Sisi Politis Dakwah di Madinah yang dilakukan oleh Mushab bin Umair


11 Juni 2013

Beliau adalah pemuda quraisy dari kalangan terpandang. Keluarganya termasuk bangsawan pada masa itu. Mushab bin Umair merupakan seorang pemuda yang cerdas dan tampan. Ketampanan beliau sangat dikagumi para wanita di daerahnya. Bahkan beliau disebut-sebut sebagai pemuda yang paling rapi rambutnya dan paling halus pakaiannya. Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum”.[1]

Namun semua itu berubah, ketika dia menyatakan dirinya masuk Islam. Semua yang dia dapati dari keberadaannya sebagai anak bangsawan dilepas olehnya dalam rangka menjaga keutuhan dan kemurnian agama yang baru dipeluknya tersebut. Beliau lebih memilih surge dan gelar dari Allah swt.
Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Madinah itu hendak kembali dari bai’at aqabah pertama, Rasulullah saw mengutus Mush’ab bin ‘Umair menemani mereka. Mush’ab diperintahkan beliau agar membacakan Al-qur’an, mengajarkan Islam, dan member pemahaman agama kepada mereka. Sehingga dinamakan Muqarri’ Madinah : Mush’ab. Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah.”[2]
Peran penting Mush’ab bin umair adalah tatkala Rasulullah mengutusnya ke madinah untuk membacakan dan mengajarkan Alqur’an kepada masyarakat disana. Pertanyaan pentingnya adalah mengapa Rasul tidak mengutus sahabat-sahabat yang memiliki kemampuan lebih baik semisal Abu Bakar, Umar atau yang lain. Berikut beberapa hal sisi politis dakwah di madinah yang dilakukan oleh Mush’ab bin Umair  yang bisa kita ambil ibrahnya dan diaplikasikan dalam praktik dakwah masa kini :
1.       Menyampaikan perkara iman dan islam bukan yang lain. Perkara yang disampaikan oleh Mush’ab bin Umair adalah tentang Islam, keberadaan Allah, rasul dan Alqur’an. Tiga perkara pokok masalah keimanan ini merupakan perkara yang penting. Karena keislaman masyarakat Madinah akan sangat teruji ketika diminta untuk mengorbankan harta, keluarga, tahta, bahkan jiwanya dalam rangka membela Rasulullah. Bahkan saat Rasulullah hijrah ke Madinah, banyak dari mereka yang tidak mengenal beliau, ini menandakan penanaman aqidah merupakan perkara pokok, tanpa melihat dan bertemu dengan Rasul seperti masa-masa sekarang ini.

2.       Kemapuan beretorika dengan baik dan lembut. Mush’ab bin Umair merupakan orang yang sangat lihai beretorika, bantahan lawan bicaranya dibalikkan dengan hal sama namun sangat tidak kelihatan, lihatlah pernyataannya ketika beliau di usir saat memberikan penjelasan Islam bagi orang-orang Madinah. Saat Mush’ab diusir, malah mengembalikan kalimat pengusiran tersebut dengan mencukupkan hal kebencian dari lawan bicaranya.
Usaid bin Hudhair berkata, “Apa yang kalian bawa kepada kami? Kalian hanya akan membodohi orang-orang lemah kami! Menyingkirlah kalian dari kami, jika memang kalian memiliki kepentingan yang berhubungan dengan diri kalian sendiri!” Mush’ab berkata “Atau sebaiknya enkau duduk dan mendengarkan dulu? Jika engkau menyukainya maka engkau bisa menerimanya. Dan jika engkau membencinya, maka cukuplah bagimu apa yang engkau benci”[3]
3.       Berinteraksi dengan masyarakat, dengan melakukan kontak yang terencana. Pergerakan Mush’ab bin Umair sangat cepat dan serius. Dia tidak pernah berhenti mengajak orang-orang kepada Islam. Terutama para tokoh-tokoh penting yang ada di Madinah, yang dengan keislamannya, kaum yang berada di belakang tokoh tersebut tidak ada yang akan menentang Mush’ab jikalau tokoh tersebut mengikuti perkataan Mush’ab untuk masuk Islam. Sehingga tidak satu pun rumah kaum Anshar kecuali di dalamnya dihuni laki-laki dan wanita-wanita Muslim. Semua level masyarakat didatangi dengan mengetuk pintu masyarakat, menyampaikan dakwah Allah kepada mereka. Dia mendatagi kebun-kebun untuk melakukan kontak dengan para petani saat mereka bekerja dan mengajak mereka masuk islam. Dia juga menemui pemilik tanah dan mengajak mereka kepada agama Allah. Dia melakukan gerakan yang terencana untuk meraih target dan menggunakan berbagai sarana yang untuk berhubungan dengan masyarakat, sehingga mampu menggiring mereka untuk mendengar suara kebenaran. Kemampuan kontak dan berinteraksi dengan masyarakat inilah merupakan sisi politis dakwah untuk meraih dukungan, dan merupakan perkara yang penting.

4.       Memiliki kemampuan menggambarkan perkembangan dakwah. Karena kecerdasan yang dimiliki oleh Mush’ab in Umair, Rasul mempercayai kemampuannya untuk memberikan laporan secara detail dan gambaran yan lengkap mengenai perkembangan dakwah di Madinah. Ketika musim haji tiba setelah satu tahun berlalu, Mush’ab kembali ke Makkah dan menceritakan kepada Rasul tentang kaum Muslim, kekuatan mereka, berita-berita islam, dan perkembangan penyebarannya. Dia juga menggambarkan masyarakat Madinah kepada rasul, yaitu tidak ada hal lain yang terwacanakan di tengah-tengah masyarakat kecuali islam. Memiliki gambaran yang lengkap dan mendetail merupakan hal yang sangat urgent bagi para pengemban dakwah agar dapat menentukan langkah dan target dakwah selanjutnya guna mencapai tujuan yang diinginkan.

5.       Dakwah berjamaah. Perkara yang disampaikan Mush’ab, dan pergerakannya merupakan dakwah berjamaah diatas kontrol dari Rasulullah. Mush’ab tidak berinisiatif sendiri untuk terjun ke Madinah, melainkan karena dapat perintah dari Rasul. Hal ini menandakan aktivitas tersebut adalah aktivitas dakwah berjamaah yang memiliki target dan tujuan penting. Tidak cukup dengan aktivitas dakwah dengan slogan yang penting menyampaikan. Hal tersebut memang iya, tetapi lebih efektif, efisien dan lebih baik adalah dakwah yang memiliki target dan tujuan.
Reference :


Komentar

Postingan Populer