Meraih Takwa

Hikmah besar yang akan diraih oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah atas dasar keimanan adalah memperoleh derajat takwa dan akan mendapatkan kemenangan[1]. Bagi kita di dunia yang hidup sementara ini harus mempunyai bekal dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa[2]. Banyak definisi takwa yang sudah disebutkan oleh para ulama[3]. Di antaranya adalah bahwa dalam kata takwa mengandung makna : pertama, al-khawf min al-jalil; rasa takut yang besar terhadap kemahakuasaan Allah. Orang yang beribadah dilatih kesadarannya akan sifat-sifat Allah dan diuji konsistensinya dalam ketaatannya terhadap aturan Allah SWT. Orang tersebut akan menjaga hal-hal yang menyebabkan ibadahnya tidak diterima, semisal jangan sampai ada air yang masuk ke kerongkongannya sekalipun hanya setetes dan tidak diketahui orang lain disaat berpuasa. Diapun tidak berani makan dan minum sekalipun azan magrib tinggal beberapa detik lagi. Mengapa? Karena dia sadar bahwa hal tersebut bisa membatalkan puasanya dan dia juga yakin bahwa Allah maha melihat apapun yang dilakukan hambanya.

Kedua, al-‘amal bi at-tanzil; melaksanakan ketentuan hukum yang tertera dalam wahyu Allah yang telah diturunkan baik yang ada dalam Alquran maupun yang terdapat dalam hadis Rasulullah saw. Karena didalamnya terdapat pedoman dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Dalam QS al-baqarah ayat 185, jelas sekali menyatakan bahwa Al-quran yang diturunkan merupakan petunjuk bagi manusia.

Ketiga, al-isti’adad li ar-rahil; persiapan untuk menghadapi timbangan amal pada hari kiamat. Orang yang bertakwa seharusnya memiliki kesadaran bahwa dia akan kembali kepada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya di dunia. Berikutnya dia akan senantiasa menjaga perbuatannya supaya sesuai dengan syariahNya. Dia akan terus berusaha untuk tidak melakukan maksiat sekecil apapun dan tidak akan melalaikan kewajiban seberat apapun.

Orang yang bertakwa

Adapun siapa sesungguhnya orang bertakwa itu? Saat menaafsirkan Alquran surah Al-Baqarah ayat 1-5, Imam Ali ash-Shabuni menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang takut terhadap murka Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya”.[4] Ia mengutip pernyataan Ibnu Abbas ra yang menyatakan, “orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT) sembari menjalankan ketaatan kepada Allah SWT”.

Adapun menurut Imam Hasan al-Bashri, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut  terhadap apa saja yang telah Allah SWT larang atas diri mereka dan menunaikan apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas diri mereka.” (Lihat : Ali Ash-Shabuni, Shafwah at-Tafasir, I/26)[5] Artinya bukan orang yang bertakwa jika hanya melaksanakan perintah Allah saja namun melanggar laranganNya. Bukan takwa namanya jika dia rajin sholat baik sholat wajib maupun sunnah, melaksanakan amalan-amalan sunnah namun di sisi lain ia memakan riba, melakukan suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, menzalimi rakyat, dan enggan terkait syariah islam di luar ibadah ritual.

Takwa selamanya[6]

Rasulullah saw menyuruh kita semua untuk senantiasa bertakwa dimanapun kita berada :
“Bertakwalah kepada Allah dimanapun/ kapanpun/ dalam keadaan bagaimanapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan sehingga (kebaikan itu) akan menghapusnya, dan berbuat baiklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” (HR ath-Thabrani dari Abi Dzarr ra.)
Berdasarkan perintah Rasulullah saw. Dalam hadis di atas, maka tidak selayaknya ada pemahaman bahwa takwa hanya ada dalam waktu dan tempat tertentu saja. Takwa tidak hanya ada ketika shalat atau tatkala di masjid saja. Takwa juga bukan sekedar harus dikejar pada bulan Ramadhan saja. Takwa harus ada selamanya dan senantiasa menyertai kita dimanapun kita berada. Bahkan kita diperintahkan untuk terus menjaga ketakwaan hingga kematian tiba[7]

Menjaga amaliah

Orang yang memahami pentingnya takwa akan berlomba-lomba untuk mengisinya dengan berbagai aktivitas ibadah. Mengisi dengan beraktivitas sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT terkait ibadah dan ubudiah, akhlak dan muamalah. Baik ibadah yang berkenaan urusan pribadi, seperti sholat, membaca alquran, puasa di bulan ramadhan, zakat serta naik haji bagi yang mampu dan juga ibadah yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, dalam bekerja, menuntut ilmu, jual-beli, berpolitik, pergaulan sesame muslim dan non-muslim, kehidupan sosial-rumah tangga dan lainnya. Setiap tempat diwarnai dengan kegiatan-kegiatan keislaman, baik di rumah, di sekolah, apalagi di masjid-masjid. Semangat beramal haruslah sangat tinggi. Semua kativitas tadi harus disesuaikan dengan hukum-hukum syariahNya, maka insyaAllah termasuk dalam ibadah, karena syarat amal atau aktivitas diridhoi dan diterima oleh Allah adalah kita beramal sesuai dengan ketentuan syariahNya dan niat yang benar, yang hanya mengharapkan ridho Allah sebagai nilai pertama.

