PROSES KONSUMERISME APLIKASI FACEAPP
Jika kita mengunjungi media
sosial belakangan ini sering menemukan banyak wajah teman atau selebritas
favorit yang terlihat menjadi lebih tua. Dan akhirnya akan saling berkomentar
lucu serta membayangkan masa depannya masing-masing.
Rupanya, foto-foto ini diedit
menggunakan FaceApp atau aplikasi untuk mengetahui proses penuaan wajah pada
seseorang. Aplikasi ini sebelumnya pernah viral sekitar dua tahun yang lalu,
tapi versi yang terbaru telah memiliki algoritma dengan efek tua atau muda yang
sudah lebih baik dari sebelumnya.
FaceApp merupakan aplikasi buatan
pengembang asal Rusia Wireless Lab. Aplikasi ini bekerja menggunakan jaringan
neural untuk mengubah wajah yang ada di foto dengan hasil yang cukup realistis.
FaceApp juga bisa digunakan untuk
membuat wajah di foto menjadi tersenyum, terlihat lebih muda, mencoba gaya
rambut baru, bahkan mengubah gender yang ada di foto. Viralnya aplikasi FaceApp
juga diikuti dengan tagar #FaceAppChallenge dan #AgeChallenge. Tagar ini lah
yang belakangan ramai di Twitter dan Instagram, berisikan pengguna yang
berlomba mengirimkan foto tua/muda bergambarkan dirinya atau sosok-sosok
lainnya termasuklah para selebriti.
Dalam teori ekonomi kapitalis,
kekurangan relatif salah satu problem utamanya. Kelangkaan barang dan jasa
merupakan pokok masalah pada sistem ekonomi ini sejak muncul pertama kalinya.
Keberadaan aplikasi FaceApp juga sebagai bentuk untuk mewujudkan dan memenuhi
kebutuhan manusia yang katanya tidak terbatas itu.
Prilaku dan moral masyarakat
sekarang sebagian besar dipengaruhi oleh industri perusahaan. Menabrak aturan
dan norma agama tanpa lagi melihat mana yang boleh dan mana yang tidak kecuali
menyesuaikan dengan undang-undang.
Setelah eksploitasi pekerja dalam
suatu industri. Konsumerisme masyarakat diwujudkan. Karena Masyarakat yang
konsumtif harus ada juga masyarakat produktif pada sisi penerimaan dan
penawaran. Adapun bentuk konsumerisme itu terjadi sebagai berikut :
1. Industri dan Media
Setelah 5-6 hari full bekerja,
untuk melayani keinginan kepentingan suatu industri. Selanjutnya setiap minggu
mereka akan menghabiskan gaji yang diterimanya setelah pemotongan pajak dan
pembayaran utang, sambil menyisakan beberapa untuk pegangan.
Prilaku masyarakat inilah akan
dibentuk dengan media. Mereka akan menerima berbagai cerita dalam bentuk
pendidikan, kesehatan atau wisata. Menghabiskan waktu bersama keluarga sambil
foto bersama adalah suatu hal yang menyenangkan setelah lelah bekerja.
Maka dari itu, dalam dunia
industri, media atau public relation suatu industri juga yang harus dikuasai
atau palng tidak bekerjasama dengan mereka membentuk aliansi. Apabila ada suatu
produk baru yang muncul maka akan dipasarkan melalui berbagai media yang ada
dengan bentuk yang berbeda-beda. Kalau ada yang tidak ikut maka akan
ketinggalan dalam informasinya.
2. Industri dan Pemerintah
Hubungan industri dan pemerintah
harus memiliki hubungan yang hangat dan menyenangkan. Karena pajak yang ditarik
dari masyarakat akan membiayai proses pemasaran produk-produk tersebut. Bahkan
ada juga dana subsidi dicairkan untuk kepentingan industri. Sebut saja dana
talangan pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi.
Atau jangan juga ditanya,
bagaimana para pengusaha membiayai kampanye para penguasa. Kalau perlu
pengusaha ini jadi penguasa, maka pemasaran pun akan menjadi lancar. Minimal
mengurangi beban pokok produksi.
3. Industri dan Selebriti
Semakin lengkap dunia industri
kapitalis dengan adanya tokoh-tokoh fiksi di dunia nyata. Tokoh-tokoh yang
digadang-gadang sebagai makhluk yang bahagia. Padahal dalam hati mereka ada
jeritan yang sedang memberontak
Para selebritis ini kita menyebut
mereka, termasuk tokoh fiksi bahagia yang ikut memasarkan produk barang untuk
para konsumen. Dan masyarakat di bentuk
dalam peribadatan baru, yaitu peribadatan selebritis.
Para pemuja mereka rela
berhari-hari membangun tenda hanya untuk sekedar menunggu pintu gerbang konser
terbuka. Atau berebut tanda tangan dan foto untuk memuaskan keinginan fiksi
tersebut.
Termasuk ketika kejayaan industri
film bermunculan. Naik daunnya film-film fiksi mengisahkan dunia lain menjadi
trending. Film ini menjadi metafora untuk kehidupan nyata. Setelah lelah mereka
bekerja.
Keinginan masyarakat inilah yang
dibentuk dengan pola pikir perkara-perkara sepele yang dibalut dengan
kebohongan. Inilah sifat sejati kapitalisme, yaitu melumpuhkan akal pikiran
manusia.
Dengan proses itu lah kira-kira
FaceApp menjadi viral. Memenuhi keinginan fiksi kita. Kita lupa bahwa umur dan
usia bukan kita yang punya.
Wallahu’alam



Komentar
Posting Komentar