Jangan coba-coba sistem lain
“Jangan coba-coba sistem lain” adalah kesimpulan pernyataan wakil presiden Indonesia Boediono dalam rangka kuliah umum yang beliau sampaikan di hadapan civitas akademika Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta, Kamis (23/12)(Kompas, Jumat 24 Desember 2010). Hadir juga rektor UIN Komaruddin Hidayat dan Dekan FISIP UIN Bachtiar Effendi. Pada hari yang sama pula Wapres juga didemo mahasiswa UIN.
Sistem politik yang cocok untuk Indonesia adalah demokrasi. “Tentu demokrasi di sini adalah yang dilaksanakan dengan benar. Bagi saya, demokrasi adalah sistem yang dapat memenuhi filsafat Manunggaling Kawulo Gusti, menyatunya kehendak rakyat dengan kehendak penguasa” paparnya. Contohnya demokrasi yang pernah dialami Perancis dengan kegagalam revolusinya sehingga memunculkan tokoh kuat, yaitu Napoleon Bonaparte. Selain itu, juga Romawi dengan kejayaan dan kemakmurannya. Akan tetapi, pada akhirnya runtuh dengan korupsi dan kejahatan-kejahatan lain di tingkat elite birokrasi. Komaruddin menyatakan dengan contoh-contoh demokrasi di Perancis dan Romawi, Wapres memberikan peringatan kepada bangsa Indonesia agar berhati-hati dengan kegagalan revolusi dan demokrasi di kedua negara itu.
“Namun harapan saya , contoh demokrasi di dua negara itu tidak akan lagi terjadi di Indonesia.....” paparnya. Karena Indonesia memiliki pengalaman demokrasi sejak merdeka tahun 1945 hingga zaman Bung Karno dan Soeharto.
Menarik untuk dibahas adalah, jangan coba-coba sistem lain? Kalau memang yang dinyatakan jalan terbaik bagi bangsa Indonesia ke depan adalah melanjutkan dan memperkuat sistem demokrasi yang telah dipilih sejak 12 tahun lalu, pertanyaannya apa dasarnya sehingga dapat kita katakan demokrasi jalan terbaik untuk Indonesia? Fakta sejarah setelah merdeka lebih dari 60 tahun, kita belum menemukan konsep demokrasi yang stabil, seringkali terjadi perubahan karena situasi dan kondisi seiring berjalannya waktu serta perkembangan teknologi. Sehingga muncul pertanyaan demokrasi yang mana?. Selain itu kondisi masyarakat Indonesia semakin memprihatinkan, dengan tingkat pengangguran yang tinggi, jurang kemiskinan semakin lebar, ditambah prilaku para penguasa dan pejabat jauh dari harapan serta para idola yang lepas dari moral dan etika.
Pertanyaan lainnya, apabila dikatakan jangan sampai demokrasi yang kita terapkan seperti negara Perancis dan Rowawi, negara mana yang sudah layak dikatakan negara yang demokrasi di dunia ini? Atau kita menciptakan demokrasi versi Indonesia yang belum menemukan kestabilan dengan kata-kata sabar dan masih butuh proses.
Paling tidak ada dua hal penting yang penting, pertama, kesalahan dalam melihat akar demokrasi. Kalau kita lihat sejarah demokrasi muncul karena atas dasar pemisahan kehidupan agama dan kehidupan masyarakat. Aturan masyarakat tidak bisa disatukan dengan aturan agama agar tidak muncul pertentangan. Demokrasi yang ada sekarang ini hanya dilihat kulit luarnya saja dalam bentuk kebebasan, transaparansi, hak asasi manusianya dan kekuatan suara rakyat sejalan dengan penguasa. Fakta selama ini, hampir tidak ada suara rakyat berperan dalam menentukan kebijakan yang diambil penguasa. Suara rakyat diangap terwakili oeh para wakilnya yang diutus oleh partai-partai. Apabila mau menyuarakan sesuatu lewat wakilnya, dapat memilih orang dan partainya. Permasalahannya adalah selama ini tidak ada partai yang sesuai dengan keinginan semua rakyat, sementara wakil rakyatnya tidak mungkin langsung membawa suara rakyat tanpa ada kepentingan partai. Sehingga otomatis suara rakyat tidak sepenuhnya dijadikan pedoman.
Selain itu sistem demokrasi mengutamakan suara rakyat dan menafikan keberadaan sang pencipta. Dengan semboyan suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat yang berhak menentukan sendiri jalannya melalui para wakilnya di tingkat penguasa untuk menelurkan kebijakan-kebijakan, dan dengan anggapan suara rakyat ini sudah sejalan dengan keinginan Tuhan. Sehingga standar benar-salah dalam mengeluarkan kebijakan berdasarkan pada suara rakyat tadi. Apabila di suatu wilayah, rakyatnya menginginkan lokalisasi tempat pelacuran harus diterapkan agar tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar lagi maka keluarlah kebijakan itu. Padalah sejatinya zina itu dilarang oleh sang pencipta yang sebenarnya, entah itu tanpa atau dengan adanya tempat lokalisasi. Belum lagi kebijakan-kebijakan lain terkait masalah sistem ekonomi dengan penerapan bunga bank sentral, kehidupan yang tidak ada batasnya antara laki-laki dan perempuan terkait sistem sosial, begitu juga sistem politik, sistem persanksian dan sebagainya.
Kedua : kesalahan dalam hal dengan cepat menyimpulkan demokrasi merupakan sistem terbaik dan tidak perlu melihat sistem lain lagi. Justru kalau kita mau menelaah lebih jauh, dengan membuang konsep pemisahan antara agama dan kehidupan, Sudah selayaknya lah kehidupan kita ini diatur oleh agama yang benar yang memuat sistem aturan yang benar pula. Dan agama yang memiliki sistem aturan kehidupan hanya agama Islam. Dan sistem tersebut tidak lain adalah sistem islam. Dalam sistem islam suara rakyat diletakkan pada posisinya dengan tepat. Suara rakyat harus tunduk pada aturan sang pencipta dalam situasi dan kondisi apapun. Benar-salah tidak lagi ditentukan oleh rakyat, namun dengan melihat hukum syara’ yang ada di dalam islam. Namun dalam hal kekuasaan tentu saja peran rakyat sangat vital untuk memilih penguasanya dalam rangka menjalan aturan/hukum syara’ yang sudah ditetapkan oleh sang pencpta. Sehingga kestabilan sistem ini dijamin akan tetap dan tidak akan lekang oleh perubahan waktu dan zaman. Apabila ada pemimpin yang melenceng dari hukum/ aturan yg ada, rakyat berhak untuk menurunkannya. Namun apabila pemimpinnya bersikukuh dengan kesalahannya, berarti sistem ini sudah tidak lagi diterapkan oleh penguasa tersebut.
Walhasil Sudah cukup kita bongkar-pasang sistem, trial-error sebuah kebijakan, gonta-ganti penguasa, selama sistem ini tidak diganti maka jangan pernah berharap akan ada perubahan, kita harus optimis memang, namun optimis kita haruslah rasional dan benar pula, jangan asal-asal optimis dengan mengatakan sistem yang ada sekarang ini adalah sistem yang terbaik. Cukuplah sistem Islam yang menjadi acuan, dan "Jangan coba-coba sistem lain". Wallahualam
Jogjakarta, 24 Desember 2010


Komentar
Posting Komentar