal saleh.
Ingatlah, bahwa kamu akan mengahdap Allah pada suatu hari untuk mempertanggunjawabkan apa-apa yang telah kamu kerjakan. Waspadalah agar kamu tidak keluar dari jalan kebenaran sepeninggalku.
Wahai umat manusia! Tidak ada lagi Nabi atau Rasul sesudahku dan tidak ada pula agama baru. Oleh karena itu, camkan dan pahamilah kata-kataku. Sesungguhnya aku tinggalkan bagimu dua pusaka. Sekiranya kamu berpegang pada dan mengikuti keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Al-Qur'an dan Sunnahku."

Komentar

Postingan Populer