MENOLAK DAN MENGINGKARI KEZALIMAN/KEBOHONGAN
Allah swt berfirman dalam Alquran :
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah diri
kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di
antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [QS
Al-Anfal 25]
Allah Swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar waspada terhadap fitnah. Yang dimaksud dengan fitnah ialah cobaan/ujian dan bencana (الابتلاء، والامتحان).
Ibnu Faris rahimahullah berkata,
الفاء والتاء والنون أصل صحيح يدل على الابتلاء والاختبار
(مقاييس اللغة 4/ 47)
“Huruf Fa`, Ta`, dan Nun adalah huruf dasar yang shahih menunjukkan kepada
cobaan dan ujian” (Maqayisul Lughah: 4/472).
Ibnul Atsiir rahimahullah berkata:
الامتحان والاختبار … وقد كثر استعمالها فيما أخرجه الاختبار من المكروه، ثم كثر
حتى استعمل بمعنى الإثم والكفر والقتال والإحراق والإزالة والصرف عن الشيء
((النهاية 3 / 410
“(Secara bahasa maknanya) “Ujian… dan (kata fitnah)
banyak penggunaannya dalam perkara yang tidak disukai, kemudian setelah itu
banyak digunakan untuk makna-makna: dosa, kekafiran, perang, pembakaran,
penghilangan dan memalingkan sesuatu” (An-Nihayah 3/410).
Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu:
الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة : المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر،
والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار
(لسان العرب لابن منظور)
“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah
bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah
bermakna perselisihan pendapat diantara manusia, fitnah bermakna pembakaran dengan api”
(Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).
Apabila fitnah telah datang menimpa, maka dampaknya
akan meluas dan menimpa semua orang secara umum, tidak hanya orang-orang
durhaka dan orang yang melakukan dosa saja atau yang berbuat zalim. Melainkan
bencana dan siksaan itu juga mencakup kesemuanya dan menimpa siapa saja. Tidak
ada yang dapat menolaknya, tidak ada pula yang dapat melenyapkannya. Dan allah
juga memerintahkan agar tidak pernah menjadi orang zalim dan agar senanatiasa menghindari
kezaliman. Salah satu bentuk kezaliman adalah dengan terus menerus melakukan
kebohongan.
Ali ibnu Abu Talhah mengatakan pula dari Ibnu Abbas
dalam riwayat yang lainnya sehubungan dengan tafsir ayat Al-Anfal ayat 25 ini,
bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin, janganlah mereka
menyetujui perkara yang mungkar yang terjadi di hadapan mereka, maka akibatnya
Allah akan menimpakan siksaan secara umum kepada mereka. Artinya secara umum fitnah
akan menimpa para sahabat atau kaum muslimin dan lainnya, sekalipun khitab ini
ditujukan kepada mereka; termasuk menimpa siapa saja dari umat manusia.
Hadis-hadis dari Rasulullah juga telah memperingatkan kita
agar bersikap waspada terhadap fitnah-fitnah. Dalam suatu hadis. Rasulullah
Saw. Bersabda :
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوُا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهم، وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّب اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ
“Sesungguhnya
Allah Swt. tidak akan menyiksa kalangan umum karena perbuatan yang dilakukan-
oleh kalangan khusus, sebelum kalangan umum melihat di hadapan mereka perbuatan
mungkar, sedangkan mereka mampu mencegahnya, lalu mereka tidak mencegahnya.
Apabila mereka melakukan hal tersebut (yakni diam saja melihat perkara
mungkar dikerjakan di hadapan mereka), maka barulah Allah akan mengazab
kalangan khusus (yang terlibat) dan kalangan umum (yang
menyaksikannya).” (HR Imam Ahmad)
Dalam hadis yang lain :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقابا مِنْ عِنْدِهِ، ثُمَّ لتَدعُنّه فَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ"
Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Demi Tuhan Yang
jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaanNya, kalian benar-benar harus
memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau Allah
benar-benar dalam waktu yang dekat akan mengirimkan kepada kalian suatu siksaan
dari sisi-Nya, kemudian kalian benar-benar berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak
memperkenankannya bagi kalian”. (HR Imam Ahmad)
Zurr ibnu Habib Al-Juhanni Abur Raqqad yang mengatakan bahwa ia berangkat bersama maulanya ke rumah Huzaifah. saat itu ia sedang mengatakan, "Sesungguhnya dahulu di masa Rasulullah Saw. ada seorang lelaki yang mengucapkan suatu kalimat, lalu ia menjadi orang munafik. Dan sesungguhnya saya telah mendengar kalimat itu dari seseorang di antara kalian lebih empat kali dalam suatu majelis. Sesungguhnya kalian benar-benar mengerjakan amar ma'ruf dan nahi munkar, dan kalian benar-benar saling menganjurkan kepada kebaikan, atau Allah akan menimpakan kepada kalian semua suatu azab, atau Dia akan menguasakan kalian kepada orang-orang yang jahat di antara kalian, kemudian orang-orang pilihan kalian berdoa, tetapi doa mereka tidak diperkenankan."
Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad. Dia mengatakan:
-يَقُولُ: مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فيها -أو المُداهن فِيهَا -كَمَثَلِ قَوْمٍ رَكِبُوا سَفِينَةً، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا وَأَوْعَرَهَا وَشَرَّهَا، وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوُا الْمَاءَ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَآذُوهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ خَرَقْنا فِي نَصِيبِنَا خَرْقا، فَاسْتَقَيْنَا مِنْهُ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ تَرَكُوهُمْ وَأَمْرَهُمْ هَلَكوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا جَمِيعًا.
“Perumpamaan orang yang menegakkan batasan-batasan
Allah dan arang yang melanggarnya serta orang yang berdiplomasi terhadapnya
sama dengan suatu kaum yang menaiki sebuah kapal laut. Sebagian 'dari mereka
ada yang menempati bagian bawah dari kapal itu, yaitu bagian yang paling tidak
enak dan buruk; sedangkan sebagian yang lain menempati bagian atas (geladak)nya.
Orang-orang yang menempati bagian bawah kapal itu apabila mengambil air
minum harus melalui orang-orang yang bertempat di atas mereka, sehingga mengganggunya.
Akhirnya orang-orang yang tinggal di bagian bawah kapal itu mengatakan,
"Seandainya saja kita membuat lubang untuk mengambil bagian kita hingga
dapat mengambil air dan tidak mengganggu orang-orang yang ada di atas kita.”
Jika orang-orang yang berada di atas membiarkan mereka untuk melakukan niatnya
itu, niscaya mereka semuanya binasa (karena kapal akan tenggelam). Dan
jika orang-orang yang berada di atas mau saling bantu dengan orang-orang yang
ada di bawah mereka, niscaya mereka semuanya selamat.”
Dalam hadis ini, ibarat penumpang kapal, apabila ada
kemaksiatan atau kemungkaran dan hal itu dibiarkan, maka bisa jadi semua
penumpang akan celaka. Namun, apabila ada yang mencegahnya maka semuanya akan
selamat. Seperti itulah gambaran aktivitas untuk mencegah kemungkaran dan
menolaknya.
Imam Ahmad juga meriwayatkan :
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ". فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: "بَلَى"، قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: "يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ"
Rasulullah Saw. bersabda: Apabila
perbuatan-perbuatan maksiat muncul di kalangan umatku, maka Allah menimpakan
azab dari sisi-Nya kepada mereka secara menyeluruh. Ummu Salamah bertanya,
"Wahai Rasulullah, bagaimanakah bila di antara mereka terdapat orang-orang
yang saleh?" Rasulullah Saw. menjawab, "Ya, ikut tertimpa azab
pula." Ummu Salamah bertanya, "Lalu bagaimanakah nasib mereka
selanjutnya?" Rasulullah Saw. bersabda, "Orang-orang saleh itu
ikut tertimpa azab yang menimpa kaumnya, kemudian mendapat ampunan dan rida
dari Allah Swt"
Dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad menyebutkan bahwa:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا مِنْ قَوْمٍ يَعْمَلُونَ بِالْمَعَاصِي، وَفِيهِمْ رَجُلٌ أَعَزُّ مِنْهُمْ وَأَمْنَعُ لَا يُغَيِّرُونَ، إِلَّا عَمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ -أَوْ: أَصَابَهُمُ الْعِقَابُ".
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada suatu kaum
pun yang mengerjakan kemaksiatan, sedangkan di antara mereka terdapat seorang
lelaki yang paling kuat dan paling berpengaruh di antara mereka, lalu ia tidak
mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka secara
menyeluruh, atau Allah menimpakan bencana siksaan kepada mereka.”
Imam Ahmad mengatakan pula:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَل فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، هُمْ أعَزّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُهُ، لَمْ يُغَيِّرُوهُ، إِلَّا عَمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ"
Rasulullah Saw. telah bersabda: Tidak sekali-kali
suatu kaum yang dilakukan perbuatan maksiat di kalangan mereka, sedangkan kaum
itu lebih kuat dan lebih berpengaruh (lebih mayoritas) daripada
orang-orang yang berbuat maksiat, lalu mereka tidak mencegahnya, melainkan
Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka secara menyeluruh.”
Imam Ahmad mengatakan:
عَنْ عَائِشَةَ تَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا ظَهَرَ السُّوءُ فِي الْأَرْضِ، أَنْزَلَ اللَّهُ بِأَهْلِ الْأَرْضِ بَأْسَهُ". قَالَتْ: وَفِيهِمْ أَهْلُ طَاعَةِ اللَّهِ؟ قَالَ: "نَعَمْ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى رحمة الله"
Dari Aisyah yang sampai kepada Nabi Saw. Disebutkan
bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Apabila kejahatan muncul di muka bumi, maka
Allah menurunkan siksa-Nya kepada penduduk bumi. Siti Aisyah r.a. bertanya,
"Bagaimanakah nasib orang-orang yang taat kepada Allah di antara
mereka?" Rasulullah Saw. bersabda, "Ya ikut tertimpa pula,
kemudian mereka beroleh rahmat dari Allah Swt."
Dengan apa yang sudah dijelaskan di atas maka wajib
bagi kita untuk menolak dan mengingkari fitnah dan kezaliman termasuk
didalamnya adalah kebohongan. Wallahu’alam.



Komentar
Posting Komentar