Sabar Menghadapi Cobaan

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. alBaqarah[2]:214)


Pernyataan pada ayat diatas sangat jelas dan Allah memberikan peringatanNya kepada kita, sudah seharusnya kita pertanyakan pada diri kita, apakah kita sudah memahami dan mengamalkannya? Setiap dari kita, ataupun golongan kaum manapun yang merasa dirinya adalah orang-orang beriman tentu saja akan diuji olehNya dan akan ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan dengan berbagai macam cobaan seperti halnya orang-orang terdahulu.

Realita yang digambarkan dalam ayat ini menunjukkan cobaan yang menimpa Rasul. Dan kaum Muslim itu benar-benar amat berat. Sedemikian dahsyatnya hingga dinyatakan: “...sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datang pertolongan Allah?...” artinya penderitaan, kesengsaraan, dan keguncangan jiwa yang mereka alami itu terus berlngsung sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah pertolongan Allah datang?”. Jika rasul dan para sahabatnya saja sudah tidak tersisa kesabarannya dan memohon disegerakan datangnya pertolongan Allah, berarti penderitaan dan cobaan yang mereka alami benar-benar pada titik paling puncak. (Fakhruddin al-Razi, al-Tafsir al-Kabir Aw Mafatih al Ghayb, dalam majalah Alwaie, September 2005)

Terhadap permohonan mereka, Allah pun berkenan menjawabnya : “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. Jawaban ini merupakan kabar gembira bagi Rasul dan kaum Mukmin. Dan memohon pertolongan kepada Allah ketika ditimpa musibah dan madharat bukanlah sesuatu hal yang dilarang, bahkan diperintahkanNya, termasuk pula untuk para Nabi dan Rasul, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS al-Nahl[16]: 53 “ Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”. 

Sudah menjadi sunnatullah pula, Allah tidak akan membiarkan hambaNya mengaku beriman tanpa diuji olehNya. Dengan ujian itulah akan terlihat jelas hakikat kadar keimanan kita, apakah keimanan yang kita miliki benar-benar tulus dan jujur atau dusta (Lihat QS al-anKabut[29]:2 -3). Dengan ujian itu pula akan dapat diketahui siapa di antara orang-orang mukmin yang mau berjihad dan bersabar, dan siapa yang tidak (QS Muhammad[47] : 31)

Ujian yang diberikan kepada manusia itu pun beraneka ragam. Ada yang berupa keburukan, ada yang berupa kebaikan (QS al-Anbiya’[21]:35); ada pula yang berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (QS al-Baqarah[2]:165). Harta dan anak keturunan juga bisa menjadi ujian (QS al-anfal[8]: 28). Termasuk juga ujian akan datang musibah, bencana yang ditimpakan kepada kita.

Pengahayatan terhadap ayat diatas tadi menjadi amat penting. Paling tidak ada dua keuntungan besar yang dapat dipetik ketika seseorang tetap tegar, sabar dan istiqomah dalam menghadapi berbagai ujian keimanan. Pertama : janji Allah akan dimasukkan kedalam surgaNya apabila tetap memegang teguh keimanan dan tetap dalam kesabaran. Ayat ini menyatakan pengingkaran terhadap orang-orang yang mengira masuk surga sementara mereka belum terbukti dapat besabar dan tetap istiqomah dalam keimanan tatkala menghadapi cobaan berat seperti yang dialami Rasul dan kaum beriman terdahulu. Artinya, jika mereka mampu bersabar dan tetap istiqomah dalam situasi apapun, mereka boleh berharap dan merasa yakin bisa masuk surga. Dengan harapan dan keyakinan tersebut, seseorang bisa terlecut semangatnya untuk bersabar dan kuat menahan berbagai beban penderitaan yang dihadapinya, betapapun berat penderitaan itu.

Dalam Alquran banyak mengisahkan kaum yang sukses melewati cobaan saat mereka memiliki keyakinan tersebut. Demikian pula para sahabat Nabi, mereka mampu bersabar menghadapi berbagai macam cobaan. Misalnya kisah Bilal bin rabah ketika disiksa oleh majikannya dengan siksaan yang sangat berat, hingga darahnya bercampur dengan keringat. Namun ketika Bilal ditanya kapan saat-saat bahagianya? Dan dia pun menjawab saat saya disiksa dan hanya mampu mengucapkan kata : ahad..ahad..dan ahad.

DI lain kisah, keluarga Yasir misalnya, mampu bersabar sekalipun menerima siksaan diluar batas kemanusiaan. Sikapnya makin kukuh ketika mendengar sabda Rasulullah : “bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya yang dijanjkan kepada kalian adalah surga). Sumayyah – istri Yasir- pun menyahuti dengan penuh keyakinan : Sesungguhnya aku telah melihatnya secara jelas wahai Rasulullah.

Kedua : mendapatkan pertolongan Allah dalam waktu dekat. Ayat diatas tadi memberikan kabar gembira kepada Rasul dan kaum Mukmin yang mengalami penderitaan hingga mencapai puncaknya berupa dekatnya pertoongan Allah. Tatkala ujian penderitaan yang mereka hadapi sampai pada klimaksnya, itu menjadi pertanda pertolonganNya segera tiba. Allah swt berfirman :

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia pada dan pada hari berdirinya para saksi (Hari Kiamat).” (QS Ghafir[40]: 51).

Keyakinan dan harapan akan dekatnya pertolongan Allah ini juga bisa membuat seseorang kian tegar dan tabah menghadapi berbagai ujian. Siapa yang tidak bergembira ketika penderitaannya segera berlalu dan kebenaran segera menang? Alquran pun menyebut pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat sebagai perkara yang dicintai manusia. Pertolongan hanya ditangan Allah dan tidak akan datang kecuali dariNya. Ditegaskan pula, siapa yang ditolong Allah tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya. Sebaliknya, jika Allah membiarkannya, tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya.

Dengan demikian, pertolongan Allah merupakan anugerah yang tak terkira. Tentu lebih membahagiakan jika anugerah itu segera tiba. Andai pertolongan yang dinantikan itu belum juga datang, kita bisa melakukan evaluasi diri, apakah usaha yang kita lakukan belum serius atau penderitaan yang mereka alami belum mencapai puncaknya. Dan kita bisa mempertanyakan lagi pada diri kita, kepada siapa lagi kita berharap ketika seluruh manusia tidak memiliki daya, kepada siapa lagi kita mohon pertolongan saat seluruh makhluk tidak memiliki kemampuan. Hanya kepada Allah tempat kita kembali.

Nb : untuk buletin Al-iman (Tanggap Bencana Merapi)

Komentar

Postingan Populer