Analisis Pemilukada KalBar 2012 (Peran ulama dan umat islam)
Pada bulan September 2012 ini, di Kalimantan
Barat akan melaksanakan pemilu untuk memilih Gubernur yang akan menjabat hingga
5 tahun yang akan datang periode 2012 – 2017. Calon-calon yang sudah ditetapkan
oleh KPU Kalbar adalah : (1) Drs.
Cornelis, M.H. & Drs. Christiandy Sanjaya, S.E., M.M., (2) H. Armyn Ali
Anyang & Ir. H. Fathan A. Rasyid, M. Ag. (3) H. Morkes Effendi, S.Pd., M.H.
&Ir. H. Burhanuddin A. Rasyid, dan (4) Drs. H. Abang Tambul Husin &
Pdt. Barnabas Simin, M.Pd.K. Menarik melihat pemilukada kali ini
dikarenakan upaya untuk menggoalkan kemenangan dari pihak-pihak tertentu tetap
ada, baik dari faktor agama, suku maupun partai politik tertentu.
Dari
calon-calon diatas nama Cornelis-Christiandy tidak asing lagi, beliau adalah
gubernur Kalbar saat ini, yang dipilih sejak 15 November
2007 dan dilantik oleh Mendagri Mardiyanto pada, 14 Januari 2008. Beliau
merupakan salah satu calon kuat untuk menjadi gubernur selanjutnya, terlepas
dari kontroversi yang ada pada diri beliau dari berbagai kasus dari korupsi
hingga kasus lain yang membawa citra negatif bagi dirinya atau keluarga, akan
tetapi kekuatan untuk meraih suara masih cukup diperhitungkan. Didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia
(PDI) dan partai pemenang pemilu di Indonesia yaitu Partai Demokrat, menjadikan
Cornelis calon kuat untuk kembali menjabat kursi nomor satu di Kalbar. Berdasarkan
hasil pemilu tahun 2009 PDI dan Demokrat merupakan peraih peringkat satu dan peringkat tiga dalam perolehan
suaranya, hanya Golkar pesaingnya yang menempati peringkat kedua[1].
Menariknya lagi berbagai macam upaya
kebijakan semasa beliau menjabat cukup menjanjikan bagi masyarakat Kalbar,
keberhasilan beliau terletak pada pembangunan infrastruktur, terutama
infrastruktur jalan yang sudah mulai di rasakan oleh masyarakat secara umum, perencanaan
pembangunan pelabuhan dan bandara di masa mendatang, ditambah dengan opini untuk menjaga Kalbar
menjadi wilayah yang aman dan terkendali merupakan point tambahan dalam berbagi
kebijakan yang sudah dan yang akan dilakukan. Program-program ini lah yang
menjadi senjata untuk meyakinkan hati para pemilihnya nanti.
Selain itu kekuatan dana yang
melimpah untuk melakukan kampanye dan kegiatan-kegiatan lain sangatlah
mendukung. Berdasarkan laporan kekayaan dari KPU Kalbar Cornelis-Christiandy
menempati peringkat satu dalam dana kampanye, bahkan apabila digabungkan dana
dari ketiga pasang calon lainnya masih belum mampu menandingi dana kampanye Cornelis-Christiandy [2]. Fakta lain upaya menyatukan suara dari sisi agama dan suku cukup
berhasil diperoleh, kalangan kristiani dan sebagian besar suku dayak maupun
tionghua sangat memberikan dukungan kepada kedua pasangan tersebut, tapi perlu
diingat bahwa pembicaraan suku dan agama sangat sensitif di kalbar, hal ini
perlu dijaga oleh semua pihak, kasus terakhir kisruh antara FPI dan beberapa
elemen di Kalbar menjadi pelajaran kesekian kalinya bagi masyarakat. Dari berbagai
macam faktor diatas untuk menjadikan beliau pemenang pemilukada ini sangatlah besar
dan memungkinkan.
