Pembawa Bendera Nabi SAW yang Paling Terkenal
Membawa bendera atau panji Nabi
saw merupakan keutamaan dan kemuliaan paling tinggi yang akan terus diabadikan
di kehidupan dunia dan akhirat; dan akan terus dikenang keagunggannya tanpa pernah
luntur. Bagaimana sebaliknya bagi pelaku yang menghina dan melecehkan bendera
atau panji Nabi saw maka berlaku sebaliknya akan didapatkan kehinaan dan
dikenang keburukannya kecuali dia bertobat.
Keutamaan yang agung dan mulia
dalam membawa dan menjaga bendera atau panji Nabi saw telah diraih dengan
sempurna oleh sebagian sahabat Nabi. Sungguh sahabat rasulullah telah
menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya.
Pada perang Uhud Mush’ab bin ‘Umair
terus membawa bendera itu. Tatkala kaum muslim tercerai berai, ia terus
memegang bendera tersebut. Lalu datanglah Abu Qaimah dengan mengendarai kuda
menyabetkan pedangnya hingga tangan kanannya putus, namun Mush’ab berseru
dengan lantang : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul”. (TQS.Ali Imran [3]:144)
Bendera itu ia pungut dengan
tangan kirinya. Ia terus bertahan. Namun tangan kirinya berhasil di tebas oleh
orang kafir. Lalu ia menelungkupkan bendera itu di dada dan lehernya. Dia
berseru dengan lantang : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul”. (TQS.Ali Imran [3]:144)
Lalu datanglah serangan yang
ketiga. Akhirnya beliau menemui syahid. Tombaknya pun patah. Mush’ab pun
tersungkur ke tanah. Bendera pun gugur. Kemudian diperebutkan oleh dua orang
dari bani ‘Abd ad-Daar, Subith bin Harmalah dan Abu Ruum. Kemudian diambil oleh
Abu ar-Ruum. Tatkala kaum muslim kembali ke Madinah bendera itu terus
dipegangnya hingga ia memasuki Madinah. [Al-Maghazi : I/239, Sirah Ibnu Hisyam,
II/73]
Betapa hebatnya pengorbanannya di
jalan Allah! Namun, pengorbanan ini akan diganjar dengan harga yang sangat
mahal, (yaitu) surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang akan diberikan
kepada para syahid yang ikhlas.
Dalam ekspedisi perang Mu’tah.
Ja’far bin Abi Thalib telah membawa bendera dan turut menerjang para musuhnya.
Beliau tidak pernah menengok ke kanan maupun kiri, melainkan terus maju menyerang
musuhnya. Sehingga, para sahabat tidak menemukan satupun tusukan di punggungnya
setelah syahidnya beliau. Ibnu Hisyam telah mengisahkan kepada kita peristiwa
ini.
“Telah meriwayatkan kepada kami
dari ahli-ahli ilmu yang terpercaya, bahwa Ja’far bin Abi Thalib membawa
bendera dengan tangan kanannya. Namun tangannya berhasil di tebas. Lalu,
bendera itu dibawanya dengan tangan kirinya. Lagi-lagi tangan kirinya berhasil
ditebas. Selanjutnya ia mengamit benderanya dengan lengan atasnya, hingga ia
menemui syahid. Saat itu beliau ra berumur 33 tahun. Allah swt telah
menganugerahi dirinya dua sayap di surga yang akan digunakan terbang
sekehendaknya. Ada yang menyatakan, ‘Seorang laki-laki dari Romawi berhasil
memukulnya dengan sekali pukulan, kemudian menebas setengah dari lengannya.”
[Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam : II/378]
Cerita ini akan terus langgeng
hingga masa kita sekarang dan insyaAllah sampai hari kiamat. Termasuk para
pembawa bendera atau panji Nabi saw sangat sering membawa bendera sehingga
terkenal namanya sebagai pembawa bendera.
Seperti halnya Ali bin Abi Thalib adalah pembawa
bendera Nabi saw pada saat perang Badar. Hampir di setiap peperangan Ali adalah
pembawa bendera kaum Muhajirin. Sedangkan dari kaum Anshar pembawa bendera
adalah Sa’ad bin ‘Ubadah. Ibnu Hajar berkata dalam setiap peperangan Panji
Muhajirin diserahkan kepada ‘Ali, sedangkan panji Anshar diserahkan kepada
Sa’ad bin ‘Ubadah’.
Pendapat senada juga dikemukakan
oleh Ibnu ‘abd al-Barr, Nabi saw memberikan kepada Ali bin Abi Thalib sebuah
panji pada saat perang Khaibar. Dimana, panji itu sangat diimpikan oleh semua
sahabat, Allah swt memberikan kemenangan lewat tangannya. Sedangkan pada saat
penaklukkan Makkah diserahkan kepada Sa’ad bin ‘Ubadah.
Mereka semua menjaga keselamatan
bendera seutuhnya. Pembawa bendera tersebut selalu mencurahkan segenap
tenaganya untuk menjaganya agar tidak
disentuh musuh, jatuh di tanah atau air. Jika ada bendera yang jatuh maka yang
lain wajib mengambil dan membawa bendera tersebut. Bendera Rasulullah yang
paling besar berwarna putih disebut Al-Liwa’. Sedangkan panjinya berwarna hitam
disebut Ar-Rayyah. Bendera tersebut bertuliskan kalimat ‘La Ilaha Illa
–al-Allah Muhammad Rasulullah saw’. Bendera inilah sebagai izzah (kemuliaan)
dan pemersatu kaum muslimin.
Apabila kita sudah mengetahui
bahwa membawa bendera atau panji Nabi saw merupakan keutamaan dan kemuliaan
paling tinggi. Namanya akan terus diabadikan di kehidupan dunia dan akhirat dan
akan terus dikenang keagungannya tanpa pernah luntur. Bagaimana jika seseorang
lantas menghinakan atau melecehkan bendera tersebut?
Wallahu’alam


Komentar
Posting Komentar