HTI From Nothing to The Top


Pesan penting dan mendasar dari Hizbut Tahrir merupakan sesuatu yang mudah dipahami, bahkan bagi kaum non-Muslim di dunia Barat sekalipun. Sebagai bagian dari seseorang yang bergelut dengan pemikiran-pemikiran hizbut tahrir walaupun tidak seutuhnya pemahaman tersebut saya miliki karena masih menjadi orang yang mengkaji didalamnya namun paling tidak apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir termasuk juga telah menjadi bagian dari aktivitas individu karena sudah menjadi bagian di dalamnya.

Berbicara posisi Hizbut Tahrir di tengah-tengah umat islam. Hizbut Tahrir adalah salah satu gerakan politik dari kelompok-kelompok Islam. Ajaran Islam itu sendiri mempunyai beberapa level. Level paling rendah, secara umum dapat dipahami oleh seluruh kaum Muslim. Namun level tertinggi merupakan segmentasi khusus diajarkan oleh Hizbut Tahrir kepada saya, yaitu level mengembalikan tatanan kehidupan islam dengan menerapkan syariah islam dalam bingkai suatu negara.

Sejak dulu ketika berproses didalamnya, HTI sendiri sudah menghadapi berbagai tantangan, apalagi saya yang awam dan tidak banyak pemahaman yang dimiliki. Dituduh dan dianggap sebagai aliran sesat sehingga diwanti-wanti hati-hati ikut kajiannya sudah sering dilontarkan oleh sebagian orang. Namun karena rasa keingintahuan yang mendalam, ada apa sebenanrya, kenapa HTI dituduh macam-macam dan apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Kenapa umat islam banyak yang memandang sebelah mata padahal mengkajinya saja tidak?.

Tetapi informasi yang berputar selalu menyudutkan HTI. “Ooh gerakan ini bukan gerakan apa-apa, masih kecil.” “Kalau khilafah sudah tegak kasih tau ya”. “HTI merasa paling benar sendiri,” padahal berkomentar saja belum. Kalaupun berkomentar hanya untuk menjelaskan mau diterima atau tidak juga tidak masalah, tapi belum selesai menjelaskan sudah dibantah lagi. Ketika mau menjawab lagi diakhiri dengan komentar “sudahlah nggak ada lagi yang perlu didiskusikan.” Diri ini melongo, padahal bicara saja belum. Begitulah segelintir komentar yang didapatkan berdasarkan pengalaman.

Seiring berjalannya waktu, HTI terus beraktivitas dengan penuh kesadaran dan keikhlasan karena kalau tidak sadar dan ikhlas apa yang didapatkan hanyalah kesia-siaan. Sedikit demi sedikit hari ini membuahkan hasil. Ketika konsep khilafah dianggap utopis atau khayalan hari ini menjadi ancaman. Berbagai macam propaganda dan framing negatif dibentuk untuk mendeskreditkan gagasan khilafah, HTI tak bergeming, tetap menjelaskan sebenarnya kepada umat.

Ketika teori yang disampaikan hizbut tahrir bahwa perubahan itu melalu opini umum dan peran dari para tokoh dan ulama melalui tholabun nusroh untuk menyuarakannya dianggap teori yang apatis dan tidak pernah terbayangkan bagaimana mewujudkannya.

Setiap melakukan berbagai opini melalui media massa tidak pernah tampil. Setiap mengadakan kegiatan dan acara tidak ada satupun yang mau hadir. HTI tidak dianggap. Malahan dianggap Nothing. Akhirnya ketika HTI mulai unjuk kegiatan di gelora bung karno dengan kampanye Selamatkan Indonesia dengan Syariah dan Khilafah. Indonesia sedikit mengetahui kegiatan HTI. Berturut-turut kegiatan nasional dan daerah menghiasi berbagai macam kegiatan sebagai bentuk untuk memahamkan islam ke tengah-tengah masyarakat. Puncaknya isu khilafah dianggap ancaman dengan kasus HTI di sidang PTUN pada 2017 kemarin. Apakah opini tersebut berhenti? Jawabannya tentu saja tidak.

HTI jadi buah bibir, masuk dalam pembicaran nasional yang dari dulu tidak pernah terbayangkan, bagaimana mengenalkan HTI ke pelosok negeri. Hari ini di berbagai tempat sudah membicarakannya termasuk opini khilafah, dan sekali lagi terlepas setuju atau tidaknya. Apalagi tanpa diduga tidak perlu lagi berupaya mempromosikan, malahan sudah menjadi trending. Sekarang malah orang-orang datang untuk mencari tahu sendiri.

Dan bagi HTI sendiri bagaimana? HTI tetap Nothing. HTI berdakwah dan berjuang tidak mencari persetujuan manusia atau penolakan dari orang lain. Juga tidak mencari pujian atau celaan dari siapapun. Yang dicari hanya satu yaitu semata-mata Ridho Allah dan dalam rangka melaksanakan kewajiban berdakwah. Jadi wajar saja apabila ada yang setuju ada juga yang menolak terhadap HTI dan gagasannya. Namun hal tersebut tidak terlalu bermasalah bagi HTI. HTI tetap berjalan sesuai dengan koridor kutlah (baca: kelompok) dakwah sebagaimana kutlahnya Rasulullah dan para sahabat yaitu membentuk opini umum dan melakukan tholabun nusroh.

Hari ini pula opini umum sudah diraih tanpa diduga. Tinggal kesadaran terhadap opini umum tersebut diambil dan diperjuangkan oleh umat. Walaupun baru sebatas simbol bendera tauhid. Perlahan namun pasti, bendera tauhid sudah diperjuangkan oleh umat, suatu saat gagasan khilafah juga akan diperjuangkan. Apakah mimpi? Mimpi kok disidang PTUN kan dan dianggap ancaman?

Dari itu semua apa peran HTI? Tidak ada sama sekali. Semua itu karena Allah swt yang menolong dakwah dan menolong umat islam. Sekali lagi HTI Nothing. Namun HTI tetap berdakwah dan terus berlanjut, hingga meraih tholabun nusroh dari berbagai kalangan untuk menolong dakwah ini. Dan kalaupun itu terjadi, ketika umat mau memperjuangkan diterapkanya syariah dan khilafah, HTI tetap Nothing. Karena yang dicari semata-mata Ridho Allah.

Bahkan ketika janji Allah dan Rasulnya kembali muncul. Kemuliaan kaum muslim kembali terangkat. Disitu pula HTI Nothing. Tidak ada apa-apanya. Lantas apa sih yang dicari HTI? Dan siapa yang utama kalau bukan HTI? Jawabannya tidak lain adalah umat islam. Umat islam lah sebagai umat terbaik di muka bumi yang akan meraih ketinggian dan keluruhan budi dengan islam. Tentu saja di sisi Allah swt. Dan Allah swt yang akan menolong dan mengangkat derajat umat islam, dan HTI berada didalamnya bersama dengan umat islam. Disitulah HTI akan menjadi to The Top ketika Allah mengangkat umat islam. Dan HTI bagian dari umat islam maka akan terangkat pula dirinya. Namun sebaliknya ketika umat islam belum terangkat maka HTI juga berada didalamnya dan tidak akan terangkat. Sehingga semuanya tergantung kembali kepada umat islam untuk berjuang. Hanya waktu yang akan menjawabnya.


Wallahu’alam

Komentar

Postingan Populer