SENYUMAN INDAH DI WAJAH ITU


Jalan di kota Pontianak terbagi-bagi menjadi beberapa ruas. Namun dari banyaknya jalan yang ada, jalan Ahmad Yani orang-orang bilang sebagai jalan utama. Dijalan inilah kita akan melihat masjid raya Mujahidin sebagai masjid yang dibanggakan masyarakat kota Pontianak. Jalan ini juga biasanya sebagai pusat dan titik kumpul aktivitas masyarakat.

Berjalan di sepanjang jalan kota Pontianak yang lenggang lebih leluasa di malam hari, kemacetan di Pontianak belum begitu ruwet sebagaimana yang terjadi di kota-kota besar lainnya. Walaupun kadang kalau sudah macet 5-10 menit saja, biasanya akan ada luapan emosi atau gemerutunya orang-orang yang terjebak didalamnya.

Di sepanjang jalan inilah didalam kepalaku terus berfikir dan berputar. Kadang berfikir tentang rencana apa yang akan dilakukan esok hari. Aktivitas untuk 2-3 hari kedepan bahkan sampai 1-4 minggu berikutnya, dan 5-10 tahun kedepannya.

Sampai juga teringat dengan teman-teman dan sahabat-sahabat di masa lalu dan sekarang. Apalagi dengan sahabat-sahabat seperjuangan, sahabat yang berjuang untuk hidup dan atau yang berjuang membangun peradaban. Bagaimana kehidupan mereka. Dan apa yang mereka lakukan. Bagaimana juga diri ini mengenal islam lebih jauh dan komprehensif tanpa celah kecuali oleh para pemeluknya saja.

Teringat juga para guru-guru dan teman-teman terbaik yang begitu semangatnya menjelaskan islam kepadaku. Islam yang tiada duanya. Islam yang betul-betul jadi solusi. Dalam kepalaku dapat tergambarkan dan membayangkan bagaimana penerapan islam tersebut. Padahal belum pernah melihat penerapannya secara langsung. Inilah yang dimaksud telah terinternalisasinya mabda islam ke dalam dirinya.

Makanya ketika mendengar cerita kebahagiaan mereka diri ini juga ikut senang. Jangankan melihat langsung, mendengar cerita secara langsung atau dari teman ke teman tentang kehidupan yang bahagia saja sudah cukup membuat diri ini juga bahagia. Hidup tetap harus dijalani, kita sendiri yang memilih kehidupan ini. Memang kita sudah dilupakan telah memilih hidup ini, namun Allah Maha Tahu maka diingatkan lagi melalui para utusannya. Dan diteruskan oleh orang-orang setelahnya.

Akhirnya diatas suatu alat yang membakar bensin didalam mesin untuk memutar penggerak dua roda ini, terlintas kondisi umat islam dibelahan bumi lain masih mengalami kesulitan. Di antara mereka ada sekelompok anak-anak yang selalu menyampaikan senyumnya, siapapun yang melihat pasti akan ikut tersenyum, karena menangkap pesan ikhlas didalam diri mereka. Dan mereka Anak-anak yang sedang terjajah menghadapi kerakusan manusia, namun senyum mereka tetap ikhlas.

Pikiranku terus melayang, sampai di masa Rasulullah dan para sahabat. Membayangkan perjuangan mereka, dan bagaimana pula senyum-senyum itu ketika semuanya benar-benar telah menepati janjinya kepada Allah swt. Sekali lagi senyum itu yang menghiasi wajah dan perjuangan mereka. Padahal bertemu saja belum, namun perasaan ikut merasakan terjadi ketika kisah-kisah itu bermunculan dalam kepala.

Hidup memang singkat. Tidak terasa. Terngiang-ngiang bagaimana suara  masa kecil bermain dan tertawa, di saat para jamaah sholat sedang ruku untuk menunaikan rakaatnya. Senyum itu juga ternyata aku miliki.

Allah juga telah menitipkan anak-anak kecil itu kepada diri ini. Sekali lagi senyuman mereka terasa lepas, tidak ada beban. Tanpa dosa mereka tertawa, kadang di selingi dengan tangisan kecil, tangisan itu pun membuat diri ini tersenyum.

Malam ini tidak berbeda dengan malam lainnya yaitu mencoba menunaikan niat seseorang. Tetap berpacu di dunia fana, berlomba dengan malaikat rakib dan atid, dalam rangka merajut kebersamaan. Sekali lagi niat itu didampingi dengan senyuman indahnya. Ya senyum indah di wajahnya.

Senyum. Itulah yang kita nantikan. Di saat senyum itu mendampingi kematian, dan di saat timbangan amal yang sudah kita lakukan. Senyum ketika meniti jalan menuju ke tempat akhir perjalanan ini. Senyum karena kita telah benar-benar menepati janji kita kepada pemilik kehidupan. Senyum itulah yang seharusnya kita raih. Senyum karena telah meraih keuntungan hasil dari berjual beli di jalan dakwah. Dapatkah aku memiliki senyum indah di wajah itu nantinya? Semoga senyum itu juga ada pada diriku. Wa ma tawfiqi illa billah.

Komentar

Postingan Populer