ULAMA DAN PENGUASA
Umat Islam tidak akan pernah
merasakan kebahagiaan sejati, ketentraman dan rasa aman, kemuliaan, serta
kekuatan yang sempurna di dunia, melainkan ketika berada di bawah naungan
sistem dan hukum-hukum islam. Keberadaan penguasa muslim yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, yang berpedoman kepada kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, yang
menjaga ulama dan hubungan baik dengannya lah yang akan menghadirkan ketenangan
bagi umat islam.
Para penguasa tersebut hadir di
masjid-masjid bersama rakyat, pintu-pintu mereka terbuka lebar, tamu-tamu yang
datang dimuliakan, para ulama di hormati dan para ahli fiqih diagungkan. Para
penguasa pada masa itu mau mendengarkan nasehat dan peringatan, menerima
kritikan dan pengingkaran dari para ulama dan para ahli fiqih.
Sebagian ahli sejarah juga
menyebutkan berbagai peristiwa seputar
kezaliman dan buruknya penerapan sistem hukum islam yang dilakukan penguasa.
Namun dengan sigap para ulama pun bangkit melaksanakan kewajiban syariah atas
diri mereka, mengingkari kezaliman yang dilakukan penguasa dan berjuang untuk
menghilangkan keburukan.
Hal ini semata-mata karena ingan
menjalankan sabda rasulullah : “Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang
dizalimi’. Kami bertanya : ‘wahai rasulullah, kami bisa menolong orang yang
dianiaya, lalu bagaimana kami bisa menolong orang-orang yang zalim?’. Beliau
berkata :’Engkau mencegahnya dari perbuatan zalim, itulah bentuk pertolongan
baginya.” (HR Tirmidzi)
Tidak pernah ada seorang penguasa
pun yang lolos dari kritikan dan pengingkaran para ulama, walaupun penguasa itu
sudah menerapkan islam, mengurusi urusan umat dan menjalankan kewajibannya. Meski
begitu, ada juga sebagian penguasa yang merasa sempit dadanya atau pengingkaran
yang dilontarkan oleh para ulama, dan tidak suka dengan sikap para ulama
terhadap mereka. Hal itu dilakukan dalam rangka menjaga kewibawaan pemerintah
dan kecintaan mereka kepada kekuasaan, atau bisa juga karena kelalaian mereka
terhadap Allah swt.
Oleh karenanya, para penguasa
yang satu zaman dengan para ulama yang baik, dan bagaimana sikap para ulama itu
terhadap mereka, telah menghasilkan kebaikan yang banyak bagi Islam, dan
karunia agung bagi kaum Muslim tatkala mereka menjadikan islam sebagai hukum.
Walaupun ada sebagiannya dijumpai keburukan dalam penerapan (hukum) islam,
namun para ulama segera bangkit dan bersikap tegas dan keras atas buruknya
penerapan tersebut. Para ulama tidak pernah mengenal kata menyerah. Malahan
diantara mereka ada yang harus menanggung berbagai resiko dalam rangka
menjalankan kewajiban yang Allah bebankan kepada ulama, pejuang syariah, dan
pegiat amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini sejalan dengan firman Allah
“Sesungguhnya yang takut kepada
Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama” (TQS Fathir [35] : 28)
Namun kebaikan yang diharapkan
hari ini mungkin tidak kunjung datang dikarenakan ulama banyak yang dizalimi.
Para penguasa yang buruk memiliki kebiasaan menyiksa orang yang berbeda
pendapat dan bertolak belakang dengan mereka. Orang-orang yang menentang
pemikiran mereka yang batil, orang-orang yang tidak sejalan dengan keinginan
dan hawa nafsunya maka tidak akan segan menjatuhkan hukuman yang menghinakan
kepada mereka.
Rasulullah bersabda : “DI tengah
manusia itu ada dua kelompok. Jika mereka baik maka baik pula seluruh manusia.
Dan jika mereka rusak maka rusak pula seluruh manusia. Mereka itu adalah ulama
dan penguasa. (HR Abu Nu’aim)
Jika para ulama dan penguasa
tidak seperti yang diharapkan maka akan rusaklah kondisi masyarakat. Para
penguasa akan memuaskan hawa nafsunya untuk meraih apapun yang diinginkan
walupun bertentangan dengan islam. Membungkam siapa saja yang melawan, rantai
dan jerujinya menjadi senjata mereka. Begitu juga apabila ulama tidak bereaksi,
diam seribu bahasa, tidak melakukan penentangan, tidak melakukan perubahan dan
tidak memberikan nasehat atau peringatan maka wajar saja kerusakan melanda
seluruh negeri. Sampai-sampai sudah tidak ada lagi faedahnya ucapan, nasehat
dan petunjuk.
“Dan (ingatlah) ketika suatu umat
diantara mereka berkata : ”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan
membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka
menjawab : “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu,
dan supaya mereka bertakwa.” (TQS. Al-A’araf [7] : 164)
Kerusakan telah meliputi seluruh
permukaan bumi dengan beragam jenis bentuknya. Ada para ulama bergabung dengan
penguasa dan menjalin kasih sayang dalam rangka menjamin suara ulama tersebut
tetap terjaga walaupun melemahkan mareka. Ada juga ulama yang mengenakan baju
kebatilan dengan berhiaskan kebenaran, membuat indah para penguasa yang
bertindak zalim. Mereka telah menjual agama dengan secuil harta dunia yang
fana. Sebagian ulama ada juga menjalin kerjasama dengan penguasa dalam rangka
menegakkan kebenaran, menyebarkan kebaikan, dengan jalan menguasai jabatan
peradilan dan pegawai negara. Mereka yang mengingkari kezaliman penguasa maka
akan selamatlah dirinya.
Rasulullah saw bersabda :
“Akan ada para umara (penguasa)
yang memerintah kalian dengan apa yang mereka sendiri tidak kerjakan.
Barangsiapa membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka
ia bukan termasuk golonganku, dan aku bukan termasuk golongannya, dan ia tidak
akan mendatangi telaga al-haudl (di surga)” (HR Ahmad)
Semua itu bukanlah sesuatu yang
mengherankan, karena mereka (baik para ulama maupun penguasa) adalah manusia
biasa, bukan malaikat. Manusia bisa salah, manusia bisa berbuat dosa. Mereka
adalah anak cucu Adam. Namun sebaik-baiknya manusia adalah dia yang mau
bertobat dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah diperbuat.
“Setiap anak cucu Adam pernah
berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang
bertobat” (HR Ibnu Majah)
Wallahu'alam


Komentar
Posting Komentar