Hikmah Puasa di Tahun 1434 H



30 Agustus 2013
Kebanyakan dari kita pasti ingin kehidupan yang lebih baik, ingin mendapatkan pahala dan dimasukkan ke dalam surga. Namun ketika kita diminta mengikuti jalan untuk mendapatkan itu semua, banyak yang malah menyepelekan. Bahkan banyak yang merasa tidka yakin dengan jalan tersebut. “Selama bisa hidup lakukan saja yang bisa kita lakukan”, slogan ini juga sering kali kita dengar. Namun kita lupa tidak semua hal harus kita lakukan, karena ada yang boleh dan ada yang tidak boleh, termasuk slogan “lakukan saja yang terbaik”, masalahnya versi terbaik setiap orang berbeda-beda. Makanya untuk mengatasi itu semua islam datang memberikan batas antara yang baik dan yang buruk, antara yang haq dan yang bathil. Namun banyak dari kita yang meragukan, apakah mungkin islam memberikan jawaban-jawaban terkait keinginan kita tersebut?
Seiring berjalannya waktu tidak terasa sudah lama juga kita meninggalkan bulan ramadhan. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari bulan puasa kemarin. Hal ini juga sudah sering para alim ulama dan tokoh agama mengingatkan kepada kita beberapa hikmah di bulan Ramadhan. Namun untuk menjawab pertanyaan diatas, apakah mungkin islam itu memberikan jawaban atas masalah-masalah kita setidaknya ada 2 hal penting yang bisa kita ambil pelajaran.

Pertama,  Allah swt berfirman
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : Katakanlah (Muhammad) : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Dari ayat ini kita ketahui bahwa bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi dia tidak menempuh jalan Rasulullah (Muhammad) maka dapat dikatakan sebagai pembohong. Mengikuti nabi berarti mengikuti semua perkataan dan perbuatan serta diamnya Rasul. Hal ini berarti terkait erat dengan syariat islam atau aturan islam, Rasulullah bersabda :
من عمل عملا ليس عليه اْمرنا فهو ردّ
“barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak”
Oleh karena itu, Allah berfirman : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu (mencintaimu)”, maksudnya kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kita kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kita, dan ini lebih besar daripada kecintaan kita kepada-Nya. Seperti yang diungkapkan sebagian ulama ahli hikmah mengatakan :
ليس الشأ ن أن تحبّ إنّما الشأ ن أن تحبّ
“yang jadi permasalahan bukanlah jika engkau mencintai, tetapi permasalahannya adalah jika engkau dicintai”.
Lalu apa balasan dari cinta kita kepada Allah dengan mengikuti Rasulullah, balasan tersebut adalah Allah akan mengampuni dosa kita. Dan kita akan mendapatkan keberkahan-Nya. Hal ini dengan jelas Allah nyatakan dalam lanjutannya, “niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Ini adalah perkara iman, yang tidak bisa ditawar lagi, ketika kita masih ragu, maka kita perlu berfikir dengan seksama dari mana semua kehidupan ini berasal.
Lantas bagaimana cara kita megikuti Rasulullah? Tentu saja kita harus memahami dan mendalami ajaran yang dibawanya yaitu islam. Islam memberikan seperangkat aturan yang berguna bagi kita dalam mengarungi kehidupan ini. Berbagai persoalan, dan berbagai permasalahan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar kita yaitu kebutuhan jasmani dan naluri juga sudah dijelaskan. Tinggal kita saja yang mau atau tidak mengikuti petunjuk tersebut.
Kedua, adalah kesabaran. Kesabaran dalam menjalani kehidupan ini mutlak harus diperlukan. Sabar dalam mentaati Allah dan rasul-Nya, kesabaran dalam menjauhi larangan-Nya, kesabaran ketika menghadapi ujian dan masalah, kesabaran dalam menanti keputusan yang Allah berikan kepada kita, hingga kesabaran mengakhiri hidup ini dengan yang lebih baik. Tentu saja kesabaran tidak cukup hanya dengan ucapan dimulut saja, kesabaran juga harus dibarengi dengan sikap atau tindakan.
Sikap dan tindakan inilah yang harus kita jaga, sikap dalam rangka mencari jalan sesuai kemampuan yang sudah Allah berikan kepada kita, termasuk menggunakan seluruh potensi yang kita miliki. Termasuk menjaga sikap kita agar tidak keluar dari apa yang Rasulullah perintahkan sesuai dengan ayat tadi. Dari sinilah Allah akan melihat diri kita ini, apakah termasuk hamba-Nya yang layak diampuni oleh Allah ketika tidak ada ampunan lagi di hari akhir.
Wallahua’lam bisshowab
Referensi :
DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq ,Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Imam Syafi’I, 2004.

Komentar

Postingan Populer