Meruntuhkan Virus-virus Liberalisme
27 Februari 2013
Juga sabda beliau
Paradigma normative diganti dengan paradigma historis, sehingga hukum bisa berubah-rubah tergantung waktu dan tempat. Inilah yang digunakan untuk membedah hukum-hukum islam, sama seperti halnya yang digunakan oleh barat. Padahal barat tidak memiliki nilai yang absolute. Relativisme kebenaran dan relativisme nilai adalah cara pandang utama dalam kehidupan mereka.
Bagaimana menjinakkannya
Pemikiran liberal yang berkembang saat ini tentu saja mempengaruhi pemikiran-pemikiran umat islam. Banyak umat islam yang juga terpengaruh sehingga memiliki angapan-anggapan yang salah. Menganggap bahwa islam adalah agama budaya dan sejarah yang bisa berkembang sesuai dengan waktu dan tempat. Padahal Islam adalah agama wahyu bukan agama sejarah dan bukan pula agama yang dibentuk oleh budaya manusia. Ini bisa dibuktikan dengan adanya Alquran sebagai mukjizat yang tidak pernah ada yang bisa menandingi, sehingga kalau memang Islam agama budaya dan sejarah tentu saja Alquran akan mudah berubah dan berkembang. Bukti lainnya adalah dengan adanya hukum Islam yang tidak berubah sepanjang masa, misalnya kewajiban sholat, puasa dan sebagainya.
Kesalahan lain dari pemikiran liberal yaitu dengan beranggapan bahwa islam tidak mengajarkan toleran, tidak menghormati keragaman budaya dan sebagainya. Padahal hanya agama Islamlah yang bisa menyatukan berbagai bangsa dan suku, tanpa membeda-bedakan keragaman. Islam juga yang pernah membuat sejarah bagaimana agama-agama selain dari agama Islam bisa hidup tenang dan tentram di masa kekhilafahan. Berbeda di saat sekarang ini ketika Islam tidak lagi berkuasa, menjadi kaum yang selalu disalahkan dan tempat untuk mencari “kambing hitam”.
Pergerusan penggunaan istilah dan bahasa juga mempegaruhi pemikiran islam. “Deislamisasi of language”, bahasa yang rusak akan mengakibatkan rusaknya pemahaman dan kerusakan ilmu. Penggunaan istilah demokrasi islami, islam yang demokratis, atau demokrasi yang sesuai dengan islam merupakan contohnya. Istilah-istilah emansipasi wanita, ‘bias gender’, merupakan isu yang diangkat untuk mengangkat derajat kaum wanita. Padahal Islam tidak pernah memiliki pandangan merendahkan wanita seperti halnya barat, jadi wanita tidak perlu diangkat dan dipermasalahkan, sama halnya dengan laki-laki. Satu individu dalam Islam merupakan hal yang sama dan sangat penting tanpa memandang laki-laki atau perempuan, tanpa melebihkan yang satu dengan yang lainnya, yang hanya berbeda pada pembagian peran saja.
Dalam pemikiran barat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan bukan hal yang fitri atau kodrati, akan tetapi merupakan konstruk sosial – budaya. Sedangkan dalam Islam pembagian peran bukan menunjukkan tinggi-rendahnya martabat manusia. Antara laki-laki dan perempuan yang berbeda hanyalah ketakwaannya, jadi peran itu sesuatu yang fitrah dan kodrati.
Sering juga pemikiran orang-orang liberal ini tidak konsisten dan kontradiktif. Kekontradiktifannya pemikiran liberal dapat dilihat sebagai berikut, di satu sisi menyatakan bahwa ajaran islam tidak universal dan merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya, pada saat yang sama, mereka mengimani bahwa paham kesetaraan gender, HAM, Demokrasi, Pluralisme, dan sebagainya adalah bersifat universal dan harus jadi titik acuan. Bagi orang yang tidak ikut pada pemikiran ini, maka orang tersebut dianggap salah, jadi mereka mengklaim kebenaran sendiri dan menyalahkan klaim kebenaran dari orang lain. Padahal Islam tidak hanya klaim tapi juga dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak ada kebenaran yang mutlak, hanya Allah yang benar, sehingga manusia tidak berhak untuk saling menyalahkan. Hanya Allah yang tau mana yang benar jangan menjadi hakim bagi orang lain, penganut paham ini juga sering tidak konsisten. Sebab menyalahkan orang lain yang tidak sependapat dengan pernyataan tersebut. Islam menganggap pemikiran ini sangat keliru karena Allah telah menurunkan wahyunya kepada manusia melalui nabi dan rasul untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Islam memberikan panduan bagaimana kita bisa membedakan kebenaran dan kesalahan. Jika tidak paham kebenaran bagaimana mau berjuang dan bersikap? Apa yang diperjuangkan kalau benar menurut pemikiran masing-masing?
