Musibah dan fasad
Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah
Pertama-tama marilah kita senantiasa untuk selalu bersyukur dan memuji Allah atas segala nikmat yang telah diberikannya kepada kita hingga saat ini. Kepada Allah jualah kita selayaknya memanjatkan doa dan memohon petunjuk serta pertolongan dalam mencari solusi segala persoalan yang kita hadapi saat ini.
Yang kedua, kita juga harus senantiasa menghantarkan shalwat dan salam kepada junjungan kita nabi besar Muhamaad saw, karena perjungan beliau kita bisa merasakan indahnya agama ini yaitu agama islam yang dijadikan sebagi pedoman kita sehari-hari.
Pada kesempatan khutbah kali ini juga, saya pribadi mengajak diri ini dan kaum muslimin umumnya untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Hanya dengan taqwalah bekal untuk menghadap-Nya nanti. Dan janganlah kita meragukan janji Allah, yaitu Allah hanya melihat seseorang dari ketaqwaannya bukan dari sisi yang lain.
Jama’ah yang dimuliakan oleh Allah
Allah mengenalkan kepada kita dua kata yang sangat penting untuk kita bahas, dimana kedua kata ini hampir tidak dipahami oleh umat islam saat ini. Yaitu kata musibah dan fasad. Kedua kata ini kadangkala dijadikan satu makna, padahal sebenarnya berbeda. Karena kedua hal ini berbeda, maka sikap kita ketika mengalaminya juga tentu pasti berbeda, baik sebelum menghadapi, saat menghadapinya dan setelah menghadapinya.
Sudah kita ketahui bersama, bahwa musibah merupakan sunnatullah yang satu orang manusia pun tidak bisa menghindarinya. Musibah dapat kita indera melalui peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia dan hal ini diluar kendali manusia, misalnya bencana alam baik itu berupa gunung merapi, gempa, banjir, tsunami atau kecelakaan pesawat maupun kendaran di jalan raya. Terhadap musibah yang seperti ini tentu saja tidak bisa dihindari oleh manusia, namun kita dituntun oleh Allah untuk bersikap sabar dan memohon perlindungan kepada Allah seraya memanjatkan doa. Dalam perkara musibah ini Allah sudah menjelaskannya di dalam QS Albaqarah 156 :
Artinya : (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
Yang berarti: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Dan kita hanya bisa memperbaiki kondisi tersebut apabila sudah tertimpa musibah ini, baik itu perbaikan berupa fisik ataupun non-fisik. Dan bagi orang yang terkena musibah, sikap sabar adalah salah satu untuk menyikapi musibah tersebut.
Hadirin jama’ah rohimakumullah
Adapun fasad berarti kerusakan, hal ini berbeda dengan musibah, karena fasad muncul akibat ulah kejahilan manusia. Manusia sendiri yang menyebabkan munculnya kerusakan di langit dan di bumi karena tidak mengindahkan aturan-aturan Allah. Bisa kita ambil contoh; apabila manusia melanggar ketentuan Allah dengan melegalkan minuman keras, perzinaan dan bentuk kemaksiatan lainnya maka dampak dari aktivitas tersebut bisa muncul kerusakan lainnya berupa kerusakan moral, tingginya kriminalitas, bahkan munculnya penyakit-penyakit yang diakibatkan perbuatan zina dan pergaulan bebas.
Allah SWT telah menunjukkan perkara ini dalam QS Ar-Ruum 41 :
Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Dari ayat diatas menunjukkan bahwa, segala macam kerusakan yang ditimbulkan karena ulah tangan manusia, Allah akan tampakkan dampak kerusakannya agar manusia kembali ke jalan yang benar. Sehingga kerusakan yang dilakukan tidak lain tidak bukan merupakan jalan keburukan yaitu kemaksiatan. M
enafsirkan ayat ini, Muhammad Ali Ashshobuni, dalam kitab tafsir Shafwatut Tafasir menyebut bahwa fasad terjadi karena maksiat dan dosa-dosa manusia.
Apa yang disebut maksiat dan dosa? Maksiat adalah tindak kejahatan manusia yang melanggar ketentuan Allah. Yakni melakukan yang dilarang dan mengabaikan yang diwajibkan. Setiap maksiat itu pasti berdosa dan setiap maksiat dan dosa itu pasti akan menimbulkan fasad atau kerusakan.
Demikian juga di ayat yang lain Allah SWT telah mengingatkan agar manusia menyuruh untuk berbuat kebaikan dan janganlah membuat kerusakan :
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. QS Al-Qashash 77.
