Teknik-teknik Menganalisa Berita atau Peristiwa Politik
31 Juli 2013
Beberapa hari yang lalu, di awal bulan Ramadhan. Saya berkesempatan untuk mengisi acara untuk kaderisasi seperti latihan dasar kepemimpinan pada sebuah organisasi tertentu. Tentu saja hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena tema yang diangkat berkaitan dengan analisis politik kontemporer. Tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana para peserta mampu memiliki kemampuan menjadi seorang analis politik yang tidak terjebak pada politik pragmatis. Tentu saja ini menjadi tantangan karena penulis menyadari kemampuan diri yang masih belum cukup serta materi yang disampaikan merupakan materi yang tinggi dan sulit.
Beberapa hari yang lalu, di awal bulan Ramadhan. Saya berkesempatan untuk mengisi acara untuk kaderisasi seperti latihan dasar kepemimpinan pada sebuah organisasi tertentu. Tentu saja hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena tema yang diangkat berkaitan dengan analisis politik kontemporer. Tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana para peserta mampu memiliki kemampuan menjadi seorang analis politik yang tidak terjebak pada politik pragmatis. Tentu saja ini menjadi tantangan karena penulis menyadari kemampuan diri yang masih belum cukup serta materi yang disampaikan merupakan materi yang tinggi dan sulit.
Ternyata
kesulitan lain di lapangan adalah tidak adanya layar infokus yang memadai,
padahal sudah menyiapkan diri dengan slide power point dan waktu yang diberikan
kurang lebih 3 jam. Bicara mengenai analisa politik, dengan papan white board,
merupakan kesulitan tambahan, karena diharuskan berbicara sepanjang waktu
dengan mencoba tidak membuat para peserta bosan. Hal ini menjadi pelajaran
bahwa kesiapan didalam otak kita lebih penting dibanding alat bantu lainnya.
Untuk
menjadi orang yang mampu memiliki kemampuan menganalisa suatu peristiwa atau
berita politik, tentu saja ada beberapa hal yang harus kita pahami. Antara lain
pengertian politik itu sendiri. Politik menurut beberapa pendapat para pakar
dan ahli bisa kita pahami dari berbagai sumber buku dan literatur. Namun dari
semuanya itu merujuk pada satu defenisi bahwa politik terkait erat dengan sistem
pengaturan kehidupan masyarakat yang dilakukan oleh kekuasaan dalam bentuk
negara atau masyarakat itu sendiri.
Sementara
itu pengertian politik dalam perspektif islam dinyatakan dalam bahasa arab
dengan istilah سياسة (baca :
siyasah) yang berarti; mengurusinya, melatihnya dan mendidiknya. Dan juga
sejalan dengan hadist Rasul : “Adalah bani israil, mereka diurusi urusannya
oleh para nabi (tasusuhumul anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi
yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak
khalifah”. (HR Bukhari dan Muslim). Berarti politik makna awalnya mengatur
urusan masyarakat. Berkecimpung dalam politik berarti memperhatikan kondisi
kaum muslimin dengan cara menghilangkan kezaliman dan melenyapkan kejahatan
musuh.
Berfikir
Politis
Berfikir
politis adalah berfikir pada teks-teks politis. Berbeda dengan berfikir tentang
teks-teks hukum, teks-teks sastra dan teks-teks pemikiran. Berfikir politis
merupakan jenis kegiatan berfikir paling tinggi dan paling sulit. Yang dimaksud
paling tinggi karena berfikir politis menuntut berfikir segala hal dan
peristiwa, sedangkan berifikir paling sulit adalah bahwa berfikir politis tidak
memiliki kaidah atau patokan tertentu.
Agar kita
dapat berfikir polits paling tidak ada syarat-syarat yang harus dimiliki agar
kita mampu berfikir politis, antara lain :
1.
Mengikuti secara terus-menerus seluruh berita
peristiwa yang terjadi di dunia dan mempertimbangkan berita yang memang harus
diketahui mata rantainya, misalnya, peristiwa amandemen keempat UUD 45 sejak
1999. Tentu saja kita harus mengetahui sejak amandemen yang pertama hingga yang
keempat.
2.
Membutuhkan
adanya pengetahuan-pengetahuan awal atau dasar tentang substansi berita
misalnya pengetahuan tentang geografi, sejarah, ideologi, pemikiran politik,
dsb. Misalnya, disaat kita ingin
memahami apa yang terjadi pada konflik di Palestina, tentu saja harus memahami
sejarah, geografi dan ideologi pada permasalahan tersebut.
3.