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa orang-orang liberal ini selalu menonjolkan ketidakkonsistenan berfikir, kontradiktif dan memiliki prinsip tidak bisa disalahkan (klaim benar sendiri). Sering juga memanipulasi data dengan cara tidak mengungkap semuanya hanya sebagian saja yang menurut mereka sesuai dan sejalan dengan pemikirannya. Pada satu sisi mengklaim kebenaran, tapi pada saat yang sama dia juga menyalahkan orang yang tidak sejalan dengan pikirannya. Seseorang boleh menyalahkan orang lain, tetapi melarang orang lain menyalahkan dia, ini lah ketidak konsistenannya. Sebenarnya jika mau jadi liberal sejati sebaiknya diam saja, dan terimalah pemikiran apapun dari orang lain, dan jangan menyalahkan.
Wallhu’alam
Reference
Pemikiran-pemikiran liberal
Diawali dari kerangka relitivisme tafsir (penafsiran yang
relative atau tidak mutlak) yang memiliki arti tidak ada yang benar kecuali
hanya Tuhan, merupakan salah satu kerangka berfikir orang-orang liberal. Dalam
relativisme penafsiran sesuatu harus dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan
historis baik dari sisi waktu maupun tempat. Artinya dalam menafsirkan
ayat-ayat ataupun hadis tergantung waktu dan tempat, sehingga bisa terjadi
perubahan hukum dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Secara kasat
mata seakan-akan metode tafsir seperti ini benar, namun dalam Islam sudah
memiliki kerangka dan metode tersendiri untuk menafsirkan wahyu.
Relativisme tafsir merupakan salah satu diantara virus-virus
yang meracuni pemikiran dan pemahaman umat islam. Beberapa virus lainnya adalah
parenialisme (tradisionalisme), multikulturalisme, pluralisme, relativisme,
humanisme sekuler, feminisme dan gender, islam eksklusif, HAM dan Demokrasi, serta
relativisme kebenaran. Dan yang lebih disayangkan lagi, dari kalangan umat
islam sendirilah yang mengembangkan pemkiran-pemikiran racun tersebut terutama
para ulama dan kaum intelektualnya. Rasulullah saw. juga sudah pernah
mengingatkan,
“Yang merusak umatku adalah orang alim yang durhaka dan
ahli ibadah yang bodoh. Seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk dan
sebaik-baik manusia adalah ulama yang baik” (HR Ad-Darimi)
Juga sabda beliau
“Termasuk di antara perkara yang aku khawatirkan atas
umat ku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya
orang munafik tentang Al-Qur’an.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban)
Di dunia pendidikan khususnya pada pendidikan di IAIN,
kualitas mahasiswa, nilai-nilai pragmatisme, frame work dan metodologi studi
islam yang belum terumuskan serta sarana dan prasarana terutama perpustakaan
adalah hal-hal yang masih kurang untuk pengembangan pemikiran islam di kampus.
Selain itu skripsi dan tesis masih bersifat skeptis dan agnostic terhadap
kebenaran, karena masih berpedoman terhadap pernyataan manusia tidak akan tahu
kebenaran sejati, yang tahu kebenaran hanya Allah.
Paradigma normative diganti dengan paradigma historis, sehingga hukum bisa berubah-rubah tergantung waktu dan tempat. Inilah yang digunakan untuk membedah hukum-hukum islam, sama seperti halnya yang digunakan oleh barat. Padahal barat tidak memiliki nilai yang absolute. Relativisme kebenaran dan relativisme nilai adalah cara pandang utama dalam kehidupan mereka.
