Pentingnya Menjadi Muslim Yang Sesungguhnya
4 Januari 2013
Di tengah-tengah kehidupan sekulerisme (yang memisahkan
urusan agama dengan urusan dunia) sekarang ini, memiliki pedoman dan arahan
dalam hidup sangatlah penting agar tidak terjerumus ke dalam kubangan dosa dan
kebingungan. Mengapa tidak, di berbagai sisi kehidupan manusia kebanyakan sudah
melepaskan dirinya dari urusan akhirat. Berbicara ekonomi sudah menuju
kapitalisme, di bidang politik menjadi orang yang opurtunisme, pendidikan
membentuk prilaku yang individualisme, budaya hidup masyarakat cenderung
hedonisme, ditambah masalah agama muncul anggapan pluralisme (semua agama
benar).
Seorang muslim sudah diberikan pedoman dalam hidupnya,
apabila dengan memegang teguh pedoman tersebut insyaAllah akan diberikan
keselamatan dunia dan akhirat. Di dalam Al-qur’an Allah telah berfirman : “Kami
telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan
segala sesuatu.” (TQS. An-Nahl [16] :89). Rasulullah saw. juga bersabda : “Aku
telah meninggalkan dua perkara yang menyebabkan kalian tidak akan sesat
selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan
Sunnah Nabi-Nya.” (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).
Dari dua nash diatas, tampak jelas bahwa islam dengan
syariahnya telah mengatur segala urusan tanpa kecuali; mulai dari hubungan
manusia dengan penciptanya – dalam konteks akidah dan ibadah semisal shalat,
puasa, zakat, haji dan jihad; mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri
seperti dalam urusan pakaian, makanan dan akhlak; hingga hubungan manusia
dengan sesamanya seperti dalam urusan pemerintahan, ekonomi, sosial,
pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya. Secara konseptual semuanya
telah diatur oleh islam dengan sejelas-jelasnya.
Jadi janganlah kita menjadi ragu dan bingung tentang
bagaimana hidup. Apakah semua perkara kehidupan manusia dari dulu hingga
sekarang sudah ada aturannya? Jawaban pasti tentu saja ada, karena islam dan
aturannya tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat. Jangan juga membuat
pernyataan “apakah ada dalil dalam alquran dan assunnah?”, karena tanpa
ditanyakan jawaban tersebut tetap ada. Para ulama telah mendalami bagaimana
caranya menggali dalil dalam alquran dan hadis untuk menghukumi perbuatan pada
manusia dan benda sesuai dengan yang dituntun oleh Rasulullah dan para
sahabatnya.
Setiap aktivitas manusia pasti memiliki hukum, bahkan sudah
sangat jelas mana yang haq dan mana yang bathil. Sebagai seorang muslim kita
tentu harus mengetahui terlebih dahulu hukum suatu perbuatan sebelum melakukannya.
Inilah yang dilakukan sahabat ketika belum tau tentang suatu perkara, maka
bertanya kepada Rasulullah, dan Rasul sendiri kadang bisa menjawab namun di
suatu waktu menunggu wahyu dari Allah swt. Ketika urusan agama ini sudah
selesai diturunkan berarti semua permasalahan manusia sudah pasti selesai dalam
arti sudah ada solusi atas setiap permasalahan termasuk perkara-perkara
kekinian.
Sehingga menjadi seorang muslim haruslah merujuk ketuntunan
yang sudah diberikan, “Maka demi Rabbmu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak
beriman sebelum mereka menjadikan kamu
(Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang engkau
berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (TQS. An-Nisa [4]
: 65). Inilah konsep kehidupan yang tiada duanya, konsep yang sangat sederhana
namun kadangkala dibuat rumit oleh manusia itu sendiri. Ini
juga yang menjadi jawaban atas pertanyaan, “bagaimana menjadi muslim
sesungguhnya?” yaitu dengan senantiasa merujuk pada petunjuk Allah dan Rasul. Cukup hanya Allah dan RasulNya lah urusan hidup ini kita
serahkan. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah
seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang
memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi
antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
(TQS. Al-Anfal [8] : 24).
Wallahua’lam.


Komentar
Posting Komentar