Dalam perkara ini, manusia masih bisa untuk menghindari nya dengan melakukan pencegahan kemaksiatan tersebut ada, bukan malah membiarkan. Dan ini bisa kita rasakan di bumi Indonesia, tidak semua yang terjadi kepada kita itu merupakan musibah dari Allah yang kita tidak memiliki andil, namun juga ada sebagian itu akibat ulah tangan manusia yang melanggar perintah Allah.
Banyaknya remaja yang kehilangan masa depannya adalah kerusakan akibat kemaskiatan berupa penyalahgunaan narkoba. Kita juga harus mengatakan bahwa AIDS sesungguhnya juga adalah fasad akibat narkoba dan seks bebas. Kemiskinan adalah fasad akibat sistem ekonomi kapitalis yang memang tidak adil. Atau kerusakan moral masyarakat diakibatkan tayangan-tayangan yang merusak.
Hadirin sidang jum’ah rohimakumullah
Apabila kita sudah mengalami dampak akibat kemaksiatan dikarenakan ulah tangan kita sendiri, tetapi Allah telah memberikan jalan untuk memperbaikinya. Dalam rangka mencegah dan terjadi kerusakan yang sama Allah memberikan tuntunan dalam islam berupa sistem sanksi dan peradilan.
Layaknya seorang orang tua yang mengasuh dan merawat anak-anaknya, memberikan pendidikan dan pengajaran, namun apabila tidak diindahkan pelajaran tersebut, maka orang tua bisa memberikan sanksi yang meringankan serta membuat anak tersebut jera.
Begitu juga di dalam islam, kadangkala masih ada manusia atau umat islam sendiri yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah, Islam memberikan aturan dalam pencegahan dan membuat efek jera, yaitu dengan sistem sanksi dan peradilan. Setiap orang pasti akan berfikir dua kali apabila akan melakukan pencurian tanpa sebab yang meringankan, karena bentuk pencegahan dan pengulangan yang sama diberlakukan sanksi dipotong kedua tangannya, atau hukum jilid dan rajam bagi para pelaku zina.
Hadirin jama’ah rohimakumullah
Salah satu pilar penting ajaran Islam adalah kewajiban melakukan amar makruf nahi munkar. Islam tidak menghendaki kebaikan terbengkalai sementara kemungkaran makin merajalela. Kita jadi mengerti mengapa Nabi meminta kita bila melihat kemungkaran harus segera dihentikan (izalatul munkar) dengan kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki. Sebab bila tidak, seperti yang terlihat sekarang, kemungkaran itu akan terus berlanjut dan akhirnya menjadi sulit untuk dihentikan karena para pelakunya telah terlanjur kuat. Dengan kekuatan yang dimiliki, kemungkaran yang dibuat juga akan makin besar. Maka kerusakan yang ditimbulkan juga makin besar. Bagi yang tidak memiliki kekuatan dengan lisan, yaitu nasehat-menasehati dan memberikan penjelasan dengan dakwah. Dan yang terakhir adalah pengingkaran dengan hati kita namun itu adalah selemah-lemahnya iman.
Ibarat menebang satu pohon tanpa hak adalah kemungkaran. Dan kemungkaran ini pasti akan menimbulkan kerusakan. Pada awalnya, kerusakan yang ditimbulkan kecil saja. Tapi bila kemungkaran itu dibiarkan, pohon yang ditebang pasti makin lama makin banyak dan arealnya juga makin luas.
Pada dasarnya amar makruf nahi munkar serta izalatur munkar adalah kewajiban setiap Muslim. Tapi, paling efektif tentu bila dilakukan oleh pemerintah karena ia memiliki segenap kekuatan dan kewenangan untuk menghentikan kemungkaran itu. Karenanya pemerintah harus tegas dan sedikitpun tidak boleh berkompromi dengan pelaku kemungkaran, apalagi menjadi pelaku kemungkaran itu sendiri.
Pejabat atau aparat penegak hukum yang jelas-jelas telah berkolaborasi dengan pelaku kemungkaran, harus segera diamputasi. Karena tindakan merekalah, pelaku kemungkaran merasa terlindungi dan akhirnya skalanya makin membesar seperti sekarang ini. Dengan penerapan hukum-hukum islam semoga menjadikan kita orang yang senantiasa dimuliakan Allah SWT dan memuliakan kedudukan kita di antara makhluk-makhluk lainnya. Hanya syariat islam lah yang memberikan kita ketenangan dan akan menjadikan islam sebagai rahmatan lil’alamin, karena syariah islam diperuntukkan bagi seluruh manusia.



Komentar
Posting Komentar