Salah satu virus liberalisme yang merasuk di tengah – tengah
umat islam adalah permasalahan gender. Sosialisasi pengarusutamaan isu gender mulai
berkembang masa-masa sekarang di abad ke-19 ini. Dengan memandang wanita sebagai
pihak yang selalu tertindas, maka dari itu mulailah mencoba mengangkat derajat
wanita dengan isu gender. Sejarah di dunia barat, eropa dan yunani memang
paradigma tentang wanita yang terjadi adalah selalu menjadikan wanita sebagai
kaum marjinal dan kaum kelas dua,
sehingga metode konstruksi sosial dan historis digunakan untuk merubah paradigma
tersebut. Metode ini lah yang diadopsi oleh umat islam. Dengan melihat
perkembangan pemikiran di barat, ditambah perkembangan teknologi akhirnya
menjadi terbuai dan mulai mengambil cara-cara berfikir tersebut.
Virus lainnya yang dikembangkan adalah islam eksklusif.
Diantara ciri-ciri Islam eksklusif menurut Fatimah husein dalam
penelitian-penelitian dan disertasi pada program S-2 lintas agama UGM (CRCS/Center
for Religion dan Cross Cultural Studies adalah :
- Islam eksklusif menerapkan model penafsiran literal terhadap Alquran dan Sunnah dan berorientasi pada masa lalu. Karena menggunakan pendekatan literal maka ijtihad bukanlah peran sentral dalam kerangka berfikir.
- Keselamatan hanya bisa dicapai melalui agama islam. Islam adalah agama final yang datang untuk mengoreksi agama-agama lain. Karena itu agama islam untuk menggugat autentisitas kitab suci agama lain.
Sedangkan ciri-ciri islam inklusif adalah sebagai berikut :
- Karena agama islam adalah agama yang berkembang, maka menerapkan metode kontekstual untuk menafsirkan dan memahami Alqur’an dan sunnah, melakukan reinterpretasi teks-teks asas dalam islam, dan ijtihad berperan sentral dalam pemikiran mereka
- Kaum inklusif memandang, Islam adalah agama terbaik bagi mereka, namun mereka berpendapat bahwa keselamatan di luar agama islam adalah hal yang mungkin.
Pemikiran liberal lainnya adalah dengan mengagungkan
pernyataan pandangan terhadap kenetralan agama. Dengan pendapat netral agama
ini akan memunculkan kerukunan antar umat beragama, karena tidak ada yang
saling sikut-menyikut dan bersaing antar pemeluk agama yang satu dan yang
lainnya. Islam juga perlu menghapus doktrin-doktrin yang arogan karena merasa
benar sendiri dan menyalahkan orang lain.
Bagaimana menjinakkannya
Pemikiran liberal yang berkembang saat ini tentu saja mempengaruhi pemikiran-pemikiran umat islam. Banyak umat islam yang juga terpengaruh sehingga memiliki angapan-anggapan yang salah. Menganggap bahwa islam adalah agama budaya dan sejarah yang bisa berkembang sesuai dengan waktu dan tempat. Padahal Islam adalah agama wahyu bukan agama sejarah dan bukan pula agama yang dibentuk oleh budaya manusia. Ini bisa dibuktikan dengan adanya Alquran sebagai mukjizat yang tidak pernah ada yang bisa menandingi, sehingga kalau memang Islam agama budaya dan sejarah tentu saja Alquran akan mudah berubah dan berkembang. Bukti lainnya adalah dengan adanya hukum Islam yang tidak berubah sepanjang masa, misalnya kewajiban sholat, puasa dan sebagainya.
Kesalahan lain dari pemikiran liberal yaitu dengan beranggapan bahwa islam tidak mengajarkan toleran, tidak menghormati keragaman budaya dan sebagainya. Padahal hanya agama Islamlah yang bisa menyatukan berbagai bangsa dan suku, tanpa membeda-bedakan keragaman. Islam juga yang pernah membuat sejarah bagaimana agama-agama selain dari agama Islam bisa hidup tenang dan tentram di masa kekhilafahan. Berbeda di saat sekarang ini ketika Islam tidak lagi berkuasa, menjadi kaum yang selalu disalahkan dan tempat untuk mencari “kambing hitam”.