Bagaimana caranya agar kita dapat meraih ketakwaan tersebut? Penentunya adalah adanya dorongan keimanan dan keyakinan atas besarnya balasan dari Allah di saat kita melaksanakan perintahNya dan juga adzab jikalau kita melanggar ketentuanNya. Selain itu juga, situasi amal jama’i (baca:lingkungan) yang sangat mendukung. Beberapa aktivitas sering dilakukan bersama-sama, baik dengan anggota keluarga maupun bersama teman dan tetangga.

Peran keluarga sangatlah penting agar supaya nuansa beramal dan beraktivitas ibadah terus hadir. Di antara peran tersebut adalah[8] :

Pertama, senantiasa menjaga kesadaran bahwa kita harus menjadi orang bertakwa sepanjang hayat. Kesadaran ini terus dipupuk dengan selalu mengaitkan dengan sifat-sifat Allah, seperti Allah maha pembalas amal, Allah maha pemberi rizqi, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan serta hanya kepada Allahlah kita akan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal kita di dunia. Dengan pengertian ini, diharapkan akan muncul sikap takut, harap dan taat pada Allah.

Kedua; terus-menerus memberi maklumat (informasi dan pemahaman) tentang aturan-aturan Allah yang harus ditaati. Semangat mempelajari tsaqafah (baca:pemikiran) islam bukan hanya dilakukan dalam pesantren kilat , sekolahan saja. Tadarus dan radabur alquran juga akan terus dilakukan.

Ketiga; memfasilitasi supaya anggota keluarga senang dan mudah untuk melakukan ketaatan. Misal, menyediakan buku-buku agama, menjaga shalat berjamaah, saling beramar makruf, membiasakan infak, saling tolong-menolong, membiasakan shaum sunnah, membiasakan shalat malam, dll. Yang penting, upaya tersebut harus terprogram dan terencana supaya tidak dilakukan sementara, atau hanya rutinitas yang kosong dari kesadaran akan hubungannya dengan Allah, apalagi karena keterpaksaan. Semuanya betul-betul dilakukan karena semata mengharap Ridha Allah SWT.

Keempat; memahami bahwa untuk meraih ketakwaan sempurna tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi juga harus didukung dengan ketakwaan kolektif. Individu yang berjuang untuk senantiasa bertakwa akan menghadapi kesulitan ketika masyarakat dan lingkungan sekitar kontra produktif dengan semua yang dia upayakan. Semangat ketaatan individu boleh jadi akan dilemahkan dengan rongrongan kemaksiatan yang ada dimana-mana. Sebaliknya, dorongan ketakwaan individu akan tetap terpelihara jika dipadu dengan semangat masyarakat untuk senantiasa taat pada aturan Allah, baik aturan yang menyangkut individu, keluarga, masyarakat maupun negara; serta ketakutan dan kekhawatiran kalau tetap hidup dalam sistem yang jauh dari sistem Allah sehingga memunculkan kesadaran pada masyarakat untuk senantiasa memperjuangkan tegaknya seluruh aturan Allah dalam individu, keluarga, masyarakat dan negara sangatlah penting. Khususnya penerapan aturan dalam negara (daulah atau khilafah) Sebab, hanya dengan khilafahlah kita akan mampu melakukan ketaatan yang kaffah.



[1] QS An-Nur : 52
[2] QS Albaqarah: 197
[3] “Ramadhan Sepanjang Tahun”, Dedeh Wahidah Achmad di dalam Alwaie No 145 Tahun XIII, 1-30 September 2012/ Syawal 1433 H
[4] “Esensi Takwa” di dalam Media Umat edisi 88, 20 Syawal – 4 Dzulqaidah 1433 H/ 7 – 20 September 2012.
[5] idem
[6] “Ramadhan Sepanjang Tahun”, Dedeh Wahidah Achmad di dalam Alwaie No 145 Tahun XIII, 1-30 September 2012/ Syawal 1433 H
[7] Lihat : QS Ali Imran : 102
[8] “Ramadhan Sepanjang Tahun”, Dedeh Wahidah Achmad di dalam Alwaie No 145 Tahun XIII, 1-30 September 2012/ Syawal 1433 H

Komentar

Postingan Populer