Krisis Palestina Pengalihan Masalah Utama (Terkait dengan Krisis Suriah)



Sudah banyak pengamat memberikan pendapat, bantuan-bantuan sosial berupa dana dan kesehatan diberikan, hingga tawaran solusi diplomatik untuk mengakhiri permasalahan yang ada di palestina. Kenyataan memberikan gambaran permasalahan tersebut belum selesai, bahwa palestina mengalami penindasan oleh Israel, di satu sisi Israel mengganggap serangan mereka untuk membalas serangan dari milisi hamas dan pejuang palestina.

Konflik Israel – Palestina merupakan konflik panjang yang memerlukan kajian, diskusi dan perdebatan yang tidak ada duanya. Juga tidak ada permasalahan yang demikian seakan-akan kompleks dan rumit seperti halnya persoalan palestina. Sangat penting secara sederhana kita jawab, apakah konflik Israel dan palestina merupakan perkara yang kompleks dan rumit? Kalau kompleks, sekompleks apa permasalahan tersebut atau serumit bagaimana?.
Pastinya akan banyak komentar dan pendapat dalam menjawab pertanyaan ini.
Terlepas apapun jawabannya, kita harus mendalami fakta terlebih dahulu agar kita mengetahui bagaimana permasalahan ini muncul, agar mendapatkan penyelesaian yang utuh. Selain itu tampak dari banyaknya kekeliruan masyarakat yang cukup fatal dalam memandang krisis palestina, antara lain :[i]

1.       kesalahan dalam menilai urgensitas persoalan ini. Ada yang mengatakan persoalan palestina adalah persoalan kaum muslimin yang harus menjadi prioritas pertama untuk diselesaikan dan yang terpenting dari sekian banyak persoalan yang dihadapi.
2.       Kesalahan dalam meletakkan cakupan persoalan palestina. Ada pihak yang menyatakan masalah ini adalah persoalan bangsa Arab. Ada pula yang mengatakan adalah persoalan negara-negara terkait atau persoalan timur tengah secara khusus.
3.       Kesalahan dalam mendeskripsikan fakta mengenai persoalan ini. Dimulai dari persoalan bangsa yang terusir, ada juga yang mendeskripsikan permasalahan pertarungan antar kelas, bahkan mendeskripsikan persoalan palestina adalah masalah kemanusiaan.
4.       Kesalahan dalam penyebutan persoalan ini. Mass media khususnya barat, sering mengopinikan sebagai krisis timur tengah, kemudian dianggap kemelut antara negara-negara besar yang terlibat di kawasan timur tengah. Sebenarnya sebutan yang tepat untuk masalah ini adalah persoalan palestina, bukan persoalan timur tengah, atau persoalan melenyapkan pengaruh musuh.

Kalau kita kaji secara mendalam persoalan palestina, akan mendapatkan bahwa perosalan palestina adalah persoalan tanah islam yang telah dirampas. Dan akan dipahami persoalan ini adalah persoalan penting bagi seluruh kaum muslimin, bukan hanya persoalan orang-orang arab atau palestina saja. Persoalan palestina juga bukan sekedar persoalan bangsa yang terusir, atau sekedar permasalahan pembagian wilayah kekuasaan bagi dua belah pihak yang bersengketa. Jadi memang benar, persoalan palestina adalah persoalan tanah islam yang telah dirampas, dan tidak jauh berbeda dengan persoalan Andalusia, Macedonia, Yugoslavia, Afganisthan, Khasmir, Ethiopia, Cyprus, Sicilia, Libanon atau Albania. Wilayah-wilayah tersebut seluruhnya adalah tanah islam yang dirampas.[ii]

Dan yang sangat penting pula jangan menjadikan persoalan ini menjadi persoalan utama, tetapi kalau dianggap masalah penting memang iya. Semua persoalan umat islam hingga saat ini semuanya persoalan penting yang membutuhkan solusinya, misalnya masalah keterbelakangan, perpecahan, ekonomi, kehidupan sosial, perpolitikan, problem keluarga dan lain-lain, yang semua persoalan itu juga memerlukan pemecahan.
Yang menyebabkan salah satu dari persoalan diatas tidak bisa dianggap sebagai persoalan utama adalah bahwa solusi terhadap persoalan-persoalan tersebut bukan merupakan pemecahan tuntas atas seluruh persoalan. 

Suatu persoalan dianggap sebagai persoalan utama, tatkala solusi terhadap persoalan itu menghasilkan pemecahan yang tuntas.[iii] Misalnya persoalan palestina, jika solusinya adalah dengan memberikan bantuan serta upaya diplomasi maka itu tidak menyelesaikan masalah perekonomian, kehidupan sosial atau penyelesaian masalah tanah yang dirampas di tempat lainnya. Sehingga persoalan palestina bukan persoalan utama, tetapi persoalan penting termasuk salah satu dari sekian banyak masalah-masalah penting yang dihadapi oleh kaum muslimin.

