BELI BUKU RUTE IKUTI RUTENYA


Dalam 1-2 bulan terakhir, aktivitas menulis yang kulakukan semakin sering. Tidak ada target, hanya menulis saja. Dulu pernah bercita-cita satu bulan satu tulisan. Apa daya, itu hanya cita-cita dan keinginan saja.

Sekarang yang dilakukan tanpa target tapi menulis saja. Aktivitas menulisku ini bahkan bisa juga cukup dengan smartphone. Jangan-jangan seperti ini kali para penulis itu menulis. Dugaanku. Toh aku bukan penulis hanya menduga saja.


‘Selama apa yang terlintas dikepala langsung kau tulis’. Kata-kata itu terngiang-ngiang dikepalaku. Siapa yang berkata itu? Penulis buku Rute. Aku membeli buku itu dan buku-bukunya yang lain. Jadi rumus untuk bisa menulis, tulis saja. Kalau tidak bisa menulis maka itu yang kau tulis. Kau tulis ‘aku tidak bisa menulis’. Hahaha... akhirnya aku contek kata-kata itu, dan kusampaikan di salah satu seminar untuk menulis karya ilmiah untuk penelitian.

Ku katakan ‘kalau bapak ibu mau bisa menulis ada 1000 langkah yang harus dilakukan. Langkah pertama menulis, langkah kedua menulis dan sampailah langkah keseribu menulis’. Begitulah kira-kira yang kusampaikan. Dengan semangat pula aku menyampaikannya, padahal aku saja jarang menulis.

Aku kira mereka akan semangat. Namun semangat itu pudar dengan pertanyaan dari seorang ibu yang dari raut wajahnya kelihatan sudah tua. ‘Pak saya tidak bisa menggunakan laptop, kira-kira bagamana solusinya?’

Terlintas di kepala bagaimana karena keadaan dia telah berjuang sepanjang hidupnya, bahkan hampir seluruh hidupnya untuk membiayai beban kehidupan. Di sisa akhir usia malah dituntut untuk menghasilkan karya ilmiah agar ada dana tambahan yang cukup besar akan didapatkan. Padahal tahun depan mungkin dia tidak bisa bekerja lagi karena aturan pensiun. Dia juga tau dana ini bisa dia manfaatkan untuk menutupi beban hidup. Karena dia juga tau dia tak mau mengambil dana-dana lain yang tidak jelas.

Hal ini berbeda ketika pemangku kebijakan menetapkan berbagai standar untuk dipenuhi para petugas dibawahnya. Sementara pengambil kebijakan itu sendiri, mungkin tidak melakukannya karena tugas mereka hanya tanda tangan saja. Dan kadang dana-dana yang tidak jelas akan menjadi jelas kalau sudah dibubuhi tanda tangan mereka.

Balik lagi, akhir-akhir ini rajin banget menulis. Mumpung lagi rajin. Nulis saja. Heheheh... tapi pasti ada yang bertanya bagaimana caranya kalau kita mau bisa menulis? Aku belum mau menggunakan kata-kata yang dulu aku contek itu. Belum. Belum waktunya. Tapi kalau aku ditanya kan kujawab beli buku Rute dan ikuti rutenya.

Buku Rute? Yup Buku yang mengisahkan perjalanan seorang traveller. Dan sampai sekarang beliau masih melakukan perjalanan. Namun perjalanannya sekarang agak lebih jauh dari yang sebelumnya. Yaitu perjalanan menuju ke tempat kehidupan yang hakiki. Itu lah traveller sejati yang kudapat dari isi dalam buku Rute. Aku bukan penggemarnya tapi setiap dia menulis buku, aku tetap beli. Tentu aku beli bukan dengan harga kawan, aku tak mau, bahkan sering ditawarkan, tapi aku tetap tak mau. Bukan masalah harganya tapi ada pada nilainya. Kadang barang berharga dan barang bernilai bisa berbeda.

Terus apa hubungan buku itu dengan menulis? Kalian beli bukunya hubungi penulisnya. Hubungi saja pasti dia akan mengajak engkau menulis atau ikut bertraveling bersamanya.
Bertravelling sambil menulis tentunya. Kalian diam saja, dia yang akan berbicara, menjelaskan dan mengajak kalian untuk menulis dan bertraveller.

Kalian juga tak perlu bertanya, pelan-pelan dia juga akan menyampaikannya. Kalau perlu ikuti travellingnya juga. Ikut saja. Kalau tidak salah sebentar lagi akan berangkat. Dari situlah nantinya kalian akan menulis. Minimal kalian akan menulis ‘Aku tidak bisa menulis’.


Komentar

Postingan Populer