Tidak Bisa Untuk Tidak Ikhlas (Terwujudnya Manthiqul Ihsas dan Ihsasul Fikriy)
Para pengemban dakwah
yang ikhlas seringkali menghadapi berbagai cobaan dan godaan di dalam setiap
perjuangan dakwahnya. Namun itu semua dapat mereka lalui dikarenakan sudah
mengkristalnya pemikiran islam di dalam diri mereka sehingga mereka menjadi
pribadi yang ikhlas.
Dalam kitab at-Takattul al-Hizbiy telah dijelaskan bahwa
suatu pemikiran ketika belum mengkristal maka belum ada suasana di dalam dirinya,
yakni suasana tertunjuki pada ideologi islam. Akan tetapi, apabila pemikiran
itu hasil dari manthiq al-ihsâs, yakni pemahaman yang
muncul dari kesadaran yang bersifat
penginderaan (al-idrâk al-hissiy), maka ia akan mewujudkan
penginderaan bersifat pemikiran (ihsas al-fikriy)
yakni mewujudkan penginderaan yang jelas hasil dari pemikiran yang mendalam.
Hasilnya adalah pemikiran
itu akan menyinari orang yang mengembannya dan menjadikannya seorang yang ikhlas,
sampai-sampai ketika dia ingin untuk tidak menjadi seorang yang ikhlas, ia
tidak bisa dan tidak mampu.
Berarti seseorang perlu
mewujudkan manthiqul ihsas yaitu pemahaman yang diwujudkan dari
kesadaran ketika mengindera sesuatu. Kemudian ia mampu menjadikan penginderaan
tersebut hasil dari pemikiran yang mendalam yaitu ihsasul fikri.
Di dalam kitab Mafâhîm Hizbut Tahrir, dijelaskan juga hendaknya pemahaman dan pemikiran itu keduanya merupakan hasil
dari penginderaan bukan dari asumsi-asumsi. Dan hendaknya penginderaan terhadap
fakta itu berpengaruh di dalam otak, bersamaan dengan informasi awal akan mewujudkan
pemikiran. Inilah yang merealisasikan kedalaman dalam berpikir dan merealisasikan
hasilnya dalam perbuatan.
Sesungguhnya manthiq al-ihsâs itu berarti seseorang mengambil
pemikiran/pemahaman setelah penginderaannya secara langsung terhadap fakta dan
menelaahnya, bukan melalui jalan talaqqiy (menerima) dan talqin
(pengajaran/instruksi) yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Hal ini berarti
pemikiran yang bersandar pada penginderaan secara langsung dan akan lebih kuat serta
lebih kokoh sebab berhubungan dengan penginderaan secara langsung.
Misalnya kesadaran
seseorang tentang sejauh mana kemerosotan dan keterbelakangan yang menimpa Afrika.
Apabila kemerosotan tersebut diperoleh melalui informasi, maka akan berbeda
jauh tatkala ia melakukan kunjungan ke Afrika dan menelaah langsung fakta yang
ada di sana. Melalui penelaahan secara langsung akan sampai kepada kesimpulan
terhadap Afrika, yakni dalam kondisi terbelakang dan mundur.
Adapun ihsâs al-fikriy (penginderaan intelektual) adalah
penginderaan terhadap fakta namun terlebih dahulu memiliki pemikiran mendalam
terkait fakta tersebut sebelum menginderanya. Maka penginderaan dan
pemahamannya tanpa diragukan lagi akan lebih kuat dan lebih kokoh dari
penginderaannya yang murni. Ihsâs ash-sharf (penginderaan murni) adalah mengindera
fakta tanpa memiliki pemikiran yang berkaitan dengan fakta itu.
Misalnya, pemahaman seseorang
terhadap fakta Afrika. Apabila diawali dengan memiliki pengetahuan dahulu tentang
makna kemerosotan, dan memiliki pengetahuan tentang perbedaan antara
kemerosotan dan kebangkitan maka seseorang tersebut pemahamannya akan lebih
kuat daripada sebelum ia mengetahui makna kemerosotan dan kebangkitan.
Penginderaannya tentang
betapa mengerikannya eksploitasi Barat terhadap Afrika dan perampokan Barat
terhadap kekayaan Afrika menjadi lebih kuat setelah ia mengetahui secara
pemikiran mendalam mengenai politik negara-negara Barat terhadap Afrika. Penginderaannya
itu jauh lebih kuat daripada penginderaannya tentang eksploitasi sebelum adanya
pengetahuan tentang politik barat.
Karena itu, para
pengemban dakwah di Afrika mengindera merosotnya masyarakat di sana dan betapa
mengerikannya eksploitasi negeri mereka. Penginderaan mereka jauh lebih banyak dan
lebih kuat dari orang lain karena pemahaman mereka terhadap makna kemerosotan
dan penelaahan mereka terhadap politik negara-negara imperialis terhadap negeri
mereka dan pengetahuan mereka terhadap kerakusan negara-negara ini. Sedangkan
orang lain, penginderaan mereka terhadap hal itu adalah lebih lemah, bahkan
sebagian dari mereka tidak memperhatikannya.
Pemikiran transformatif
yang dicapai oleh partai ideologis terjadi melalui manthiq al-ihsâs dan akan mewujudkan ihsâs al-fikriy yang akan menjadikan para pengembannya
memandang fakta dan menginderanya secara benar dan jujur. Oleh karena itu,
pemikiran ini tanpa diragukan lagi akan menjadi pemahaman-pemahaman yang benar
pada pemiliknya.
Akhirnya para pengemban
dakwah tidak berhenti pada batas informasi-informasi teori, namun juga memahami
hakikat-hakikat suatu peristiwa. Sehingga dia tidak mampu kecuali menjadi orang
yang ikhlas dan jujur seperti pemikiran yang diembannya. Dia tidak mampu menipu
dirinya sendiri dan membisikinya bahwa faktanya berbeda dengan apa yang dilihat.
Dan dia akan memandang fakta menurut hakikatnya, serta mengetahui solusi
menurut hakikatnya. Sehingga ia tidak kuasa kecuali menjadi seorang yang ikhlas,
selama masih mengemban pemikiran ini.
Jadi bagi para
pengemban dakwah teruslah memahami pemikiran islam dengan mengkaji islam dan
teruslah mengindera fakta/peristiwa yang terjadi secara langsung bukan dari asumsi
atau khayalan untuk mewujudkan ihsasul fikriy. Wallahu’alam


Komentar
Posting Komentar