Tidak
melepaskan peristiwa atau berita dari konteks-konteks situasi dan kondisinya,
serta tidak menggeneralisasi atas peristiwa atau berita. Tidak melepaskan
peristiwa atau berita dari konteks-konteks situasi dan kondisinya, misalnya
berita mengenai bantuan 50 juta dolar AS untuk memerangi terorisme dianggap
bantuan yang saling menguntungkan. Padahal ini sejalan dengan program AS dalam
“global on terrorism”. Sedangkan tidak menggeneralisasi peristiwa,
misalnya mengopinikan “agama sebagai sumber konflik” untuk kesimpulan dalam
kasus yang terjadi di Ambon, dan Israel – Palestina. Padahal ada masalah lain yaitu
berkenaan dengan sasaran politik dan ekonomi politik dari kapitalis.
4.
Mengidentifikasikan
peristiwa dan kejadian dengan cara memeriksanya secara teliti sehingga dapat
diketahui sumber berita, tempat terjadinya, tingkat kepercayaan berita, dsb
intinya pemeriksaan secara teliti. Misalnya, diisukan bahwa dalang peristiwa
peledakan WTC adalah Usamah bin Ladin, hal ini tentu saja harus diteliti lebih
lanjut dan lebih mendalam.
5.
Mengaitkan
berita dengan berbagai informasi, terutama informasi berupa berita-berita yang
lain. Misalnya, sebuah berita ekonomi bisa dikaitkan dengan berita politik.
Atau bantuan AS ke Filipina sebanyak 55 jt dollar untuk memerangi terorisme domestic
dikaitkan dengan berita pernyataan AS bahwa adanya militan-militan di
tempat-tempat yang mengkhawatirkan. Ternyata diindikasikan tempat-tempat yang
mengkhawatirkan tersebut berada di daerah Asia Pasifik. Termasuk Filipina dan
Indonesia.
Tapi
syarat-syarat di atas tidak bisa dilepaskan dari asas berfikir seseorang yaitu
berfikir secara sistemik dan ideologis. Apabila Kesadaran politik yang dibangun
seseorang dengan benar maka akan melibatkannya dalam proses perjuangan politik
yang hakiki, yakni dakwah. Dengan menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan dan
menjadikan Islam sebagai “The Way Of Life” akan terbangun secara benar
tentang kesadaran politik.
Menguasai
Teknik Analisa Politik
Setelah
kita memahami mengenai politik, dilanjutkan dengan syarat-syarat agar kita
dapat berfikir politis. Maka yang terakhir kita memiliki teknik-teknik atau cara
untuk menganalisa suatu peristiwa atau berita politik. Pengertian politik dalam
Islam disinggung diawal yaitu bermakna pengaturan, pengurusan dan pemeliharaan
berbagai urusan masyarakat dengan tatanan yang sesuai dengan Islam di dalam
negeri maupun di luar negeri. Pemeliharaan urusan umat dalam negeri
dilakukan dengan penerapan seluruh hukum dan peraturan yang merupakan bagian
dari ideologi islam. Sementara untuk urusan umat di luar negeri dilakukan
dengan dakwah dan jihad.
Pelaksana
praktis pemeliharaan urusan umat ini adalah negara. Karena memang negara yang
memiliki kekuasaan. Sedangkan umat dan partai politik aktivitasnya adalah
dengan melakukan koreksi dan menasehati penguasa atau negara ketika lalai dalam
pengaturan urusan umat dengan islam. Hal ini sejalan dengan firman Allah di
dalam Al-qur’an surah Ali Imron ayat 104 yang menyatakan : “Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung”.
Setelah
kita memahami apa itu politik dan syarat-syarat agar kita dapat berfikir politis,
maka pembahasan kali ini adalah teknik-teknik agar kita dapat menganalisa suatu
peristiwa atau berita politik. Dan perlu kita pahami juga tidak selamanya suatu
analisa itu tepat 100%, tetapi paling tidak lebih tepat mendekati. Karena suatu
peristiwa politik bisa berubah dengan cepat dalam hitungan jam bahkan menit.
Adapun teknik-teknik menganalisa peristiwa atau berita politik antara lain :
1.
Faktor
pribadi politis
Yang
pertama adalah diri kita sendiri, kita harus terus mengupgrade atau
meningkatkan kemampuan. Dalam meningkatkan kemampuan, paling tidak kita harus
menyiapkan dua hal;
a.
Mempunyai
pisau bedah peristiwa, yang berarti kita mempunyai alat
untuk membedah peritiwa tersebut. Dan alat yang dapat membedah suatu peristiwa
tidak lain kita harus mempunyai cara pandang atau ideologi. Sebab suatu
peristiwa politik mempunyai sudut pandang ideologi tertentu.
b.
