Masa depan Mesir
Oleh : Wandra Irvandi
12 Juli 2013
12 Juli 2013
Setelah kurang lebih setahun berkuasa, Presiden Mesir
Muhammad Morsi akhirnya dipaksa mundur oleh pihak militer dan oposisi dengan
aksi kudeta militer. Banyak berbagai analis politik membuat analisa mengapa
Mursi bisa didepak dari kekuasaannya. Salah satunya adalah Adnan Khan pengamat
politik timur tengah ini mengatakan paling tidak ada 4 hal mengapa Mursi bisa
digulingkan. Pertama, pemerintah
yang didominasi IM (Ikhwanul Muslimin) - mewarisi perekonomian yang sudah di
ambang kehancuran. Kurangnya roadmap ekonomi yang jelas membuat situasi
ekonomi yang lebih buruk. Kedua, Morsi gagal untuk menenangkan banyak oposisi, yang siap mengambil setiap kesempatan untuk melemahkan kekuasaannya. Ketiga, rezim Morsi telah dilanda dengan ketidaktegasan dan ketidakmampuan untuk menangani masalah-masalah mendesak karena tidak memiliki visi besar. Dan keempat,
IM telah menunjukkan mereka tidak memiliki kesadaran politik dengan memasukkan proses politik yang didirikan oleh Gamal Abdul Nasser adalah dengan kekuatan tentara untuk mempertahankan kekuasaan.[1]
Dengan lengsernya Morsi, semakin membuktikan
bahwa kekuasaan di Mesir berada di tangan militer. Siapapun yang menang dalam
pemilu tahun lalu yang memiliki wajah demokrasi tetap akan tunduk di bawah
pengaruh militer.[2] Keraguan-raguan dalam posisi politik dari Ikhwanul Muslimin-IM
dan Muhammad Morsi semakin memudahkan dilengserkan oleh masyarakat yang menginginkan
islam dan dimanfaatkan juga oleh kalangan liberal. IM menguasai parlemen dengan
kemenangan pada pemilu 2012 lalu setelah lebih dari 80 tahun berjuang di Mesir,
namun kemenangan ini tidak menjelaskan posisi IM dan Morsi sebagai kalangan
islamis yang dicap “fundamentalis” tetapi mengambil posisi sebagai kalangan “moderat”.
Menyatakan diri ingin menerapkan syariah islam ternyata belum bisa dilakukan di
tahun-tahun awal, melakukan pinjaman dengan lembaga dunia seperti IMF[3],
membantu penutupan terowongan gaza[4],
serta berbagai kebijakan lainnya untuk meraih pengaruh dunia ternyata belum
cukup mempertahankan posisi kekuasaan.
Paling tidak ada beberapa kelompok yang memiliki peran
politik kunci di Mesir. Diantaranya adalah kalangan militer, Ikhwanul Muslimin,
Tamaroud[5],
Tajarroud[6],
Al-Nour Salafi dan
Partai-partai Salafi, Front Keselamatan Nasional, Alazhar dan Gereja Koptik.[7] Saat ini kalangan militer memiliki pengaruh
yang cukup kuat disamping posisinya dikendalikan Amerika dan UU yang diberlakukan
membuat militer memiliki kekuasaan penuh. Namun kekuasan tersebut hanya
bersifat sementara, mereka beserta barat harus segera mencari penggantinya agar
meredam gejolak masyarakat Mesir. Karena siapapun yang memahami masalah
kekuasaan, akan dapat dipahami bahwa masyarakat lah yang memiliki kekuasaan
bukan militer ataupun kelompok-kelompok.[8]
Dari beberapa
peristiwa di atas, paling tidak ada beberapa kemungkinan politik masa depan
yang terjadi di Mesir, antara lain : pertama, terjadi “chaos” antara IM
dengan kalangan militer. Namun hal ini tentu saja dihindari oleh kalangan IM[9], karena upaya IM agar sejalan dengan opini
barat yaitu berposisi sebagai islam “moderat” yang mengusung demokrasi sebagai
jalan perubahan, bahwa islam bisa sejalan dengan demokrasi. Dan kalaupun
terjadi tentu saja diwakili oleh kelompok islam lainnya bersama para pemuda dan
masyarakat, berarti “chaos” antara masyarakat dengan kalangan militer seperti
yang terjadi di Suriah, namun kejelasan politik mengenai arah perubahan mutlak
diperlukan, kalau tidak ada, maka hanya mengulang penggulingan masa rezim
Mubarak saja.
Kedua, IM mengikuti proses pemilu yang akan datang,
mencoba mengambil suara rakyat kembali dengan slogan Islam. Peluang ini akan
sangat kecil didapatkan, selain masyarakat semakin meuncul kesadaran politik,
tentu saja bagi kalangan liberal dan opisisi tidak akan pernah menerima
kehadiran IM sebagai pesaing politik mereka. Namun melihat fenomena di berbagai
negara pasca kudeta militer misalnya Argentina, Venezuela,
Turkey, dan Thailand penguasa sebelumnya
akan bisa kembali memimpin setelah menghadapi kudeta militer[10], paling tidak peluang ini bisa terjadi.