Pergerusan penggunaan istilah dan bahasa juga mempegaruhi pemikiran islam. “Deislamisasi of language”, bahasa yang rusak akan mengakibatkan rusaknya pemahaman dan kerusakan ilmu. Penggunaan istilah demokrasi islami, islam yang demokratis, atau demokrasi yang sesuai dengan islam merupakan contohnya. Istilah-istilah emansipasi wanita, ‘bias gender’, merupakan isu yang diangkat untuk mengangkat derajat kaum wanita. Padahal Islam tidak pernah memiliki pandangan merendahkan wanita seperti halnya barat, jadi wanita tidak perlu diangkat dan dipermasalahkan, sama halnya dengan laki-laki. Satu individu dalam Islam merupakan hal yang sama dan sangat penting tanpa memandang laki-laki atau perempuan, tanpa melebihkan yang satu dengan yang lainnya, yang hanya berbeda pada pembagian peran saja.
Dalam pemikiran barat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan bukan hal yang fitri atau kodrati, akan tetapi merupakan konstruk sosial – budaya. Sedangkan dalam Islam pembagian peran bukan menunjukkan tinggi-rendahnya martabat manusia. Antara laki-laki dan perempuan yang berbeda hanyalah ketakwaannya, jadi peran itu sesuatu yang fitrah dan kodrati.
Sering juga pemikiran orang-orang liberal ini tidak konsisten dan kontradiktif. Kekontradiktifannya pemikiran liberal dapat dilihat sebagai berikut, di satu sisi menyatakan bahwa ajaran islam tidak universal dan merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya, pada saat yang sama, mereka mengimani bahwa paham kesetaraan gender, HAM, Demokrasi, Pluralisme, dan sebagainya adalah bersifat universal dan harus jadi titik acuan. Bagi orang yang tidak ikut pada pemikiran ini, maka orang tersebut dianggap salah, jadi mereka mengklaim kebenaran sendiri dan menyalahkan klaim kebenaran dari orang lain. Padahal Islam tidak hanya klaim tapi juga dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak ada kebenaran yang mutlak, hanya Allah yang benar, sehingga manusia tidak berhak untuk saling menyalahkan. Hanya Allah yang tau mana yang benar jangan menjadi hakim bagi orang lain, penganut paham ini juga sering tidak konsisten. Sebab menyalahkan orang lain yang tidak sependapat dengan pernyataan tersebut. Islam menganggap pemikiran ini sangat keliru karena Allah telah menurunkan wahyunya kepada manusia melalui nabi dan rasul untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Islam memberikan panduan bagaimana kita bisa membedakan kebenaran dan kesalahan. Jika tidak paham kebenaran bagaimana mau berjuang dan bersikap? Apa yang diperjuangkan kalau benar menurut pemikiran masing-masing?
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa orang-orang liberal ini selalu menonjolkan ketidakkonsistenan berfikir, kontradiktif dan memiliki prinsip tidak bisa disalahkan (klaim benar sendiri). Sering juga memanipulasi data dengan cara tidak mengungkap semuanya hanya sebagian saja yang menurut mereka sesuai dan sejalan dengan pemikirannya. Pada satu sisi mengklaim kebenaran, tapi pada saat yang sama dia juga menyalahkan orang yang tidak sejalan dengan pikirannya. Seseorang boleh menyalahkan orang lain, tetapi melarang orang lain menyalahkan dia, ini lah ketidak konsistenannya. Sebenarnya jika mau jadi liberal sejati sebaiknya diam saja, dan terimalah pemikiran apapun dari orang lain, dan jangan menyalahkan.
Wallhu’alam
Reference
1.
Dr. Adian Husaini, “Virus
Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam”, Gema Insani Press, 2009.
2.
Taqiyuddin An-Nabhani,
“Daulah Islam”, HTI-Press, 2002.
3.
Wandra Irvandi,
“Liberalisasi Di balik RUU KGG” makalah pada diskusi
RUU KKG di KMMTP UGM, 13 April 2012
4.
Wandra Irvandi,
“Liberalisme--Alat dan Strategi penjajah
hancurkan islam, merusak bangsa” makalah pada acara OBSESI di Masjid kampus UGM,
15 Mei 2012.


Komentar
Posting Komentar