Pasangan lainnya yang dianggap
penantang cornelis-christiandy dalam meraih suara terletak pada Armyn-Fathan dan Morkes-Burhanuddin. Kedua pasangan
ini dianggap mampu menjadi pesaing utama pasangan Cornelis-Christiandy. Upaya ini
dimulai ketika berbagai macam kelompok-kelompok ormas islam melakukan upaya
penyatuan suara umat khususnya umat islam agar menyatukan suara dalam memilih
pemimpin Kalbar, peran MUI Kalbar sangat mempengaruhi keadaan tersebut, namun
jangan lupa pemilukada sebelumnya peran MUI dan ulama dapat juga menjadi bumerang
melalui pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan.[3] Makanya menjadikan MUI
untuk netral dalam proses pemilukada saat ini terus diopinikan untuk tetap tidak memihak kepada salah satu calon dan tidak
boleh hanyut dalam kepentingan politik.[4]
Armyn-Fathan adalah pasangan calon yang di dukung PPP, PBB dan Hanura sangat diharapkan untuk mampu mendulang suara, sebagai partai pemenang suara dengan posisi empat pada pemilu 2009 lalu, PPP cukup menjanjikan, setelah sebelumnya pada pemilihan walikota PPP berhasil memenangkan Sutarmidji-Paryadi. Di Kalbar PPP sendiri memiliki basis massa dan suara yang cukup lumayan, namun untuk jalur karir politik sepertinya ini pertama kali bagi Armyn yang memiliki latar belakang militer. Mantan kepala staff Kodam Tanjungpura (2010) dan staff ahli Panglima Besar TNI (2011)[5] memilki rencana program dengan membawa keamanan yang kondusif bagi masyarakat kalbar. Wacana ini cukup baik sebagai program andalan dikarenkan berdasar pada pengalamannya. Namun dari sisi lain, Armyn-Fathan belum terlalu dikenal oleh sebagian besar masyarakat, terutama di daerah kabupaten-kabupaten lainnya.
Calon lainnya yang cukup memilki
pengaruh di Kalbar adalah Morkes-Burhanuddin. Kedua pasangan ini diusulkan oleh
beberapa parpol islam seperti PKS, PAN dan juga pesaing Demokrat dan PDI di
pemilu 2009 yaitu Golkar. Dengan pengalaman sebagai bupati dua periode di
Ketapang untuk morkes dan di Sambas bagi Burhan, sepertinya tidak melunturkan
nama keduanya walaupun sempat terkena kasus korupsi bagi Morkes sendiri.
Dukungan dari basis massa parpol islam seperti PKS dan PAN semakin membuat
kedua pasangan ini cukup kuat untuk memperoleh suara, melihat perkembangan
kedekatan keduanya dengan ulama pun gencar dilakukan. Terakhir FPI pun merapat ke
pasangan tersebut, ormas islam ini memberikan signal untuk mendukung kedua
pasangan morkes-burhan, walaupun belum ada pernyataan resmi dari FPI (hingga saat
tulisan ini ditulis).[6] Namun dengan adanya Armyn-Fathan di satu sisi, upaya umat islam
Kalbar untuk meraih satu suara akan kembali mengalami kegagalan seperti
sebelumnya.
Calon yang terakhir adalah Tambul-Barnabas,
Pasangan yang didukung Gerindra dan hampir sebagian besar partai-partai kecil merupakan
pasangan “kuda hitam”, apalagi dengan keberadaan barnabas sebagai tokoh suku
dayak yang cukup terkenal. Tambul sendiri adalah mantan Bupati Kapuas Hulu memiliki
pengalaman di daerah pedalaman, sehingga dapat menjadi pemecah suara Cornelis-Christiandy yang juga
dari tokoh dayak dan dikenal di pedalaman. Namun pasangan ini belum cukup dekat
di kalangan umat islam khususnya ulama, sehingga agak sedikit tertahan untuk
meraih suara dari kalangan islam.
Paling
tidak ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan gubernur kalbar tahun
2012 ini, antara lain :
- Penduduk Kalbar ; dari data penduduk Kalbar[7] menunjukkan bahwa, persaingan perolehan suara memang tidak bisa dilepaskan dari latar belakang agama dan suku, karena memang dari faktor inilah para calon gubernur akan meraih suara disamping peran dari parpol. Dilihat dari kemampuan para calon, pasangan Cornelis-Christiandy dan morkes-burhan merupakan calon kuat untuk menjadi gubernur, apabila kedua calon ini maju ke putaran kedua maka ada kemungkinan morkes-burhan yang menjadi gubernur. Lain halnya jika hanya satu putaran, maka bisa jadi kemenangan ada di cornelis, walaupun tambul-barnabas bisa jadi penghambat. Bagaimana dengan armyn? Kekurangan basis massa dari kalangan intelektual muslim ternyata tidak menghilangkan dari basis massa masyarakat awam, namun suara beliau terkendala di penduduk yang berada di pedalaman. Strategi dengan mendekat ke para pemuka tokoh agama dan suku merupakan strategi yang ampuh untuk meraih dukungan , hal inilah yang tampak pada Cornelis-Christiandy dan morkes-burhan.
- Partai politik; kekuatan PDI dan Demokrat di Kalbar sangat tidak diragukan, apabila di pandang dari sisi ini maka sudah bisa dipastikan Cornelis-christandy yang menang, sekali lagi tambul-barnabas menjadi penghambat, namun tidak signifikan. Tetapi Golkar dan PKS serta PAN bisa jadi lawan tangguh, walaupun ada PPP yang mencoba meraih suaranya. Strategi dengan memanfaatkan keberadaan parpol dengan basis massanya sangat diperlukan untuk meraih kemenangan.