Pertanyaan berikutnya adalah kenapa Israel menyerang lagi sekarang?[iv] Setelah Perdana menterinya berkunjung ke dataran tinggi Golan dan melihat situasi panas di Suriah, terkait arab spiring sejak tahun 2011.[v] Seakan-akan mereka takut kehilangan wilayah dan opini untuk menutupi kondisi Suriah saat ini. Karena suara untuk menerapkan islam dan menegakkan khilafah di Suriah semakin kuat ketika mujahidin Suriah menolak koalisi oposisi nasional yang didukung penuh dari barat.[vi] Persoalan Israel-Palestina sangat berguna untuk meraih posisi barat khususnya Amerika di timur tengah.[vii]
 
Upaya untuk merobohkan Daulah Khilafah dan mendirikan kekuatan zionis di Palestina adalah dua kejadian yang tidak bisa dipisahkan. Perjanjian sykes – picot (1916), deklarasi Balfour (1917), perang 6 hari pada tahun 1967 yang memperebutkan Israel – mesir (terusan suez), Israel – Suriah (Dataran tinggi Golan) dan Israel – Yordania (tepi barat – yerussalem), dengan hasil dari perang 6 hari tersebut dibawa ke perjanjian camp david.[viii] Sekarang ini adalah suara syariah islam di Suriah dan kaum revolusioner mulai memahami bahwa solusi tuntas untuk mengatasi masalah Palestina mutlak memerlukan tegaknya Daulah Islamiyah (baca:khilafah), yang akan menegakkan syariah islam secara total.

Pasca runtuhnya khilafah pada tahun 1924, dan Israel berdiri pada tahun 1948 berperan besar terhadap runtuhnya khilafah dan upaya untuk menegakkannya kembali. Bila energi umat dialihkan dari pembahasan khilafah dan dibawa terus ke masalah Palestina, maka tentu saja opini untuk menegakkan khilafah akan kembali hilang dan sirna. Sebenarnya tujuan inilah yang diambil oleh Inggris untuk mengalihkan perhatian umat islam tentang khilafah, di satu sisi Israel juga memerlukan tanah suci mereka, sehingga terjalin hubungan yang saling menguntungkan, Inggris-Amerika-Barat ingin meruntuhkan khilafah dan mencaplok negeri-negeri kaum muslim, sementara israel perlu tanah.[ix]

Hingga saat ini dukungan tersebut terus mengalir. Tanpa melihat negara zionis ini telah melakukan pelanggaran kemanusiaan yang luar biasa. Collin Powel saat menjadi menlu AS pernah berpidato di depan senat (5/03/2001): ”Israel adalah negara sahabat dan sekutu yang kuat bagi bangsa AS dan pemerintahan AS, menjamin keamanan Israel adalah priotes utama”.[x] Hal yang senada dinyatakannya di depan lobi Yahudi terkuat di AS (AIPAC) pada 19 maret 2001. ”Sungguh kami telah berada di pihak Israel sejak berdirinya dan kami akan selalu bersama Israel sepanjang sejarahnya”, tegasnya. Dick Cheney, saat berkunjung ke Israel , juga mengatakan hal yang sama. Sama seperti Obama menyatakan “Jerussalem will remain the capital of Israel, and it must remain undivided”.[xi]

Perlu juga kita memperhatikan Pernyataan Weizman sebagai presiden pertama Israel : “Seandainya tidak ada Israel, maka tidak ada yang bisa membantu kepentingan-kepentingan Inggris”.[xii] Apakah umat sadar akan hal ini, dan mau kembali kepada persoalan umat yang sebenarnya? Apakah umat mau menyadari bahwa menegakkan Islam adalah persoalan utama mereka, sedangkan Palestina, Khasmir, Afganisthan, Kurdistan, Eriteria merupakan persoalan cabang yang membutuhkan Khilafah, karena semuanya itu merupakan tanah umat islam yang dirampas.

Wallahu’alam

Reference :


[i] Iyad Hilal, “Palestina, Akar Masalah dan Solusinya”, PTI : 1993, hal : 2-5
[ii] Ibid  : 2 -5
[iii] Ibid hal : 6
[iv] Saat tulisan ini ditulis, Israel masih menggempur Palestina (November 2012)
[vii] Baca : “Syria, The United States, and the War on Terror in the Middle East” Oleh Robert G. Rabil, selain itu jika Suriah berhasil menegakkan khilafah maka sudah pasti posisi Israel dan negera-negara Barat pengusungnya sangat terancam.
[ix] Iyad Hilal, “Palestina, Akar Masalah dan Solusinya”, PTI : 1993, hal : 77 dan baca juga : “Mitos Dan Politik Israel” Oleh Roger Garaudy, Maulida Khiatuddin.
[xii] Iyad Hilal, “Palestina, Akar Masalah dan Solusinya”, PTI : 1993, hal : 77

Komentar

Postingan Populer