Validasi
peristiwa politik, maksudnya adalah kita harus betul-betul
menerima kevalidan suatu peristiwa atau berita. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus 5W + 1 H, yaitu What (apa yang sedang terjadi), Where (dimana
peristiwa tersebut terjadi), Who (siapa saja yang telibat), When (kapan waktu
kejadiannya), Why (mengapa hal itu bisa terjadi), dan How (bagaimana peristiwa
tersebut bisa terjadi).
2.
Faktor
obyek Politik
Meliputi
obyek atau kerangka pemahaman, antara lain :
a.
Input
fakta politik, maksudnya ketika kita menerima
fakta politik harus diketahui sumber fakta fakta tersebut, latar belakang person
atau seseorang yang menyampaikan, kaitan dengan peristiwa sebelumnya, selain
itu juga dapat mengetahui sejarah sebelum kejadian yang meliputi dokumen
politik dan arsip sejarah.
b.
Proses
politik, artinya kita mengetahui apa-apa
saja yang melingkupi sebuah fakta politik. Dalam hal ini ada dua hal yaitu
secara eksternal dan internal. Misalnya peristiwa peledakan bom bali,
peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi disaat bom itu meledak, ungkapan
saksi mata, rekaman-rekaman atas peristiwa itulah disebut sebagai proses
politik.
c.
Output
politik, adalah merupakan hasil dari fakta
politik, hal ini terkait isi pernyataan dan siapa yang mengungkapkan. Bahkan, kalau
perlu kita memahami makna per kalimat dan per kata isi dari pernyataan
tersebut. Misalnya, pernyataan presiden G.W.Bush ketika berencana ingin
menggempur Irak. Sebagai kepala negara tentu saja memiliki peluang lebih besar
dalam merealisasikan rencana tersebut dibandingkan Colin Powell (Menhan AS).
Karena kepala negara memilki kekuasaan diatas menteri pertahanan. Beberapa
catatan penting antara lain yang harus kita perhatikan juga adalah;
-
Membentuk
lingkungan politik, maksudnya berarti pemahaman terhadap lingkungan politik,
terkait dengan fakta tetapi tidak berpengaruh secara langsung terhadap fakta,
misalnya pendapat para tokoh yang ahli di bidangnya, ahli bom memberikan
gambaran tentang bom bukan dari pengamatan politik tetapi pencermatan mendetail
tentang bom itu sendiri. Unsur-unsur bom hingga daya ledaknya. Berarti kita
memerlukan kategorisasi person-person yang berhubungan dengan sebuah peristiwa,
apakah termasuk pengamat, para ahli atau tokoh negara.
-
Klasifikasi
negara-negara di dunia juga sangat penting. Ada beberapa pembagian yaitu negara
poros, negara pengikut, dan negara yang dipengaruhi. Negara mana yang punya
pengaruh dan menjadi rujukan bagi negara lain ini harus diklasifikasikan agar
kita memiliki gambaran tentang kebijakan negara tersebut.
-
Memahami
garis-garis besar strategi dari sebuah negeri adidaya juga salah satu pemahaman
yang minimal kita ketahui. Karena biasanya negara-negara di dunia sejalan
dengan garis-garis besar yag telah dibuatnya.
3.
Faktor
pengaitan peristiwa
Sebanyak apapun berita yang dikumpulkan jika
tidak bisa mensintesa (baca:mengaitkan) menjadi sebuah analisa politik maka
tidak akan berguna. Pengetahuan ini harus selalu diasah, yaitu pengetahuan
untuk selalu mengaitkan peristiwa dan menganalisa peristiwa tersebut. Bisa
dimulai dari kategorisasi berita, melihat tmaslahat yang bermain, yang akhirnya
ditentukan oleh kategorisasi tingkat kepentingan dari negara yang berpengaruh.
Kemampuan inilah yang harus terus-menerus dilatih. Semakin sering dia mengasah
kemampuannya, maka semakin mendekati ketepatan analisa yang dilakukannya.
Wallahu’alam bis showab
Penulis : Wandra Irvandi
Referensi :
1.
Kurnia,
M.R. “Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif”. Al-Azhar
Press.2004.
2.
Kamus
al-munawwir.
3.
An-Nabhani.
“Hakekat Berpikir”. Pustaka Thoriqul Izzah.2010.
4.
Muhammad
Husain Abdullah. “Mafahim Islamiyah”. Al-Izzah.2003.


Tulisannya sangat bagus mas. semoga banyak yang bisa menyimak dan mempraktikkannya dengan baik pada era seperti ini
BalasHapus