- Penjabaran visi, misi dan program kerja; pengalaman dan kinerja masa lalu sangat berperan pada sisi ini, semua pasangan rata-rata pernah menjadi bupati kecuali armyn, sehingga cukup diperhitungkan antara ketiga calon lainnya yang akan memperebutkan suara. Cornelis sudah membuktikan ketika menjadi gubernur, namun morkes-burhan cukup berpengalaman pada dua periode meskipun hanya menjadi bupati.
- Opini media; dari sisi media memang media kita ketahui saat ini media dekat dengan pemerintah dan parpol, sehingga tentu saja keberadaan pemerintah dan parpol-parpol besar yang akan mendulang opini dari media.[8] Padahal media massa sangat berpengaruh pada politik, apalagi dalam pembentukan opini.
- Tokoh Agama dan Suku; pernyataan-pernyataan dari para pemuka agama dan para tokoh yang ada sangat mempengaruhi pemilukada, apalagi di Kalbar rentan sekali dengan isu SARA. Cornelis-christandy cukup berpengaruh dikalangan kristiani dan dayak begitu juga morkes-burhan di kalangan islam dan melayu, sehingga kedua pasangan ini akan mencoba kedekatan dengan para pemuka agama dan suku.
Di lihat
dari berbagai faktor diatas, persaingan ada pada cornelis-christandy dan
morkes-burhan, apabila cornelis-christandy mampu menang hanya dalam sekali
putaran maka pupuslah harapan morkes-burhan, lain halnya jika masuk pada
putaran kedua, ada kemungkinan gejolak politik yang berbeda, tentu saja persaingan akan menjadi lebih menghangat melebihi
foke vs jokowi di DKI Jakarta (hingga saat ini DKI belum memilih). Dengan memanfaatkan
kekuatan partai politik yang ada adalah upaya terakhir untuk meraih suara kemenangan,
karena parpol memiliki basis massa yang kuat selain tentunya dana kampanye. Dan ini dimiliki oleh
cornelis-christandy. Untuk morkes-burhan persaingan antar parpol islam di
kalbar cukup merepotkan dalam meraih suara yang satu.
Dengan
adanya deklarasi pilgub damai[9], yang dilakukan berbagai
elemen yang ada di Kalbar termasuk oleh para calon untuk meredam isu SARA
agaknya cukup membuat suasana tenang dan damai sementara waktu, tentu saja hal
ini diharapkan berlanjut hingga pemilukada berakhir. Pengalaman pada pemilkuda
sebelumnya, hal ini bisa diredam, walaupun sempat ada kabar-kabar miring yang
berupaya untuk memecah kalbar dan memunculkan bentrokkan antar penduduknya. Disinilah
peran para tokoh dan pemuka agama baru diperlukan agar dapat meredam berbagai aksi
anarkis. Kalau kita telaah padahal peran tokoh agama khususnya ulama dan umat islam
tidak hanya sekedar meredam aksi kekerasan saja, atau untuk penyatuan suara
dalam pemilu, tetapi yang sangat penting juga adalah dengan melakukan aktivitas
yang bertujuan untuk membangkitkan masyarakat khususnya umat islam itu sendiri.
Peran ulama dan umat islam
Lantas
bagaimana umat islam di Kalbar untuk membangkitkan masyarakat Kalbar? Akan berpihak
kemana dan melakukan apa saja guna membangkitkan masyarakat Kalbar dan menjadikan
umat islam sebagai pengayom umat agama lain serta bagaimana menjadikan islam sebagai
rahmatan lil ‘alamin di dunia bagi siapa saja tanpa memandang agama dan sukunya, terutama menjadi rahmat untuk umat islam itu sendiri di dunia dan akhirat.
Satu hal
yang dilupakan oleh umat islam saat ini adalah, bahwa untuk meraih perubahan
satu-satunya jalan adalah harus melalui mekanisme pemilu dengan mengangkat
seorang pemimpin tanpa peduli dengan sistem yang diterapkan. Kelupaannya terletak pada metode perubahan, padahal upaya
untuk meraih perubahan tidak cukup hanya dengan mengganti orang saja, namun
juga sistem yang membentuk masyarakat dan penduduknya sangat berperan. Karena ada metode lain untuk melakukan perubahan.