Sekaligus hal ini dimanfaatkan oleh barat dengan berupaya membangun kembali
citra islam “moderat” tapi dengan catatan bahwa penguasa terpilih tersebut bisa tunduk pada arahan mereka.
Ketiga, munculnya penguasa baru yang merupakan boneka
barat dan Amerika, saat ini Hakim Agung Adly Mansour menjadi
presiden sementara yang bisa jadi dilanjutkan selama barat belum menemukan
penggantinya. Sosok oposisi pemerintahan pada diri Mohammad El-Baradei
sepertinya dianggap mewakili masyarakat Mesir. El-baradei juga dianggap
representasi dari Al-azhar dan Kristen koptik.[11]
Namun kekuasaan Baradei harus mampu meredam Morsi dan IM serta dengan cepat
melakukan rekonsiliasi pemerintahan, perekonomian dan yang paling penting
adalah konstitusi baru dalam hal perundangan-undangan. Namun gejolak masyarakat
yang semakin sadar akan membuat rencana ini sedikit menghadapi tantangan.
Keempat, munculnya opini tentang syariah islam
semakin tampak nyata[12].
Seperti kita ketahui bersama bahwa sebelum revolusi, Mesir tunduk kepada
Amerika. Dewan Militer juga sebagai pengganti Mubarak merupakan agen Amerika.
Tetapi masyarakat dan pemuda Mesir beraksi bahwa mereka menginginkan islam.
Ketika datang pemilu, muncul partai-partai yang mengusung slogan-slogan islam. Jadi masyarakat memlih mereka dan masyarakat
sebenarnya menghendaki Islam. Tetapi Amerika berupaya memotong jalan ini yaitu
jalan yang ditawarkan oleh islam yang shahih. Amerika mengopinikan islam
“moderat” dan islam “kompromistis” yang direpresentasikan oleh IM.[13]
Masyarakat saat ini paham bahwa IM tidak menerapkan
Islam. Mereka paham bahwa IM tidak merealisasikan rencana yang sempurna
yang hakiki. Jadi, IM mengalami kegagalan, tetapi Islam tidak
gagal. Masyarakat saat ini akhirnya mencari siapa yang mengusung dan
memiliki rencana yang sempurna. Karena itu para aktivis islam yang mengusung
islam yang shahih memiliki tanggung jawab besar untuk menjalin kontak kepada
masyarakat secara berpengaruh sehingga bisa merekrut mereka ke barisan dakwah.[14]
Tantangannya adalah media-media dan opini di tengah-tengah masyarakat. Baik
opini yang sudah mengakar seperti nasionalisme hingga demokrasi dan opini yang
diciptakan bahwa perubahan cukup dengan pergantian rezim saja. Dari kemungkinan
yang ada semuanya berlomba dan berkejaran dengan waktu.
Wallahu’alam
Reference of :
[5] Tamaroud - yang berarti pemberontakan dalam
bahasa Arab, adalah kekuatan pendorong di belakang protes yang menyebabkan
berakhirnya masa kepresidenannya Morsi. Kelompok ini didirikan pada bulan April
oleh anggota Gerakan Mesir untuk Perubahan, sebuah kelompok yang menentang
Mubarak bahkan sebelum revolusi 2011. Kelompok ini terkait dengan ketidakpuasan
para pemuda atas politik Mesir, dan memperoleh dukungannya melalui kampanye
media sosial dan dukungan dari kelompok yang lebih tradisional di jalanan. Kelompok
ini mengklaim mengumpulkan 22 juta tanda tangan dalam petisi yang menuntut
Morsi mundur. Antara lain, petisi yang menyalahkan Morsi atas: meningkatnya
kriminalitas, keadaan miskin ekonomi Mesir, dan tumbuhnya pengaruh Amerika
Serikat atas urusan dalam negeri Mesir. Tamaroud adalah bagian dari Gerakan
Front 30 Juni, sebuah koalisi perlawanan atas aturan dan pengaruh Ikhwanul
Muslimin. Para pemimpinnya bergabung dengan melakukan diskusi mengenai
konstitusi baru dan pembentukan pemerintahan baru.
[6]
Untuk menanggapi Tamaroud yang diklaim mencapai 22 juta tanda tangan yang
menuntut diberhentikannya Morsi, para pendukung presiden meluncurkan kampanye
petisi saingan yang disebut "tajarroud" yang berarti
"ketidakberpihakan" dan protes terorganisir di Kairo. Pada bulan
Juni, kampanye perlawanan ini diklaim telah menerima 10 juta tanda tangan yang
mendukung Morsi. Namun, Shehab Wagih, juru bicara Partai Mesir Merdeka (Free
Egyptian Party) dan anggota Front Keselamatan Nasional Kairo mengatakan bahwa
"tidak ditemukan" di jalan-jalan Mesir adanya petisi Tajarroud –
namun petisi Tamarroud yang malah berlimpah.
[8] http://ivanacmblog.blogspot.com/2012/06/masyarakat-mesir-yang-memiliki.html
baca juga : Dukhulul Mujtama’ oleh : Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani.
[13]
ibid
[14]
ibid


Komentar
Posting Komentar