Islam dan Peradaban Barat

23 April 2013

Peradaban Barat Modern

Disaat keberadaan negara Islam tidak ada yang berfungsi sebagai benteng untuk menjaga akidah dan moral umat maka dari itu umat islam sendirilah yang harus mewaspadai peradaban-peradaban barat yang bisa merusak akidah dan moral saat berinteraksi dan memperlajari ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat.

Barat memiliki peradaban yang sangat merusak pemikiran dan tingkah laku manusia karena akidah yang dianutnya adalah akidah sekulerisme dan memegang prinsip kebebasan individu yang absolute. Kebebasan individu yang diberikan telah membuat mereka jatuh kedalam jurang yang dalam dan tidak dapat lagi menyelamatkan diri sendiri. Semakin terjerembab bahkan mengajak orang-orang disekelilingnya ikut merasakan.


Menurut DR Adian Husaini didalam bukunya Wajah Peradaban Barat, beliau menyatakan “Logika kebebasan individu--asal tidak merugikan orang lain ini telah menjebak Barat dan masyarakat sekular lainnya untuk menerapkan hukum yang berdasarkan pada 'hak individu', seperti dalam kasus hukum zina. Jika zina dihalalkan oleh masyarakat dan negara, lalu apa logikanya negara mau mengharamkan homoseksual?[1]

Beliau melanjutkan “Jika masyarakat sudah dibuat tidak meyakini kebenaran ajaran agama, maka yang akan dijadikan pegangan adalah akal manusia semata atau hawa nafsu mereka. Tidak ada standar kebenaran. Pada ketika itulah masyarakat akan terseret ke dalam arus nilai yang serba relatif dan temporal. Kebenaran tergantung pada kesepakatan. Agama tidak diberi hak untuk campur tangan untuk menentukan baik dan buruk di tengah masyarakat”.[2]

Berikut ini beberapa peradaban Barat yang harus diwaspadai oleh kaum muslimin saat kaum muslimin berinteraksi dan mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat :

1. Pergaulan Bebas


Permisifisme (paham serba boleh) merupakan pangkal dari kerusakan moral dan akhlaq ummat manusia saat ini, sehingga perlu diwaspadai dan ditangkal. Kehidupan yang individualistik dan bebas tanpa batas, sehingga menabrak aturan-aturan Islam serta tak lagi memperhatikan halal dan haram telah menimbulkan akumulasi kerusakan yang belum pernah dialami sepanjang sejarah ummat manusia. Salah satu tingkah laku kebebasannya adalah pergaulan bebas yang dianut oleh setiap orang. Hubungan seks tanpa batas antara laki-laki dan perempuan telah membudaya, seakan-akan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi layaknya kebutuhan pokok manusia. Tidak hanya itu, pergaulan bebasa sesame jenis semakin memperburuk kondisi moral manusia melebihi rusaknya umat manusia di zaman nabi Luth. Prilaku homoseks dan lesbianisme telah merasuk hingga ke jenjang perkawinan dan menjadi kaum yang dilindungi oleh UU. Dampak dari prilaku pergaulan bebas ini menyebabkan timbulnya berbagai jenis penyakit kelamin dari skala kecil hingga yang terbesar yaitu AIDS.

2. Rusaknya Hubungan Keluarga

No Child Double Income yaitu suatu ajaran dari materialisme yang menolak utk memiliki anak berdasarkan banyak investasi yang harus dikeluarkan, artinya jika tak punya anak maka pendapatan akan bisa dinikmati sepuasnya.[3] Children without Parents/broken home, yaitu fenomena anak-anak yang tak mendapatkan perhatian dari orangtuanya, sehingga mencari perhatian dgn menghambur-hamburkan uang, narkoba, tawuran, sex bebas, dan sebagainya.[4]

Fenomena lainya mengenai kerusakan institusi keluarga di Barat yang sudah sedemikian parahnya, adalah terjadinya saling tuntut antara suami istri yang bercerai. Tingkat perceraian yang tinggi membuat runtuhnya bangunan sebuah kelaurga sebagai basis pendidikan utama anak-anak.  Di sisi lain, etika antara orang tua dan anak serta antar keluarga tidak lagi memperhatikan satu sama lain, saling acuh tak acuh, bahkan muncul sikap egoism dan individualism.

3. Workaholic dan Party

Sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi oleh negara-negara barat mendorong semua orang untuk terus berproduksi tanpa memperhatikan pemasalahan distribusi. Karena berasumsi bahwa permasalahan ekonomi terletak pada produksi barang dan jasa. Selanjutnya setiap orang akan berupaya memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja. Budaya kerja yang tidak mengenal waktu untuk mengejar target produksi, bonus dan membayar pajak yang sangat menyesak, menjadikan masyarakat barat tidak lagi memperhatikan hal lain kecuali bekerja. Ketika ada waktu sela setelah bekerja full time yang tiada henti dimanfaatkan untuk party(baca:pesta), dengan berbagai macam jenisnya. Minuman keras, drugs, dan seks “one night” sudah menjadi kebiasaan di akhir weekend bagi mereka. Hal tersebut menyebabkan keadaan mereka seperti orang yang sia-sia. Bekerja di siang hari, dan membuangnya di malam hari, ditambah lagi dengan prilaku mereka semakin masuk ke lembah yang dalam.

Allah swt berfimran, “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” TQS. Al Kahfi (18): 103-105).

4. Perang dan Penjajahan

Dalam sejarah peradaban manusia, peradaban barat lah yang paling banyak menuai catatan sejarah dalam peperangan.[5] Perang merupakan metode dan budaya barat dalam rangka meraih tujuan dan kepentingannya guna memuaskan nafsu serta keinginan individu yang melampaui batas. Mereka juga menerapkan penjajahan untuk mengeruk kekayaan negeri-negeri yang dijajahnya. Sebelum era abad 20-an sekarang ini, metode penjajahan lebih cenderung kearah kolonialisme, dengan membentuk koloni-koloni daerah jajahan, seiring berjalannya waktu setelah beberapa negeri melakukan perlawanan, para panjajah merubah metode penjajahannya dengan membentuk negeri-negeri boneka dengan gaya kapitalisme didalamnya, hingga menuju kea rah liberalism dan neo liberalisme pada masa-masa sekarang ini.

Namun perlu kita ingat bahwa apa yang meraka lakukan tidak akan bermanfaat bagi diri mereka apalagi bagi orang lain. Allah sdah menyatakan di dalam alqur’an:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al Furqan (25): 23)

Dalam ayat yang lain:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An Nuur (24): 39).

Di sisi lain umat islam semakin tergerus pemikiran dan kekuatannya kecuali dengan tetap memegang teguh aqidah islam dan selalu merujuk pada kitabullah dan sunnah rasulullah. Hal ini lah yang menjadikan umat islam bisa bangkit secara pemikiran dan peradaban sehingga menjadi umat yang terbaik di seluruh penjuru bumi dalam rangka menegakkan kalimah Laailahaillah Muhammadarrasulullah.

Wallahu’alam


Reference of

Komentar

Postingan Populer