Adapun
cara lain dalam meraih perubahan adalah dengan membangkitkan pemikiran umat. Pemikiran
yang ideologislah diperlukan untuk menjadikan umat islam bangkit, pemikiran
ideologi ini meliputi fikroh (pemikiran) dan thoriqoh (metode)[10]. Kesadaran inilah yang
mendorong umat islam kembali ke pangkuan islam. Dengan melakukan aktivitas politik, yaitu
mengurusi urusan umat islam dengan menerapkan kembali hukum islam dalam urusan
dalam dan luar negeri.[11]
Sehingga
peran ulama dan umat islam dalam aktivitas politik adalah dengan memberikan pendidikan politik (politik : dalam arti
pengaturan urusan umat dengan aturan islam). Dengan kesadaran bahwa islam sebagai
solusi atas berbagai macam persoalan, hal inilah yang menjadi landasan aktivitas
politiknya, dengan demikian satu persatu masalah umat ini bisa diselesaikan dan
akhirnya uamt islam akan bangkit dan mengayomi umat yang lain. Ada beberapa hal
yang perlu dilakukan untuk meraih perubahan tersebut, antara lain;
Pertama,
umat ini harus membina diri dengan pembinaan islam yang benar, sehingga islam
akan mampu menjadi ideologinya dan nampak bagaimana ideologi tersebut
diterapkan. Sehingga akan mendotong keyakinannya untuk mewujudkan islam.
Kedua,
setelah tumbuh kesadaran islam yang benar dan kuat sebagai sebuah ideologi,
umat akan terdorong untuk memperjuangkannya. Tetapi harus disadari perjuangan
tidak bisa sendiri, melainkan dengan jamaah atau kelompok, nantinya jamaah dan
kelompok tersebut bersama-sama umat untuk memperjuangkan tegaknya islam.
Ketiga,
melakukan interaksi di tengah-tengah masyarakat untuk mendidik umat agar
bangkit dengan ideologi islam. Sebab kebangkitan selalu dimulai dengan
pemahaman. Penerapan hukum tidak akan pernah berhasil jika tidak dibarengi
dengan pemahaman dan kesadaran. Mendidik umat sampai sadar dan yakin pada ideology
yang akan diterapkan, sehingga mereka ridha diperintah dengan hukum dan
undang-undang tersebut dengan penuh ketaatan.
Keempat,
penerapan islam secara total oleh negara, yaitu dengan khilafah islamiyah.[12]
Disinilah
peran penting ulama dan umat islam untuk mendidik umat islam secara khusus dan
masyarakat pada umumnya. Bukan hanya sekedar netral dalam memilih nantinya,
tetapi lebih dari itu harus memilih aktivitas dengan melakukan pendidikan di
tengah-tengah umat untuk menerapkan islam. Mungkin akan banyak yang pesimis,
bahwa aktivitas ini terlalu besar dan jangka panjang, sedangkan yang dibutuhkan adalah solusi
saat ini dalam pemilukada. Memang untuk meraih perubahan dan kebangkitan kita
berbicara masa yang akan datang, akan tetapi jika tidak dimulai dari sekarang
kapan lagi? Berbicara untuk saat ini, maka untuk saat ini tingkatkanlah
pemahaman keislaman yang benar, mulailah membina diri dan membina umat, apakah pemilukada satu-satunya solusi atas permasalahan tidak adanya pemimpin yang islami? insyaAllah dengan pembinaan di tengah-tengah masyarakat yang dilakukan oleh para ulama dan umat islam secara keseluruhan, perubahan yang diinginkan akan didapatkan. Wallhu’alam.
note : analisis diatas bisa dimungkinkan tidak tepat, karena situasi politik bersifat fleksibel yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Catatan kaki :
[2]http://kalbar.kpu.go.id/component/content/article/64-pilgub-kalbar-2012/134-laporan-awal-dana-kampanye-pasangan-calon
NO URUT
|
NAMA PASANGAN CALON
|
TOTAL PENERIMAAN AWAL
DANA KAMPANYE
|
1
|
Drs. CORNELIS, M.H. & Drs. CHRISTIANDY SANJAYA, S.E., M.M.
|
Rp
8.521.000.000,-
|
2
|
H. ARMYN ALI ANYANG &
Ir. H. FATHAN A. RASYID, M. Ag.
|
Rp
2.150.000.000,-
|
3
|
H. MORKES EFFENDI,
S.Pd., M.H. & Ir. H. BURHANUDDIN A. RASYID
|
Rp
3.500.000.000,-
|
4
|
Drs. H. ABANG TAMBUL
HUSIN & Pdt. BARNABAS SIMIN, M.Pd.K.
|
Rp
1.801.000.000,-
|
[10] Baca
: wandra irvandi, “ umat islam sebagi umat yang terbaik” http://ivanacmblog.blogspot.com/2012/05/ummat-islam-sebagai-umat-yang-terbaik.html
[11] Baca
: wandra irvandi, “mewujudkan khoiru ummah dan kebangkitan” http://ivanacmblog.blogspot.com/2012/06/mewujudkan-khoiru-ummah-dan-kebangkitan.html
[12] Baca : “Islam Politik dan Spiritual” Hafidz Abdurrahman, WADI Press.


Komentar
Posting Komentar